Aku salut dan bertepuk tangan atas kelakuan iblis yang berhasil memporakporandakan jantung rumahku. Deru-deru yang membelai dinding, bunyi detik jarum jam yang turut menyemangati pertarungan yang digeluti daging-daging yang membalut tulang dan sendi tersebut manusia. Penjuru ruangan dipenuhi sesak oleh polusi suara yang berlomba menggetarkan atap rumah hingga roboh atau terbang hingga langit ke tujuh.
Tangan mencengkeram bahu, berusaha menenangkan dua belah bahu yang bergetar dan berisak. Wajah lesu, kecewa, dan sedih tergambar jelas pada wajah yang hampir seluruh permukaannya terselimuti gurat keriput. Seluruh penjuru ruang habis dilalap amarah, pecah. Pecah tangis, juga pecah kaca. Sakit sudah tidak terasa ketika sesaat kusadari darah mengalir di tangan kananku. Aku bertanya, darah siapa ini? atau, siapa yang aku lukai? Hingga sesaat darah terus mengalir hingga mengental di ujung jemariku, itu darah segar milikku. Aku berusaha mengelapnya tanpa mempedulikan polusi suara yang bisingnya mungkin terdengar hingga ibu kota.
Aku menatap kosong darah di tanganku, suara berlalu lalang melewati telingaku sambil tertawa. Aku melirik, menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari dimana iblis bersembunyi hingga suara tawanya seperti berada dalam gendang telingaku. Hingga pada satu waktu seluruhnya mengunuskan kata tepat di jantungku.
Aku mengisap darah di tangan kananku dengan tatapan haus. Aku tak lagi mempedulikan ruangan yang terus dipenuhi suara-suara bercampur amarah yang memeluk tiap luas permukaan benda hidup dan yang mati. Aku tersenyum, kini aku berada di pihak iblis yang masih bersorak melihat manusia bak gladiator.
Suara masih ramai; suara di luar telingaku, suara di kepalaku, suara yang menggeroti tiap debu yang menempel pada riuh gemuruh. Aku mengunci diriku di kamar mandi, mendengarkan lagu opera dengan suara paling kencang, namun belum mampu menandingi gemuruh di luar sana yang mampu memecahkan kaca-kaca yang lemah.
Aku tidak ingin membunuh diriku, namun kutemui kepala dan sebagian tubuhku habis dilalap air dalam bak kamar mandi, yang airnya kini menggenang hingga keluar pintu dan turut menjadi atribut kekacauan saat ini. Iblis, kali ini kaulah pemenangnya, meskipun kau hanya menjadi pirsawan dengan tawa yang melecutkan anak panah.
(2020)