Selasa, 30 Desember 2014

-

kita adalah dua orang berbeda
yang tak saling mengenal untuk perlahan memiliki debar yang sama
debar yang berpacu karena cinta
cinta yang perlahan menghadirkan rindu
rindu yang kadang menghadirkan kamu dalam,
bentuk bayang nyata padahal
itu hanya imajinasiku saja?

apakah memang begitu cara rindu menggila?

Selasa, 04 November 2014

Aku

Aku mengada debu pada sebuah barangkali
Diantara angan dan asa yang diharap nyata
Menyeka linang pada segelintir yang tumpah
Mencerca setiap kata yang terucap tanpa celah
Membinasakan detik demi waktu yang tersisa

Aku mengadu pada setiap yang mengganggu
Tertawa atas segala yang menduri kelabu
Menyipit dengan sendu mengelabui tawa
Menjadikan asa sebagai nyata
Dan mematikan nyata untuk sebuah angan

Awan Hitam & Cahaya

Awan hitam menggelayuti pagi
Menenggelamkan niat mentari untuk menyapa,
Embun pagi yang sedang bercerita tentang malam panjangnya
Sinarnya mulai menyeruak, jatuh mengangin pada tanah tak bertuan
Diantara beberapa puing batu dikerubungi lumut
Meronta menjelajahi lebih dalam ke bawah sana
Meminta untuk menerobos,
Menapaktilasi tempat yang sudah terilas
Mencari lorong waktu untuk enyah ke masa lalu
Demi menembus jutaan tahun cahaya
Awan hitam mewajah cemburu
Memeluk langit meniadakan cahaya
Agar cahaya tetap tinggal 
Dan berhenti mencari jejak masa lalu
Yang pada akhirnya hanya membuat kelu diserta pilu

Sabtu, 27 September 2014

Matamu

Aku suka menatap langit malam
Serupa gelap matamu yang menyapa sepi

Aku suka menatap rona senja
Serupa binar matamu ditengah jelaga

Kesedihan

Bibir ranumnya tersenyum dengan manis
Siapa yang tahu itu hanya sebuah pemanis
Matanya berbinar sepi
Memandang lekat pada hati yang telah mati

Derita Nestapa

Kaki lusuhnya berlumur darah
Tak sengaja menginjak duri yang terbawa angin
Meringis, menangis
Namun bukan karena perih di kakinya
Luka ini tak seberapa dari beban hidupnya
Ia tak kuat menahan derita nestapa
Dan memilih mati dirundung sepi



Gina Zahra Anjani

Bayang

Bayang itu semu menutup pilu
Menghilang setelah terguyur sepi
Kemanakah perginya bayang itu?
Bayang ringkih yang terukir di dinding yang hampir roboh
Bayang itu tak pernah lagi kembali
Setelah puas membuat retak dinding yang tak berdosa
Dinding yang hampir roboh itu semakin rapuh
Semakin berdebu
Seperti bayang yang terus berlalu
Dan mati ditengah sepi

Barangkali

Barangkali aku hanya butir diantara milyaran pasir
Menyatu bersama air hilang di samudera
Membelah laut menyeiramakan detak

Barangkali aku hanya tepian daun yang terjerat duri
Gelisah meronta mencabut diri
Meniadakan rasa menghilangkan asa

Rabu, 06 Agustus 2014

Hujan Musim Kemarau

Ada apa dengan hujan di musim kemarau?
Tiba-tiba menjelma menjadi sebuah tanya tanpa ada sahut
Serupa hati yang membeku dalam sebuah pelukan
Menusuk tiap hening yang tersisa
Hening yang sengaja kau ciptakan
Hening yang senantiasa meninabobokan rindu
Tapi tahukah engkau, bahwa rindu ini tak mudah dininabobokan
Mungkin tidak ada lagi kata dalam ucapmu
Hanya sebuah isyarat pertanda pilu
Dan aku yakin itu bukan sebuah kelu
Mengapa kau ciptakan hujan di musim kemarau?
Layak ruang yang kau ciptakan dalam sebuah peti mati yang sempit
Memaksa untuk menepi hingga lebur yang tersisa

