Kamis, 01 Oktober 2020

[Monolog] Sebuah Peristiwa Hancur

Aku salut dan bertepuk tangan atas kelakuan iblis yang berhasil memporakporandakan jantung rumahku. Deru-deru yang membelai dinding, bunyi detik jarum jam yang turut menyemangati pertarungan yang digeluti daging-daging yang membalut tulang dan sendi tersebut manusia. Penjuru ruangan dipenuhi sesak oleh polusi suara yang berlomba menggetarkan atap rumah hingga roboh atau terbang hingga langit ke tujuh.

Tangan mencengkeram bahu, berusaha menenangkan dua belah bahu yang bergetar dan berisak. Wajah lesu, kecewa, dan sedih tergambar jelas pada wajah yang hampir seluruh permukaannya terselimuti gurat keriput. Seluruh penjuru ruang habis dilalap amarah, pecah. Pecah tangis, juga pecah kaca. Sakit sudah tidak terasa ketika sesaat kusadari darah mengalir di tangan kananku. Aku bertanya, darah siapa ini? atau,  siapa yang aku lukai? Hingga sesaat darah terus mengalir hingga mengental di ujung jemariku, itu darah segar milikku. Aku berusaha mengelapnya tanpa mempedulikan polusi suara yang bisingnya mungkin terdengar hingga ibu kota.

Aku menatap kosong darah di tanganku, suara berlalu lalang melewati telingaku sambil tertawa. Aku melirik, menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari dimana iblis bersembunyi hingga suara tawanya seperti berada dalam gendang telingaku. Hingga pada satu waktu seluruhnya mengunuskan kata tepat di jantungku.

Aku mengisap darah di tangan kananku dengan tatapan haus. Aku tak lagi mempedulikan ruangan yang terus dipenuhi suara-suara bercampur amarah yang memeluk tiap luas permukaan benda hidup dan yang mati. Aku tersenyum, kini aku berada di pihak iblis yang masih bersorak melihat manusia bak gladiator

Suara masih ramai; suara di luar telingaku, suara di kepalaku, suara yang menggeroti tiap debu yang menempel pada riuh gemuruh. Aku mengunci diriku di kamar mandi, mendengarkan lagu opera dengan suara paling kencang, namun belum mampu menandingi gemuruh di luar sana yang mampu memecahkan kaca-kaca yang lemah. 

Aku tidak ingin membunuh diriku, namun kutemui kepala dan sebagian tubuhku habis dilalap air dalam bak kamar mandi, yang airnya kini menggenang hingga keluar pintu dan turut menjadi atribut kekacauan saat ini. Iblis, kali ini kaulah pemenangnya, meskipun kau hanya menjadi pirsawan dengan tawa yang melecutkan anak panah.


(2020)

Selasa, 15 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 6 - Single and Happy

kekasih, memejamlah
tidurlah dengan pulas,
akan kubiarkan lembaran ini menggantung
kosong, tapi
terpenuhi olehmu

biar aku yang melihat

atau esok hari, 
kubiarkan orang-orang menilik
bahwa lembar ini tidak pernah kosong

dan yang menggantung hanyalah nafas kita
yang memenuhi seisi ruang


(2020)

Senin, 14 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 5 - Your Parents

 - It's not easy for me to tell a story, but it's not that hard either. I just need some time and a good mood to write about it. I don't wanna feel any worse after this morning's screams fed me up. See you tomorrow? or maybe the next two days, or more. -

Minggu, 13 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 4 - Places You Want to Visit

Ada ketidakmungkinan yang terus terseling dalam benak, Places you want to visit, aku ingin mengunjungi Kota Bandung, tahun 1980an. Ketika teknologi belum menggantikan peran diri dalam bertegur sapa dan keramahan gestur adalah satu-satunya hal yang kita anggap jujur selain emoticon pesan. Namun dibalik ketidakmungkinan, masih ada tempat-tempat yang memungkinkan untuk aku datangi. Entah kapan, tapi yang pasti mungkin. 

Dulu aku berkeinginan pergi ke Kota Paris, yang katanya sih kota cinta. Di sana romantis, ya? Bangunan menara tinggi yang menjadi simbol kota tersebut. Sewaktu aku masih sekolah dulu entah bagaimana banyak anak-anak perempuan yang aku kenal jadi mengidolakan Kota Paris. Anak baru puber yang udah kebelet cinta-cintaan langsung merasa I can find the one there, so romantic yet so dramatic, but we were kids tho. 

