Selasa, 09 Mei 2023

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?”

“Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati. Dengan senyum tipis di bibirmu, kau melanjutkan kata-kata yang menggantung pada plafon rumah kayu, “Bahkan Cinderella masih berdansa ketika punggung Kelana yang tersinari cahaya bulan perlahan menghilang di bawah langit malam.”

Aku terdiam, meyakini bahwa kalimat tersebut masih mencari-cari ujungnya.

“Kelana mengatakan bahwa ia akan tinggal di bawah laut setelah puas berkelana. Aku ingat aroma black orchid menguar dari tubuhnya, bercampur dengan aroma laut. Kelana.”

Malam itu Kelana menjadi topik pembicaraan kita--dua orang asing yang baru saja bertemu. Aku seperti melihat cuplikan, reka adegan di mana kau dan Kelana duduk di bibir pantai, menghangat namun angin bulan itu dengan dingin membelai setiap inci kulit kalian, pukul 9 malam waktu setempat.

Kita pernah bertengkar perihal Kelana,
Apa yang tidak aku mengerti sedangkan kau terus,-

”Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk jatuh cinta pada seseorang? Jam, Are, kau hanya bertemu denganya dalam hitungan jam, dan sekarang Kelana masih memenuhi lebih dari sebagian pikiranmu. Aku di mana?” wajahku memerah menahan rasa kesal sekaligus iba pada diriku sendiri.

Air matamu keluar, namun aku yakin air mata itu kau persembahkan untuk Kelana, “Kamu nggak akan pernah ngerti, Na.”

Kita sama-sama terdiam. Bodoh. Kau yang tidak pernah mengerti aku, Are.

“Aku jatuh cinta pada Kelana. Namun aku masih bingung, apakah benar ini perasaan cinta atau aku menikmati setiap kata yang keluar dari mulutnya. Rangkaian kalimat yang membuat bulan Desember lebih hangat dari seharusnya. Kelana sempat tertidur di bahuku pukul 10.25. AKu tak bisa berhenti memandang wajahnya yang teduh. Kelana lah pemeran utamanya, bahkan cahaya bulan terus menyorot wajahnya yang terpejam pulas. Kau tahu betapa aku ingin mengusap wajahnya malam itu?”

“Ya, aku yang tidak pernah mengerti apa isi hati dan pikiranmu. Aku yang bodoh karena bersikukuh untuk terus berusaha percaya bahwa kau memang benar mencintaiku tapi-”

“Aku sayang kamu, Na.”

“Apa, Are? Apa lagi yang harus aku lakukan? Apa kau sendiri pernah peduli bagaimana perasaanku? Aku yang salah karena berusaha membantumu keluar dari jalan buntu. Kelana tidak akan pernah kembali, Are. Kau harus tahu itu!” Aku bangkit dan meninggalkan dirimu yang masih terduduk.

“Lalu apa yang terjadi setelahnya.”

“Tidak ada. Kami hanya terdiam di tempat. Kelana yang tertidur di bahuku yang mulai merasakan kebas, dan aku yang terdiam memandangi wajahnya, hingga pukul 10.48 Kelana terbangun. Maaf, Are. Aku tak bersuara, tapi aku masih memandang wajahnya."

Selasa, 09 Maret 2021

Surat Untuk Kalandre #SuratTiga

Selasa, setelah hari senin minggu kedua.

Surat ketiga yang kutulis siang tadi, dengan kedua mata yang sibuk melahap angin yang terus berhembus dari barat. Aku berangkat jauh lebih awal meskipun aku tidak tidur semalaman karena sibuk memandangi wajahmu dalam bentuk lembaran berwarna.

Aku teringat bagaimana kau mengatakan bahwa hidup memang soal pilihan. Seperti cita-cita masa kecilmu atau teman-temanmu, bahkan Ayah Ibumu yang mungkin cita-citanya kini hanya bertemu di Surga. Kau mengatakan soal pilihan-pilihan dalam hidup yang bisa kuambil karena aku berhak memilih atas hidupku. Aku tidak setuju sampai pada aku memilih untuk terus bersedih atas dirimu. Aku bisa saja memilih untuk menanggalkan segala rasa gundah gulana yang terus terbayangi olehmu, Tuhan pun tidak ingin melihat aku, hambanya, bersedih karena manusia lainnya.

"Mengapa kau selalu menangisi sesuatu yang fana?" Kau bertanya sesekali, tentu saja saat itu.

Aku tidak pernah bisa menjawabnya. Aku bahkan tidak tahu apa yang abadi selain kematian. Aku tak sempat bertanya padamu, jika aku adalah bagian dari kehilangan-kehilangan yang mungkin kau temui, akankah kau bersedih? Atau setidaknya terbasahilah sedikit matamu yang tak pernah tersentuh air mata.

Aku memilih menikmati rasa sedihku, tidak beranjak dari perasaan yang terus membuatku mati perlahan. Tentu ditemani kepulan asap yang terbentuk dari mulutku. Asapnya menjelma wajahmu, sesekali, ketika aku sedang gila-gilanya. Tapi aku tidak mencetak tato bentuk wajahmu pada tubuhku dan inisial huruf K di dada sebelah kananku, meskipun aku ingin sekali ada tanda bahwa kaulah pemilik atas tubuh ini. Namun aku mengambil sekian persen kemungkinan terkecil, sebuah alasan: bertaubat sebelum aku mati.


(2021)


Sabtu, 27 Februari 2021

Surat Untuk Kalandre #SuratDua

Sabtu, Are,

Aku masih menatap langit-langit di kamarku. Aku belum tidur karena hujan turun sangat deras di luar sana, lagi pula ini masih pukul 9 malam. Sore bagimu, bagi kita, waktu terasa berjalan cepat saat kita berpelukan.

Aku menulis surat untukmu, lagi. Dan aku berencana terus menulis surat, sampai yang kau temukan hanya jemariku yang kaku memegang pena dan ragaku terbujur kaku di kursi sebelah ranjang aroma kenangan, di sebelah pigura berisikan potret dua manusia yang saling mencintai meskipun dunia berperang untuk ketiga kalinya. Lalu ada asbak yang dipenuhi abu rokok kesukaanmu dan bungkus roti bakar cokelat keju yang berminyak.

Aku belum berdoa untukmu sejak pukul 6 sore. Aku menghabiskan waktu dan air mataku untuk menangisi kedua orang tuaku. 

Aku selalu bersungguh-sungguh dalam berdoa. Sama seperti ketika aku mengatakan kepadamu bahwa rasa yang dimiliki manusia ini mampu mematahkan rusuknya sendiri. Tapi kau tidak pernah percaya, terlalu mustahil kau bilang. Sedangkan aku terus menenggelamkanmu dalam kemustahilan yang nyata.


(2021)

Rabu, 24 Februari 2021

Surat Untuk Kalandre #SuratSatu

Rabu, Are,

Pukul 1 malam aku terbangun dari tidurku yang baru 5 menit. Dadaku terus-menerus menaungi suara jantung yang tidak beraturan. Agaknya aku mendengar namamu pada tiap detaknya.

Entah puji kepada siapa yang kau agungkan meskipun kita bertuju pada kiblat yang sama, tapi selalu ada doa dimana namamu kutitip pada malaikat. Entah apakah Tuhan terduduk untuk membalas doa dan upayaku dalam bentuk yang nyata, atau Tuhan masih menaruh doaku pada antrian kesekian. Tapi kita sama-sama tahu Tuhan tidak tidur, aku yakin bahkan Tuhan kita tidak mengantuk.

Are, apa doamu malam ini? Apakah ada namaku terselip di dalamnya? Jika memang ada, seperti apa bentuk doa untukku? Apa kau berdoa agar kita bisa bersama, atau kau berdoa agar kita tidak lagi bisa berjumpa?


(2021)

Kamis, 01 Oktober 2020

[Monolog] Sebuah Peristiwa Hancur

Aku salut dan bertepuk tangan atas kelakuan iblis yang berhasil memporakporandakan jantung rumahku. Deru-deru yang membelai dinding, bunyi detik jarum jam yang turut menyemangati pertarungan yang digeluti daging-daging yang membalut tulang dan sendi tersebut manusia. Penjuru ruangan dipenuhi sesak oleh polusi suara yang berlomba menggetarkan atap rumah hingga roboh atau terbang hingga langit ke tujuh.

Tangan mencengkeram bahu, berusaha menenangkan dua belah bahu yang bergetar dan berisak. Wajah lesu, kecewa, dan sedih tergambar jelas pada wajah yang hampir seluruh permukaannya terselimuti gurat keriput. Seluruh penjuru ruang habis dilalap amarah, pecah. Pecah tangis, juga pecah kaca. Sakit sudah tidak terasa ketika sesaat kusadari darah mengalir di tangan kananku. Aku bertanya, darah siapa ini? atau,  siapa yang aku lukai? Hingga sesaat darah terus mengalir hingga mengental di ujung jemariku, itu darah segar milikku. Aku berusaha mengelapnya tanpa mempedulikan polusi suara yang bisingnya mungkin terdengar hingga ibu kota.

Aku menatap kosong darah di tanganku, suara berlalu lalang melewati telingaku sambil tertawa. Aku melirik, menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari dimana iblis bersembunyi hingga suara tawanya seperti berada dalam gendang telingaku. Hingga pada satu waktu seluruhnya mengunuskan kata tepat di jantungku.

Aku mengisap darah di tangan kananku dengan tatapan haus. Aku tak lagi mempedulikan ruangan yang terus dipenuhi suara-suara bercampur amarah yang memeluk tiap luas permukaan benda hidup dan yang mati. Aku tersenyum, kini aku berada di pihak iblis yang masih bersorak melihat manusia bak gladiator

Suara masih ramai; suara di luar telingaku, suara di kepalaku, suara yang menggeroti tiap debu yang menempel pada riuh gemuruh. Aku mengunci diriku di kamar mandi, mendengarkan lagu opera dengan suara paling kencang, namun belum mampu menandingi gemuruh di luar sana yang mampu memecahkan kaca-kaca yang lemah. 

Aku tidak ingin membunuh diriku, namun kutemui kepala dan sebagian tubuhku habis dilalap air dalam bak kamar mandi, yang airnya kini menggenang hingga keluar pintu dan turut menjadi atribut kekacauan saat ini. Iblis, kali ini kaulah pemenangnya, meskipun kau hanya menjadi pirsawan dengan tawa yang melecutkan anak panah.


(2020)

Selasa, 15 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 6 - Single and Happy

kekasih, memejamlah
tidurlah dengan pulas,
akan kubiarkan lembaran ini menggantung
kosong, tapi
terpenuhi olehmu

biar aku yang melihat

atau esok hari, 
kubiarkan orang-orang menilik
bahwa lembar ini tidak pernah kosong

dan yang menggantung hanyalah nafas kita
yang memenuhi seisi ruang


(2020)

Senin, 14 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 5 - Your Parents

 - It's not easy for me to tell a story, but it's not that hard either. I just need some time and a good mood to write about it. I don't wanna feel any worse after this morning's screams fed me up. See you tomorrow? or maybe the next two days, or more. -

Minggu, 13 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 4 - Places You Want to Visit

Ada ketidakmungkinan yang terus terseling dalam benak, Places you want to visit, aku ingin mengunjungi Kota Bandung, tahun 1980an. Ketika teknologi belum menggantikan peran diri dalam bertegur sapa dan keramahan gestur adalah satu-satunya hal yang kita anggap jujur selain emoticon pesan. Namun dibalik ketidakmungkinan, masih ada tempat-tempat yang memungkinkan untuk aku datangi. Entah kapan, tapi yang pasti mungkin. 