Bagiku kamu adalah hujan
Tapi bagimu, aku hanyalah kemarau
Kemarau membutuhkan hujan
Tapi sepertinya hujan tidak menginginkan kemarau
Serupa benang tak kuat menahan layangan tinggi,
Aku mencoba membiarkanmu pergi
Membiarkan hujanmu membanjiri kemarauku
Sampai pada akhirnya,
Kau tenggelam dalam hujan yang kau buat
Aku tak bisa berbuat apa-apa
Karena pada saat itu, 
Kemarau telah pindah untuk berbagi musim dengan hujan yang lain




Kamis, 10 Juli 2014

[CERPEN] PERSINGGAHAN part 2


 “Aku masih bingung, apa yang membuatmu menyukai hujan? Hujan cuma bikin macet dimana-mana. Belum lagi, kita jadi susah kalau mau pergi.” Mario menatap gadis itu dengan tatapan menyelidik. Raina hanya menutup mulutnya seraya menahan tawa.
  
 “Hmm, kenapa, Ya? Seru aja, kalau hujan kan jadi gak panas. Kalau panas aku juga jadi malas pergi kemana-mana.” Gadis itu menenggak habis cokelat panasnya yang sudah mulai dingin, “Kapan-kapan kita harus berjalan menyusuri genangan air saat hujan, Ya.”
  
 “Ya tetep aja kalau hujan kan becek, males deh.” Mario menautkan ke sepuluh jarinya dibawah dagu.
  
 Raina tidak menjawab apapun, karena tidak ada pertanyaan yang terlontar dari mulut Mario, dan memang tidak ada alasan jelas mengenai kecintaannya terhadap hujan. Dia suka hujan, sudah.
  
 “Kamu kenapa suka tiramisu?”
  
 “Tiramisu? Kenapa, ya? Aku suka tiramisu karena dia salah satu kue yang menggambarkan kehidupan.”
  
 “Kenapa begitu?” Kali ini Raina yang menopang dagunya.
  
 “Rasa kue tiramisu itu ada manisnya, pahitnya, ada asamnya juga dari kopinya. Sama kayak kehidupan, kita gak boleh ngerasain kehidupan atau ngeliat kehidupan dari satu sisi. Kalau kita cuma ngeliat dari satu sisi, kita gak akan tahu gimana sisi-sisi yang lain. Kalau kita tahu semuanya, kalau digabungin pasti kita jadi bisa ngerti dan peduli dengan keadaan disekitar kita.”
  
 Raina hanya mengangguk dan ber-oh panjang mendengar pria dihadapannya tersebut.
  
 “Kalau kamu, kenapa suka cokelat panas?”
  
 “Cokelat panas, Ya?”
  
 “Iya.”
  
֍

 “Na, aku kangen. Apa kamu ngerasa hal yang sama?” 
  
 Mario menghela nafas berat, ia berusaha kuat meskipun hatinya ringkih dan rapuh, meskipun hatinya hanya ditembokki dengan kaca yang mudah pecah bila terdesak terus-menerus. 
  
 Seandainya waktu dapat diputar kembali, itu adalah pengandaian bodoh dari orang-orang yang hanya ingin diam di tempat. Tapi bukan salah Mario jika kakinya tertahan di satu tempat karena ia memang tidak berencana untuk singgah. Lalu, apa ini salah Raina? Ataukah ini salah jarak dan waktu? Mengapa waktu dan jarak sampai hati memisahkan kedua sejoli itu, dengan sudi ia membangun benteng tinggi diantara mereka. 
  
 Mengapa jarak tidak bisa berkompromi sedikit? Mengapa waktu juga segan berkompromi barang sedikit saja agar luka dihati mario bisa terobati sedikit? Barangkali waktu dan jarak memang tidak bisa berkompromi, waktu akan terus berjalan dan jarak tidaklah mudah ditempuh. Menggapai surga terlalu tinggi untuk seorang yang masih hidup. Kini bukan hanya waktu dan jaraklah yang mengasingkan mereka. Namun dimensi turut andil menyimpan duka.
  
 Mario bangkit dari tempat tidurnya, ia memeluk kakinya dan menenggelamkan wajahnya. Ia tidak menangis, ia hanya terbawa suasana. Memorinya terus-menerus menguak habis ingatannya, kenangan yang ingin sekali ia simpan rapat dan menguncinya. Namun, Mario belum siap melakukan semua itu. Barangkali takdir atau memang nasibnya begitu. Ia bukan pecundang, namun saat ini kata itu hampir tepat menggambarkan keadaannya. 
  
