Minggu, 13 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 4 - Places You Want to Visit

Ada ketidakmungkinan yang terus terseling dalam benak, Places you want to visit, aku ingin mengunjungi Kota Bandung, tahun 1980an. Ketika teknologi belum menggantikan peran diri dalam bertegur sapa dan keramahan gestur adalah satu-satunya hal yang kita anggap jujur selain emoticon pesan. Namun dibalik ketidakmungkinan, masih ada tempat-tempat yang memungkinkan untuk aku datangi. Entah kapan, tapi yang pasti mungkin. 

Dulu aku berkeinginan pergi ke Kota Paris, yang katanya sih kota cinta. Di sana romantis, ya? Bangunan menara tinggi yang menjadi simbol kota tersebut. Sewaktu aku masih sekolah dulu entah bagaimana banyak anak-anak perempuan yang aku kenal jadi mengidolakan Kota Paris. Anak baru puber yang udah kebelet cinta-cintaan langsung merasa I can find the one there, so romantic yet so dramatic, but we were kids tho. 

Ada beberapa kota di Eropa yang ingin aku kunjungi, untuk berkuliner, mencicipi kehambaran makanan dari Benua Eropa. Bukan untuk membandingkan dengan cita rasa Indonesia, namun untuk pengalaman seru cita rasa makanan luar. Aku mau pergi ke Italy untuk mencoba pizza khas mereka, Neapolitan Pizza. Aku pernah bertanya pada kerabat yang sudah mencoba makan Pizza langsung di Italy, dan jawaban mereka, "Hambar, lebih enak Pizza H*t." Tapi aku yakin karena mereka tidak membawa saos sambal khas Indonesia.

Aku mau datang ke Spanyol untuk mencicipi rosquillas mereka. Mungkin ada yang mirip dijual di Indonesia, tapi aku ingin mencoba langsung di sana. Sama seperti mencoba pretzel dan bagel di Jerman, atau mencoba baguette di Prancis.

Kalau boleh aku juga ingin pergi ke Swiss. berkunjung ke beberapa danau di sana dan setelahnya mampir untuk makan cheese fondue. Pergi ke New Zealand untuk melakukan campervan trip atau panen buah lingonberry di Swedia. 

Namun di antara banyaknya tempat yang ingin aku kunjungi, aku selalu ingin kembali ke rumah. Dimana kita terbiasa bernaung di dalamnya. Sedingin apa udara di luar, sepanas apa perapian yang melahap sisa-sisa kayu kering yang menghitam menjadi abu, kita dapat selalu menemukan kenyamanan di dalamnya, yang membuat segala udara termasuk partikel kecil yang hanya dapat dilihat dengan lensa mikroskop 1 juta kali memahami bahwa kita adalah tuan di dalamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...