Dulu aku berkeinginan pergi ke Kota Paris, yang katanya sih kota cinta. Di sana romantis, ya? Bangunan menara tinggi yang menjadi simbol kota tersebut. Sewaktu aku masih sekolah dulu entah bagaimana banyak anak-anak perempuan yang aku kenal jadi mengidolakan Kota Paris. Anak baru puber yang udah kebelet cinta-cintaan langsung merasa I can find the one there, so romantic yet so dramatic, but we were kids tho. 

Ada beberapa kota di Eropa yang ingin aku kunjungi, untuk berkuliner, mencicipi kehambaran makanan dari Benua Eropa. Bukan untuk membandingkan dengan cita rasa Indonesia, namun untuk pengalaman seru cita rasa makanan luar. Aku mau pergi ke Italy untuk mencoba pizza khas mereka, Neapolitan Pizza. Aku pernah bertanya pada kerabat yang sudah mencoba makan Pizza langsung di Italy, dan jawaban mereka, "Hambar, lebih enak Pizza H*t." Tapi aku yakin karena mereka tidak membawa saos sambal khas Indonesia.

Aku mau datang ke Spanyol untuk mencicipi rosquillas mereka. Mungkin ada yang mirip dijual di Indonesia, tapi aku ingin mencoba langsung di sana. Sama seperti mencoba pretzel dan bagel di Jerman, atau mencoba baguette di Prancis.

Kalau boleh aku juga ingin pergi ke Swiss. berkunjung ke beberapa danau di sana dan setelahnya mampir untuk makan cheese fondue. Pergi ke New Zealand untuk melakukan campervan trip atau panen buah lingonberry di Swedia. 

Namun di antara banyaknya tempat yang ingin aku kunjungi, aku selalu ingin kembali ke rumah. Dimana kita terbiasa bernaung di dalamnya. Sedingin apa udara di luar, sepanas apa perapian yang melahap sisa-sisa kayu kering yang menghitam menjadi abu, kita dapat selalu menemukan kenyamanan di dalamnya, yang membuat segala udara termasuk partikel kecil yang hanya dapat dilihat dengan lensa mikroskop 1 juta kali memahami bahwa kita adalah tuan di dalamnya.

Sabtu, 12 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 3 - A Memory

Ada beberapa hal yang tidak kumengerti; sebagian isi kepalaku terpenuhi dengan berbagai macam ingatan tanpa aku harus berusaha keras mengingatnya, sementara bagian lainnya ada di sana, namun kabur. Meskipun aku banyak mengingat hal-hal detail yang sudah terlampaui cukup jauh. Kenangan yang terekam tanpa jejak atas hasil kompromi kedua mata dan syaraf otak, terkadang mampu membawaku menapaktilasi tempat yang terus terasa utuh atau bahkan tempat yang sudah terilas.

Umur 3 tahun, di rumahku dulu, sore itu aku pakai baju renang berwarna merah, menjepit rambut dengan berantakan, dan mengenakan pelampung donat yang warnanya abstrak. Aku merengek ke mama untuk pergi berenang, pokoknya hari itu aku mau berenang. Tapi aku malah dibawa ke kamar mandi dan dimandiin masih pakai baju renang. Aku ingat keramik bak mandi di rumahku dulu, biru muda. Aku? masih nangis sambil mandi.