 Mario mengambil sebuah foto berfigura dari atas mejanya. Di figura itu terlihat ia dan Raina sedang tersenyum lebar. Mata gadis itu begitu teduh, mata itu adalah salah satu hal yang sangat ia rindukan dari gadis itu. 
  
 “Apa yang salah dari kita? Kenapa kamu ke surga duluan, Na?”
  
 Mario kembali berbaring di tempat tidurnya, dibawanya figura itu dan didekapnya dengan erat. Ia mencoba memejamkan matanya yang terlihat lelah, sampai akhirnya semesta membiarkannya terlelap.
  
 Waktu seperti berjalan mundur, Mario merasa tubuhnya terhempas sangat jauh hingga ia mencapai lubang hitam. Ia bangkit mencari-cari penyebab keberadaannya disini. Rupanya, cahaya sedikit memberi petunjuk. Ia mengikuti secercah cahaya itu hingga ia sampai diujung lorong pertama, lalu ia meneruskan perjalanannya kali ini tanpa mengikuti cahaya. Cahaya itu sudah hilang entah kemana saat ia memasukki lorong kedua.
  
 Tiba-tiba ia berada ditempat yang sudah tidak asing baginya. Sebuah kedai kopi bernuansa kuno, aneh. Matanya menelusuri setiap sudut rungan itu. Matanya terhenti pada satu sosok gadis bermata teduh, gadis itu tersenyum kepadanya. Mario menghampiri gadis itu.
  
 “Raina.” 
  
 “Mau tiramisu, Sayang?” Raina menyodorkan sepotong kue tiramisu yang belum tersentuh sedikitpun, “Ini kue favoritmu, bukan?”
  
 “Tidak. Aku terlalu naif untuk mengartikan sebuah tiramisu sampai aku tahu aku sama sekali tidak ingin merasakan pahitnya hidup, selepas kepergian kamu. Bisakah kamu kembali? Apa kamu gak kangen aku, Na?” bulir bening menetes di pipi Mario, ia menggenggam tangan Raina tak ingin melepasnya.
  
 “Mario,”
  
 “Na, aku suka hujan, aku suka cokelat panas. Kembalilah dan kita akan menyusuri jalan penuh genangan saat hujan bersama-sama. Kamu terlalu egois untuk meninggalkanku begitu saja. Bukankan kita sama-sama tidak berniat untuk saling menyinggahi?”
  
 “Aku tidak pernah berniat singgah. Aku ingin tinggal, dan itu terbukti. Hatimu masih dipenuhi olehku, bukan? Aku masih bersamamu, Mario.” Raina pun ikut menangis.
  
 “Bukan tinggal seperti itu yang ku maksud. Kembalilah, Na. Aku akan melakukan apa saja agar kita bisa bersama. Hidupku kini layaknya kopi hitam tanpamu.”
  
 “Dewasalah, makanlah kue tiramisu ini seperti biasa kamu selalu menikmatinya. Kamu akan mengerti arti sebuah kehidupan. Semesta tidak mengizinkan raga kita untuk bersama. Tapi kita berhasil mengelabui semesta dengan hati kita yang selalu terikat. Pergilah, jangan sesali hidupmu. Kau bisa bahagia dengan orang lain tanpa harus membuang aku.”
  
 Mario tertegun, sejujurnya ia enggan menyadari hal itu.
  
 “Ketahuilah, Mario, aku sangat mencintai kamu seumur hidupku, kamulah orang pertama yang mengisi kekosongan hatiku dengan berjuta balon-balon indah, dengan bibit-bibit bunga yang mekar dengan sempurna. Dan kamu sekaligus orang terakhir itu.” Raina memeluk Mario erat. Hatinya menghangat, rasa hangat itu menjalar ke seluruh tubuhnya.

 “Apa kamu tahu, aku sangat mencintaimu?” Mario membuka suara.
  
 “Sangat. Begitupun aku.”
  
 Mario pun terbangun dari mimpinya, matanya basah memerah.

֍


“Kamu coba aja, kamu pasti tahu kenapa aku suka cokelat panas.” Raina tersenyum menyodorkan cokelat panas miliknya.
  
Mario menyesap cokelat panas itu perlahan, lalu ia meletakkan kembali cangkir porselen itu dan tersenyum.

“Terkadang, kita tidak bisa menjelaskan mengapa kita menyukai suatu hal, kita hanya bisa merasakannya tanpa berucap dan menjelaskan panjang lebar tentang sebuah rasa.” Senyum di wajah Raina mengembang.