Ada beberapa kota di Eropa yang ingin aku kunjungi, untuk berkuliner, mencicipi kehambaran makanan dari Benua Eropa. Bukan untuk membandingkan dengan cita rasa Indonesia, namun untuk pengalaman seru cita rasa makanan luar. Aku mau pergi ke Italy untuk mencoba pizza khas mereka, Neapolitan Pizza. Aku pernah bertanya pada kerabat yang sudah mencoba makan Pizza langsung di Italy, dan jawaban mereka, "Hambar, lebih enak Pizza H*t." Tapi aku yakin karena mereka tidak membawa saos sambal khas Indonesia.

Aku mau datang ke Spanyol untuk mencicipi rosquillas mereka. Mungkin ada yang mirip dijual di Indonesia, tapi aku ingin mencoba langsung di sana. Sama seperti mencoba pretzel dan bagel di Jerman, atau mencoba baguette di Prancis.

Kalau boleh aku juga ingin pergi ke Swiss. berkunjung ke beberapa danau di sana dan setelahnya mampir untuk makan cheese fondue. Pergi ke New Zealand untuk melakukan campervan trip atau panen buah lingonberry di Swedia. 

Namun di antara banyaknya tempat yang ingin aku kunjungi, aku selalu ingin kembali ke rumah. Dimana kita terbiasa bernaung di dalamnya. Sedingin apa udara di luar, sepanas apa perapian yang melahap sisa-sisa kayu kering yang menghitam menjadi abu, kita dapat selalu menemukan kenyamanan di dalamnya, yang membuat segala udara termasuk partikel kecil yang hanya dapat dilihat dengan lensa mikroskop 1 juta kali memahami bahwa kita adalah tuan di dalamnya.

Sabtu, 12 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 3 - A Memory

Ada beberapa hal yang tidak kumengerti; sebagian isi kepalaku terpenuhi dengan berbagai macam ingatan tanpa aku harus berusaha keras mengingatnya, sementara bagian lainnya ada di sana, namun kabur. Meskipun aku banyak mengingat hal-hal detail yang sudah terlampaui cukup jauh. Kenangan yang terekam tanpa jejak atas hasil kompromi kedua mata dan syaraf otak, terkadang mampu membawaku menapaktilasi tempat yang terus terasa utuh atau bahkan tempat yang sudah terilas.

Umur 3 tahun, di rumahku dulu, sore itu aku pakai baju renang berwarna merah, menjepit rambut dengan berantakan, dan mengenakan pelampung donat yang warnanya abstrak. Aku merengek ke mama untuk pergi berenang, pokoknya hari itu aku mau berenang. Tapi aku malah dibawa ke kamar mandi dan dimandiin masih pakai baju renang. Aku ingat keramik bak mandi di rumahku dulu, biru muda. Aku? masih nangis sambil mandi.

Umur 5 tahun, hari sabtu. Aku nggak sekolah karena lagi sakit. Tapi karena hari sabtu selalu ada makan siang bersama di kelas dan mama kebagian bawa buah hari itu, jadi aku harus ke sekolah sama mama, naik mobil. Aku pakai baju tebal warna ungu, begitu sampai di parkiran aku nggak mau turun karena malu nggak sekolah. Akhirnya aku dititipin ke tukang gorengan, aku suka beli tahunya. Nggak lama kemudian mama nyamperin dan ngebujuk aku untuk ke kelas dulu menyapa teman-teman, "Di dalam ada anggur, masuk aja dulu buat makan anggur." Aku mengiyakan dan saat masuk kelas, aku merasa keren karena nggak pakai seragam sendiri. Hari itu ada anak baru namanya Afi, rambutnya bondol, hidungnya mancung. Aku baru tau dia perempuan setelah SMP, selama itu aku kira Afi seorang laki-laki. Maaf, ya, Afi, namanya juga anak TK.

Umur 5 tahun, tapi udah SD. Hari pertama masuk sekolah entah kenapa pakai baju pramuka. Aku diantar mama ke kelas, tapi aku nggak pakai dasi pramuka. Saat masuk kelas, mama minta tolong seorang Ibu untuk memasangkan dasi pramukaku karena mama lupa cara pasang dasi pramuka. Ibu itu adalah Ibu seorang anak yang menjadi sahabatku sampai sekarang.