Umur 5 tahun, hari sabtu. Aku nggak sekolah karena lagi sakit. Tapi karena hari sabtu selalu ada makan siang bersama di kelas dan mama kebagian bawa buah hari itu, jadi aku harus ke sekolah sama mama, naik mobil. Aku pakai baju tebal warna ungu, begitu sampai di parkiran aku nggak mau turun karena malu nggak sekolah. Akhirnya aku dititipin ke tukang gorengan, aku suka beli tahunya. Nggak lama kemudian mama nyamperin dan ngebujuk aku untuk ke kelas dulu menyapa teman-teman, "Di dalam ada anggur, masuk aja dulu buat makan anggur." Aku mengiyakan dan saat masuk kelas, aku merasa keren karena nggak pakai seragam sendiri. Hari itu ada anak baru namanya Afi, rambutnya bondol, hidungnya mancung. Aku baru tau dia perempuan setelah SMP, selama itu aku kira Afi seorang laki-laki. Maaf, ya, Afi, namanya juga anak TK.

Umur 5 tahun, tapi udah SD. Hari pertama masuk sekolah entah kenapa pakai baju pramuka. Aku diantar mama ke kelas, tapi aku nggak pakai dasi pramuka. Saat masuk kelas, mama minta tolong seorang Ibu untuk memasangkan dasi pramukaku karena mama lupa cara pasang dasi pramuka. Ibu itu adalah Ibu seorang anak yang menjadi sahabatku sampai sekarang.

Umur 6 tahun, masih kelas 1 SD tapi udah ulang tahun. Hari itu ada temanku yang rambutnya dikuncir kecil-kecil tapi banyak. Besoknya aku minta dikuncir persis kayak temanku, tapi karena penjelasan dari ku kurang, alhasil aku ke sekolah kayak orang gila yang rambutnya berdiri kayak air mancur.

Masih banyak ingatan-ingatan yang ada di kepalaku. Jangan kau tanya, masih teringat jelas dalam ingatan kali pertama kau menatapku dan bagaimana senyum terbingkai di sana. Ketika sudah tidak ada lagi yang bisa disaksikan oleh kedua mata, aku berharap ingatan akan terus ada di sana. Memutar roll film yang tidak ada wujud nyatanya. Tidak akan pernah cukup, namun kita cukupkan roll film yang belum terbakar, berani?

Jumat, 11 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 2 - Things That Makes You Happy

Menulis bikin aku senang, meskipun seringnya yang aku tulis perihal kesedihan. Tapi kadang kesedihan itu bentuk lain dari kesenangan yang nanggung. Karena katanya senang dan sedih datangnya berdampingan. Setuju atau engga itu urusan masing-masing, perihal hati baru boleh kita diskusikan.

Aku juga suka memasak. Dulu kalau ditanya kenapa suka masak, aku selalu bilang, "Supaya nanti kalau udah punya anak, anaknya bisa pamer ke teman-temannya kalau masakan Ibunya enak banget." Karena aku juga suka pamer ke teman-teman kalau masakan mamaku enak banget hahaha. Terus kelas 1 SMA aku menemukan kesenangan yang lain, yaitu baking. Aku belajar bikin kue sendiri, resepnya lihat dari internet. Pertama kali belajar, gagal, karena tekniknya asal campur, fold fold fold, udah. Akhirnya aku mulai sering lihat video orang bikin kue, aku mulai belajar tekniknya dari video dan lama-lama sedikit banyaknya aku lumayan paham. Setelah itu jadi sering iseng bikin kue tanpa resep, jadi iseng aja nakar bahan sama pakai teknik yang aku tau. Aku juga sering bikin roti dan pasta! Literally pasta from scratch!

Okay, it may sound cliche, but seeing other people happy makes me happy. Aku sangat senang melakukan suatu hal yang membuat orang lain senang. Apalagi untuk orang terdekat, orang yang sangat aku pedulikan. Apapun yang mereka butuhkan, yang mereka inginkan, dengan senang hati akan aku lakukan dan berikan kalau memang aku sanggup. Have you ever searched for something big, something far away, and you found nothing? Because it turns out that what you are looking for is as close as seeing other people happy.


