Selasa, 16 Agustus 2016

Pamit

Aku mencari waktu yang tepat untuk pergi

Tentu tidak dengan waktu yang ramai

Juga jendela-jendela kamar yang
Terbuka lebar

Aku pun benci perpisahan, pamitan

Juga air mata yang mengalir
Dari ringkih tatap matamu


(2016)

Sabtu, 13 Agustus 2016

Teruntuk Kamu yang Masih Diam pada Satu Masa

Ketika takdir menamainya cinta
Sedang luka yang kau rasa kian duka

Sampai-sampai,


Kau menangis, tapi tidak menangis

Matamu tak sembab, sebab
Tidak menangis, tapi kau menangis

Ah, air matamu hilang, atau


Habis?


Kemudian kau menari ditengah dukamu

Dengan sesak yang membelenggu
Terguyur kepingan masa lalu yang
Menikam jantungmu, kau,

Hatimu mati, namun tengah menari

Kau mati, baru ia mencari


(2016)


Jumat, 12 Agustus 2016

Pada Sebuah Peron

Pada sebuah peron yang memeluk sepi, ia menunggu 
Tanpa peduli gelap malam kian kelam
Tanpa peduli dingin telah menusuk kalbunya
Siapa yang ia tunggu?
Dengan tanpa gamang mengorbankan waktu demi ketidakpastian, meski
Tampak gelisah dan menunggu penuh debar
Juga harap yang terus memagut pendar

Tak ada lagi kopi panas pada cangkir di tangan kirinya
Meski penuh, tak lagi uapnya menyambut, terhirup
Hidung bangirnya yang terlihat memerah
Juga disambut kantung mata yang kian menghitam

Peron masih mengantar sepi, meski ramai mulai 
Menyerakkan cerita-cerita sambil lalu
Juga dinding lapuk yang terbiasa bisu
Ia sendiri menanti, ah!
Siapa?
Ia terus bertanya pada hatinya

Ia pulang dengan senyum pilu di bibirnya, tapi
Kembali di kemudian hari, lalu kemudian hari,
Lalu kemudian hari
Ia masih menunggu rupa sosok yang sama hadir
Dengan secangkir kopi yang tak pernah sempat disesapnya
Juga pada peron yang mengantar sepi

(2016)

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...