Umur 6 tahun, masih kelas 1 SD tapi udah ulang tahun. Hari itu ada temanku yang rambutnya dikuncir kecil-kecil tapi banyak. Besoknya aku minta dikuncir persis kayak temanku, tapi karena penjelasan dari ku kurang, alhasil aku ke sekolah kayak orang gila yang rambutnya berdiri kayak air mancur.

Masih banyak ingatan-ingatan yang ada di kepalaku. Jangan kau tanya, masih teringat jelas dalam ingatan kali pertama kau menatapku dan bagaimana senyum terbingkai di sana. Ketika sudah tidak ada lagi yang bisa disaksikan oleh kedua mata, aku berharap ingatan akan terus ada di sana. Memutar roll film yang tidak ada wujud nyatanya. Tidak akan pernah cukup, namun kita cukupkan roll film yang belum terbakar, berani?

Jumat, 11 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 2 - Things That Makes You Happy

Menulis bikin aku senang, meskipun seringnya yang aku tulis perihal kesedihan. Tapi kadang kesedihan itu bentuk lain dari kesenangan yang nanggung. Karena katanya senang dan sedih datangnya berdampingan. Setuju atau engga itu urusan masing-masing, perihal hati baru boleh kita diskusikan.

Aku juga suka memasak. Dulu kalau ditanya kenapa suka masak, aku selalu bilang, "Supaya nanti kalau udah punya anak, anaknya bisa pamer ke teman-temannya kalau masakan Ibunya enak banget." Karena aku juga suka pamer ke teman-teman kalau masakan mamaku enak banget hahaha. Terus kelas 1 SMA aku menemukan kesenangan yang lain, yaitu baking. Aku belajar bikin kue sendiri, resepnya lihat dari internet. Pertama kali belajar, gagal, karena tekniknya asal campur, fold fold fold, udah. Akhirnya aku mulai sering lihat video orang bikin kue, aku mulai belajar tekniknya dari video dan lama-lama sedikit banyaknya aku lumayan paham. Setelah itu jadi sering iseng bikin kue tanpa resep, jadi iseng aja nakar bahan sama pakai teknik yang aku tau. Aku juga sering bikin roti dan pasta! Literally pasta from scratch!

Okay, it may sound cliche, but seeing other people happy makes me happy. Aku sangat senang melakukan suatu hal yang membuat orang lain senang. Apalagi untuk orang terdekat, orang yang sangat aku pedulikan. Apapun yang mereka butuhkan, yang mereka inginkan, dengan senang hati akan aku lakukan dan berikan kalau memang aku sanggup. Have you ever searched for something big, something far away, and you found nothing? Because it turns out that what you are looking for is as close as seeing other people happy.


Kamis, 10 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 1 - Describe Your Personality

.......

I spent 30 minutes over here to think about what should I write on this blank page. I'm not good at describing my personalities because I think I.. wait, my current favorite song just played, Till There Was You by The Beatles, if you wanna know.

Okay, aku memilih untuk mendeskripsikannya dalam bentuk cerita. Ibarat, anggaplah, dan lain sebagainya. Cukup sulit untuk aku mendeskripsikan kepribadian, karena... ya, susah gitu..

Tiba-tiba rollercoaster ada di pikiranku. Setelah menghabiskan waktu puluhan menit untuk mencari kata yang bisa menggambarkan kepribadianku secara tidak langsung. Tau, kan? Rollercoaster. Bisa pelan, bisa tiba-tiba kencang ngejar kecepatan cahaya yang nggak bisa dilihat mata. Bisa naik, bisa turun. Aku nggak statis, kita bisa teriak sama-sama tapi pasti selamat sampai tempat berhenti. 

Aku pergi naik kereta selama 14 jam, sendiri, aku memilih untuk bertegur sapa dengan orang asing, mendengarkan cerita yang entah berasal dari mana kemudian bisa sampai di kedua telingaku. Entah perasaan apa selanjutnya yang akan menguak, entah ikut merasa senang, merasa sedih, merasa terharu, atau ikut merasa muak. Entah siapa yang turun terlebih dahulu pada stasiun selanjutnya, entah apakah cerita akan selesai begitu salah satu sudah harus melangkah ke peron, tetapi kita sudah bertemu. Kita tetap harus berjabat tangan dan tersenyum meskipun kita bercerita panjang tanpa menyebut identitas masing-masing. Rasa penasaran akan dibiarkan menggantung di sisi tirai jendela kereta dan terhapuskan oleh rasa kantuk.