Kamis, 10 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 1 - Describe Your Personality

.......

I spent 30 minutes over here to think about what should I write on this blank page. I'm not good at describing my personalities because I think I.. wait, my current favorite song just played, Till There Was You by The Beatles, if you wanna know.

Okay, aku memilih untuk mendeskripsikannya dalam bentuk cerita. Ibarat, anggaplah, dan lain sebagainya. Cukup sulit untuk aku mendeskripsikan kepribadian, karena... ya, susah gitu..

Tiba-tiba rollercoaster ada di pikiranku. Setelah menghabiskan waktu puluhan menit untuk mencari kata yang bisa menggambarkan kepribadianku secara tidak langsung. Tau, kan? Rollercoaster. Bisa pelan, bisa tiba-tiba kencang ngejar kecepatan cahaya yang nggak bisa dilihat mata. Bisa naik, bisa turun. Aku nggak statis, kita bisa teriak sama-sama tapi pasti selamat sampai tempat berhenti. 

Aku pergi naik kereta selama 14 jam, sendiri, aku memilih untuk bertegur sapa dengan orang asing, mendengarkan cerita yang entah berasal dari mana kemudian bisa sampai di kedua telingaku. Entah perasaan apa selanjutnya yang akan menguak, entah ikut merasa senang, merasa sedih, merasa terharu, atau ikut merasa muak. Entah siapa yang turun terlebih dahulu pada stasiun selanjutnya, entah apakah cerita akan selesai begitu salah satu sudah harus melangkah ke peron, tetapi kita sudah bertemu. Kita tetap harus berjabat tangan dan tersenyum meskipun kita bercerita panjang tanpa menyebut identitas masing-masing. Rasa penasaran akan dibiarkan menggantung di sisi tirai jendela kereta dan terhapuskan oleh rasa kantuk.

Aku selalu mengutarakan apa yang aku pikirkan kepada orang lain, dibanding aku harus menerka-nerka dan terus-menerus merasa bingung. Aku nggak suka bingung, aku ekspresif. Iya dan tidak menjadi dua kata berseberangan yang berada pada posisinya masing-masing. Aku tidak mengatakan iya untuk hal yang seharusnya berada pada ruang tidak.

Sekarang kita lagi ada di taman kanak-kanak. Bayangin, ada balon warna-warni di sana. Ada jungkat-jungkit, ada ayunan, ada perosotan, ada permen cokelat, ada confetti, ada anak kecil, dan ada seorang Ibu. Ini yang masih belum aku mengerti, aku bisa tiba-tiba seperti anak-anak yang permennya diambil anak lain, terus nangis, ngerengek, manja, kemudian aku bisa menjadi seorang Ibu di sebelah anak kecil tersebut.

Aku nggak suka sedih, tapi kalau kamu sedih, kamu bisa entah bagaimana datang untuk kita menangis bersama. Atau kamu cukup berhenti dan bilang ada di mana, aku akan lari meskipun naik motor terdengar lebih praktis. Begitu sampai, aku yang menangis duluan karena habis lari-lari. Begitu pun kalau kamu marah, jangan marah sendiri dan menyakiti hati sendiri. Gimana kalau kita duduk terus berunding mau dibuang kemana amarah yang ada? Kalau tabungan amarahku masih banyak sisa, kamu boleh buang ke sana, tapi kalau udah penuh, kita cari cara lain, gimana?

Kita ada dalam lingkaran yang sama. Take your phone and put me on your emergency call. Aku mengerjakan sesuatu semalam suntuk, aku melakukan hobiku berjam-jam, atau aku tertidur lama, but I'll come whenever you need me to come. I'll annoy you most of the time, but I'll stop if you ask. I would do anything that you want me to do. I can be anything that you want me to be. I'm a chaser, but I also know my worth.

Udah ya, kamu aja yang menyimpulkan sendiri, aku bingung. Aku kan nggak suka bingung..





Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...