֍
  Mendung bergelayut dilangit, tampaknya pagi ini akan kembali di guyur hujan. Mario memakai jaket kulit kesayangannya dan bergegas pergi menaiki motornya. Ia tiba di kedai langganannya dengan sedikit basah akibat gerimis dijalan.

Ia segera memasukki kedai itu dan menghuni bangku pojok tempat favoritnya bersama Raina. Ia belum memesan apapun, hujan diluarpun bertambah deras. Orang-orang mulai sibuk berdatangan untuk berteduh

֍

Dear, Mario!
Terimakasih untuk semua hal yang kamu lakukan untukku. Terimakasih sudah mengisi hati yang kosong ini dan memperbolehkanku mengecap rasa manis kehidupan, rasa manis cinta, dan tentu saja kamu. Kamu adalah orang pertama sekaligus terakhir yang mempu mengisi kosongnya hati ini.
Maaf jika aku tidak pernah mengatakan keadaanku yang sebenarnya. Aku akan melakukan cangkok sumsum tulang belakang esok hari, dan jika surat ini sampai ke tanganmu, maka disaat itulah kita sudah tidak bisa bersama.
Aku minta maaf atas segala hal yang pernah menyakitimu. Untuk segala hal termanis dan terindah, singkatnya perkenalan kita yang berujung rasa cinta, aku sangat berterimakasih kepada tuhan. Dan jika kita tidak dapat bersama hingga kelak, maafkanlah semesta dan berjanjilan untuk tidak membencinya. Kamu harus tau, aku sangat menyayangimu.
Untuk kamu yang selalu ada di hati

Raina.

֍

Mario tersenyum.

Ia memesan sepotong kue tiramisu lengkap dengan cokelat panas. Tak lama kemudian, seorang pria berseragam mengantar pesanan Mario, “Ini mas, Mario.”

“Terimakasih.” Mario tersenyum dan mulai menikmati potongan kue pertamanya. 

Tiba-tiba seorang gadis duduk manis dihadapannya sambil tersenyum ke arahnya. Mario menatapnya dengan tatapan seteduh mungkin, “Berteduh dari hujan, Ya?”
  
“Iya, tapi aku sering kesini.” ucap gadis itu.
  
“Oh, Ya?” Mario mengernyitkan dahinya mencoba mengingat-ingat.
  
“Kamu gak pernah melihat aku, kamu lebih sering melihat ke luar jendela.” Gadis itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang indah.
  
“Memperhatikan juga, Ya.” Mario tersenyum sembari melipat tangannya.
  
“Gak juga, sih. Aku Ovyta.” gadis itu mengulurkan tangan kanannya.
  
“Aku, Mario.” Mario pun menyambut uluran tangan Ovyta.
  
“Wah, tiramisu! Aku juga suka kue itu.”
  
Gadis itu berseru riang. Mereka pun terhanyut dalam obrolan ringan dipenuhi tawa. Akankah kali ini cinta terselip lagi diantara sela tawa mereka?

֍֍֍



Cinta adalah bagian dari kehidupan,
tapi hidup hanyalah persinggahan.
-GZA-

[CERPEN] PERSINGGAHAN part 1

Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu mengetahui bahwa kamu tidak bisa melakukan apa-apa untuk orang yang kamu sayangi saat tahu bahwa 'selamanya’ tidak bisa dipeluk waktu? Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu mengetahui bahwa kamu tidak akan selamanya bisa bersama dia yang kamu sayang? Dan apa yang akan kamu lakukan ketika kamu mengetahui bahwa kamu hanyalah seorang manusia yangtidak bisa melakukan apa-apa ketika semua itu terjadi?

Dan ketika memori bercerita tentang pertemuan yang singkat, tentang memori yang terkenang setiap kaliaroma cokelat panas menguar bersama aroma butter atau bahkan memori yang terkenang setiap kali suapanpertama kue tiramisu masuk ke dalam mulut dan lumer seketika, atau mungkin tentang singkatnya sapaan ‘hai’ yang menjadi terasa panjang jika diiringi senyum manisnya? 


Ahh, itu semua terasa menyakitkan jika aku harus mengingat semuanya. Selalu saja menyisakan bulir bening di ujung mataku dan tidak jarang bulir bening itu meluncur deras di pipiku. Namanya, Raina. Nama itu menempati peringkat nomor satu dalam memoriku. Dia bukan yang pertama, tapi aku selalu berharap dialah yang terakhir.

