Hai, Sayang, hari sudah malam, tidakkah kau ingin tidur? Atau terjaga barangkali. Seperti yang biasanya kau lakukan. Bercerita tentang harimu yang panjang kepada dinding bisu yang rapuh dan mengelupas, yang sesekali mengeluarkan bunyi yang terdengar dari derap langkah cecak diantara sunyi. Atau, bagaimana dengan derak yang terdengar dari tiang-tiang yang mulai rapuh dan menggigil ketika angin berbisik sampai telingamu. