Sabtu, 27 September 2014

Matamu

Aku suka menatap langit malam
Serupa gelap matamu yang menyapa sepi

Aku suka menatap rona senja
Serupa binar matamu ditengah jelaga

Kesedihan

Bibir ranumnya tersenyum dengan manis
Siapa yang tahu itu hanya sebuah pemanis
Matanya berbinar sepi
Memandang lekat pada hati yang telah mati

Derita Nestapa

Kaki lusuhnya berlumur darah
Tak sengaja menginjak duri yang terbawa angin
Meringis, menangis
Namun bukan karena perih di kakinya
Luka ini tak seberapa dari beban hidupnya
Ia tak kuat menahan derita nestapa
Dan memilih mati dirundung sepi



Gina Zahra Anjani

Bayang

Bayang itu semu menutup pilu
Menghilang setelah terguyur sepi
Kemanakah perginya bayang itu?
Bayang ringkih yang terukir di dinding yang hampir roboh
Bayang itu tak pernah lagi kembali
Setelah puas membuat retak dinding yang tak berdosa
Dinding yang hampir roboh itu semakin rapuh
Semakin berdebu
Seperti bayang yang terus berlalu
Dan mati ditengah sepi

Barangkali

Barangkali aku hanya butir diantara milyaran pasir
Menyatu bersama air hilang di samudera
Membelah laut menyeiramakan detak

Barangkali aku hanya tepian daun yang terjerat duri
Gelisah meronta mencabut diri
Meniadakan rasa menghilangkan asa

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...