֍

Siang itu cuaca kurang bersahabat, hujan terus-menerus mengguyur bumi. Bunyi klakson dimana-mana. Dan jalan pun tertutupi banyak orang yang memakai payung untuk sekadar mengurangi basah tubuhnya. Mungkin mereka sedang terburu-buru. Tidak sedikit orang-orang mengomel ketika ada pengendara motor menyipratkan genangan air. Banyaknya tatapan sinis dari tempat perteduhan, siapalagi targetnya selain orang yang membuat kekacauan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Mungkin orang itu sedang terburu-buru, tapi siapa yang peduli? Mereka semua punya urusan masing-masing.

Seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas terlihat duduk disebuah kedai kopi bernuansa kuno terus-terusan melirik jam ditangan kirinya, sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Dan benar saja, tidak lama kemudian seorang gadis berumur 20an datang ke meja pria itu, ternyata ia menunggu anaknya. Tapi, tidak mungkin seorang anak berlaku layaknya sepasang kekasih bersama ayahnya, gadis itu lebih terlihat seperti simpanan. 
  
Terlihat seorang wanita berpenampilan elegan ditambah kacamata minus sedang serius menatap layar laptopnya, sepertinya ia seorang wanita karir. Terlihat beberapa orang berseragam berlalu lalang untuk memberikan pesanan kepada si pemesan, pria muda dibalik meja kasir yang hobinya menggoda seorang pelayan cantik, dan seorang pelayan yang memiliki trik-trik sulap untuk mengelabui anak kecil dengan banyak cokelat ditangannya yang sepertinya sudah ia sediakan dibalik saku seragamnya. Ah, ya, terlihat dua orang pemuda pemudi berseragam SMA dengan asyiknya bersenda gurau menunggu hujan. Dan seorang pria yang terbiasa duduk dipojokkan menatap luas ke luar jendela, tanpa ekspresi. 

֍

Tiba-tiba seorang wanita sedikit kuyup terlihat berlari menyusuri hujan menuju kedai ini. Gadis itu terlihat cantik dengan baju berwarna merah muda yang melekat indah ditubuhnya. Gadis itu tersenyum gembira begitu ia berhasil menyusuri hujan deras dan sampai dikedai langganannya dengan selamat.
  
“Kayak biasa, Mbak.” ia tersenyum kepada pelayan wanita itu. Sepertinya ia sering mengunjungi kedai ini. Bukan sepertinya, tapi memang hampir setiap hari ia pergi ke kedai ini. Semua orang berseragam pun sepertinya sudah mengenal gadis itu karena semua orang berseragam itu tersenyum melihat gadis itu.
  
Matanya menyusuri setiap sudut kedai sederhana ini, mencari meja dan bangku yang belum dihuni pengunjung lainnya. Namun sayang, siang itu kedai sangat ramai karena banyak orang yang singgah dan memesan sesuatu agar bisa berteduh. Matanya terus mencari sampai matanya berhenti disatu titik, satu sudut, dengan satu orang. Gadis itu berjalan pelan, dan berhenti, “Hai, boleh duduk? Penuh banget, gak ada lagi yang kosong.” tanpa dipersilakan, gadis itu sudah duduk manis dan tersenyum. Akhirnya. 
  
“Sering kesini, Ya?” Pria itu mulai membuka percakapan.
  
“Hmm, lumayan. Kalau kamu yang punya kedai ini, Ya?” Canda gadis itu sembari memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapih.
  
Pria itu ikut tersenyum, “Aku sering lihat kamu disini.”
  
“Oh, Ya? Memperhatikan juga, Ya.”
  
“Engga juga sih sebenernya. Ya cukup tau lah apa hobby kamu. Kamu terlalu sibuk sih sama buku yang sering kamu baca.” 
  
“Ohh.. Buku?” Gadis itu seperti teringat sesuatu, dengan segera ia membuka tasnya dan mencari-cari sesuatu, “Syukurlah, bukunya gak basah. Untung udah dipakein baju.” Gadis itu terkekeh geli. Pria itu hanya tersenyum melihatnya.
  
“Aku, Mario.” 
  
Seorang wanita berseragam berhenti dan meletakkan sebuah cangkir porselen berisi cokelat panas yang asapnya mengepul indah diudara. “Silakan, mbak Raina.”
  