Aku selalu mengutarakan apa yang aku pikirkan kepada orang lain, dibanding aku harus menerka-nerka dan terus-menerus merasa bingung. Aku nggak suka bingung, aku ekspresif. Iya dan tidak menjadi dua kata berseberangan yang berada pada posisinya masing-masing. Aku tidak mengatakan iya untuk hal yang seharusnya berada pada ruang tidak.

Sekarang kita lagi ada di taman kanak-kanak. Bayangin, ada balon warna-warni di sana. Ada jungkat-jungkit, ada ayunan, ada perosotan, ada permen cokelat, ada confetti, ada anak kecil, dan ada seorang Ibu. Ini yang masih belum aku mengerti, aku bisa tiba-tiba seperti anak-anak yang permennya diambil anak lain, terus nangis, ngerengek, manja, kemudian aku bisa menjadi seorang Ibu di sebelah anak kecil tersebut.

Aku nggak suka sedih, tapi kalau kamu sedih, kamu bisa entah bagaimana datang untuk kita menangis bersama. Atau kamu cukup berhenti dan bilang ada di mana, aku akan lari meskipun naik motor terdengar lebih praktis. Begitu sampai, aku yang menangis duluan karena habis lari-lari. Begitu pun kalau kamu marah, jangan marah sendiri dan menyakiti hati sendiri. Gimana kalau kita duduk terus berunding mau dibuang kemana amarah yang ada? Kalau tabungan amarahku masih banyak sisa, kamu boleh buang ke sana, tapi kalau udah penuh, kita cari cara lain, gimana?

Kita ada dalam lingkaran yang sama. Take your phone and put me on your emergency call. Aku mengerjakan sesuatu semalam suntuk, aku melakukan hobiku berjam-jam, atau aku tertidur lama, but I'll come whenever you need me to come. I'll annoy you most of the time, but I'll stop if you ask. I would do anything that you want me to do. I can be anything that you want me to be. I'm a chaser, but I also know my worth.

Udah ya, kamu aja yang menyimpulkan sendiri, aku bingung. Aku kan nggak suka bingung..





Rabu, 19 Agustus 2020

[Monolog] Dua Manusia

aku pernah bertanya-tanya tanpa kesungguhan namun benar bersungguh-sungguh,

perihal bentuk keserasian yang menaungi ego dua manusia yang saling menaklukan diri dengan embel-embel, "Ada pelangi pada cemas di raut wajahmu." atau saling bertanya perihal keberanian di antara rasa takut yang tak pernah mengada-ada.

seperti apa, bentuk yakin dari ego kedua manusia yang saling menautkan gelisah pada setiap jalan yang pernah mereka lalui dengan punggung berbeda, yang kini terlerai di persimpangan,

apakah keduanya benar-benar berjalan atas takdir yang menyerasikan mereka, atau mereka hanya menenggelamkan dirinya masing-masing dalam keserasian yang mereka tata pada satu bidang datar.

memaksa, menyulap rangkaian jigsaw yang tak bisa rapi mengisi teka-teki pada papan yang  berantakkan, memaksa oranye pada bidang merah darah yang ikut merasakan resah atas kenaifan sepasang cucu Adam.

aku menarik benang merah tanpa mempedulikan teori dua kutub magnet,
di mana utara memang sepatutnya bersanding dengan selatan

lalu bagaimana dengan faktor ego yang menyelimuti tiap bidang organ dan seluk-beluk jaringan hati, serta sulur-sulur otak manusia?

adakah yang harus mengalah dari dua ego yang terus berseteru dan sibuk memilih helai demi helai kain untuk menyingkap seluruh permukaan yang telanjang? atau bersedia kalah untuk isi kepala dan isi hati yang tak sempat disentuh meski dalam temaram? terus bersahutan tanpa mengerti sepatut apa yang diperdebatkan.

lagi-lagi sepasang cucu Adam naif,

tidak ada benar, tidak ada salah
tidak ada menang, tidak ada kalah
lalu perjalanan seperti apa yang diharapkan dari deru-redam dan sedu-sedan,
yang dimonopoli sesisi, wahai kekasih?


(2020)

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...