“Makasih, Ya.” Gadis itu tersenyum.
  
“Jadi, nama kamu, Raina? Keren keren, pelayan disini sampe kenal kamu saking seringnya kamu kesini.” 
  
Raina menyesap cokelat hangatnya perlahan, udara yang dingin membuat suhu cokelat panas itu turun dengan cepat. Mario melahap habis seluruh sisa kue tiramisu miliknya. Mengelap sedikit bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan dengan saksama, Mario pun membuka suara.
  
“Raina, Ya. Kenapa dinamain Raina?” Pria itu menyesap kopinya perlahan.
  
“Gatau, mungkin karena aku suka hujan. Rain artinya hujan kan?”
  
“Terdengar agak maksa, Ya.” Mario terkekeh geli. Mereka berbincang cukup lama, riuh tawa mereka sesekali mampu membuat orang disekitarnya menoleh. Pengunjung sudah tidak seramai tadi karena hujan mulai berhenti, mungkin hanya meninggalkan beberapa rintik dan genangan air dijalan berlubang. Jalananpun sudah tidak seramai tadi, orang-orang yang berteduh pun mulai kembali melanjutkan perjalanannya. Sudah tidak ada pengendara motor yang ugal-ugalan dijalan. Mungkin ia sudah berada ditempat tujuannya, atau mungkin ia sudah mati akibat ulahnya yang ugal-ugalan.

Seperti apapun keadaan di luar sana, tetap saja seorang Mario tidak bisa melewatkan sedetik pun pemandangan didepannya itu. Gadis bertubuh cukup ideal dengan mata bulat berbola mata cokelat sangat serasi dipadu hidung bangirnya. Bibir ranumnya memancarkan pesona tersendiri. Rambut panjangnya tergerai indah menyentuh pinggang rampingnya. Semenjak perkenalan yang tak disengaja itu, diam-diam rasa cinta mulai terselip diantara sela tawa yang enggan diakhiri.

֍

Mario mencoba merebahkan tubuhnya, berharap rasa lelah segera luruh darinya. Ia melihat jam dinding dikamarnya, waktu baru menunjukkan pukul 9 malam, tapi ingin sekali rasanya ia terpejam dan segera berlari ke hari esok. Betapa ia sangat mengutuk dirinya sendiri hanya karena memorinya yang terlalu kuat menyimpan kenangan. Rasa manis yang dulu dikecap, menguar bersama aroma butter, cokelat hangat dan aroma manis lainnya, kini berubah menjadi kopi hitam. Apa sih yang salah dengan dirinya?

“Harusnya gue gak pergi ke kedai itu lagi.” Nada penyesalan terdengar kental di ucapannya.
  
Mario masih memejamkan matanya, tetapi ia tidak teridur. Bahkan ia tidak bisa tertidur meskipun ia sangat ingin terlelap. Wajah gadis itu, Ya, Raina. Wajahnya lah yang selalu mampir disela pejaman matanya. Hanya satu kata yang dapat menyimpulkan perasaannya kali ini, Rindu. Betapa ia sangat merindukan gadis itu. Perkenalan yang dipertemukan semesta, singkatnya sapaan “Hai.” yang berujung berjuta rasa dan diakhiri dengan sebuah senyum miris untuk menutupi luka. Jika kau bertanya kepadanya tentang ingatan apa saja yang masih ia simpan, mungkin ia akan menjelaskan detailnya satu persatu tanpa lelah, tanpa satupun ingatan yang tertinggal. 
  
Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi, langit pun bertambah pekat tanpa cahaya. Suara gemuruh terdengar dimana-mana, hujan pun kini sudah benar-benar menerjunkan dirinya dari atas sana. Bau tanah tersiram hujan mulai memenuhi hidung hingga ke rongga dada. Bau inilah yang disukai gadis pecinta hujan bernama Raina. Hujan pun dengan sukses mampu menyeret Mario kepada kenangan yang paling dalam. Kenangan yang membuat luka dihatinya--yang tak bisa mengering--semakin perih. Lubang dihatinya kini menganga dengan lebar. Hatinya kosong, bagai ruang hampa yang tidak pernah disinggahi, pengap. 
  
Bukan salah Mario jika lubang dihatinya terus-terusan menganga lebar, ia hanya membiarkan lubang itu menganga lebar agar gadis itu dapat dengan mudah kembali tinggal tidak hanya sekadar singgah. Dan bukan salah Mario jika hatinya terus menutup untuk hati lain, ingin ia mempersilahkan masuk. Tapi apa mau dikata, satu-satunya gembok hati yang ia miliki telah raib dibawa gadis itu.
  


Rabu, 09 April 2014

Jarak

aku ingin bercerita tentang jarak
tentang bagaimana jarak mengasingkan kita
tentang betapa banyak rindu yang dipisahkan oleh jarak
dan bertanya,
bagaimana bisa jarak yang tidak begitu jauh,
tidak mampu meluluhkan sedikit saja rindu?

jarak, entah sudah berapa banyak rasa rindu terpisah oleh jarak
entah sudah berapa banyak rasa rindu yang meluap melalui air mata
apakah jarak segitunya membenci kita?
seakan-akan jarak ingin mengenyahkan kita bersama rindu

entah sudah berapa banyak kalimat 'aku rindu kamu'
tertahan di dada,
entah sudah berapa banyak kalimat 'aku rindu kamu'
mencoba menguatkan hati,

aku rindu bukan karena jarak,
aku rindu karena aku berharap kamu selalu ada disini
tapi, bisakah jarak sedikit saja mengerti?
untuk tidak mengasingkan kita lebih lama lagi


Selasa, 18 Maret 2014

[MONOLOG] Wanita

Hai, aku wanita. Apa kabar? Sepertinya kamu terlihat kurang baik, atau ini hanya penglihatanku saja? Maaf, pandanganku kabur setelah air mata yang jatuh berhasil mengaburkannya. Aku baik-baik saja, mungkin. Oh ya, adakah pesan yang ingin kamu ucapkan? Aku? Ah, tidak. Sampai saat ini aku masih merasa baik. Kamu bertanya mengapa air mataku jatuh? Itu hanya perkara kecil sebenarnya, tapi, hatiku terlalu kalut.

Hatiku terlalu kalut, karena dalam masalah ini aku harus berhadapan dengan orang yang aku sayang. Siapa? Ah, kamu sendiri pasti mengetahuinya. Siapa lagi orang di dunia ini yang berhasil mencuri hatiku? Bahkan sebenarnya, dia tidak perlu mencurinya, memintapun akan langsung ku beri. Atau, tanpa dia memintapun, akan kuberikan hatiku dengan senang hati.

Dia orang yang membuatku bahagia. Mengapa harus bahagia? Ahh, kamu kurang paham ya? Ceria saja tidak cukup, bukan? Dia yang membuatmu bahagia sudah pasti bisa membuatmu ceria, membuatmu senang, dan mampu mengukir seulas senyum tulus dibibirmu. Lalu, apakah orang yang membuatmu ceria bisa membuatmu bahagia? Belum tentu. Dia yang membuatmu ceria, mungkin tidak akan bertahan lama, atau hanya mampu membuatmu melupakan sejenak masalah yang terjadi di hidupmu.

Apakah yang membuatmu bahagia pasti tidak akan pernah membuat sedih? Ya, tidak juga. Sedih, senang, tawa bahagia, tawa terpaksa, tangis bahagia, tangis derita, dsb, sampai kapanpun akan terus mengiringi kehidupan, bukan? Dia yang tulus membuatmu bahagia bukan tidak mungkin mampu membuatmu menangis. Tapi bukan berarti, orang yang membuatmu menangis akan lega setelah membuatmu menangis. Jika dia tulus, diam-diam hatinya pun ikut teriris.

Masalah itu pasti akan selalu datang. Yang harus kita lakukan adalah mencari jalan keluar, bukan mencari jalan pintas. Tapi bagaimana kalau yang ditemukan hanya jalan buntu? Putarlah sampai kamu menemukan jalan keluar. Yang buntu itu hanya takdir. Dewasalah walaupun untuk sesaat. Coba singkirkan ego, mulailah berbicara tanpa menggunakan ego masing-masing. Kalau untuk mencapai akhir yang bahagia, kenapa harus malas berjalan terus ke depan yang penuh hambatan? Jalanan pun tidak selalu mulus, pasti ada kerikil.

Tapi jangan marah, mungkin kamu hanya belum bisa menerima keadaan. Kamu tidak bisa? Pasti kamu bisa, Pelan-pelan, kamu pasti bisa menerima keadaan.

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...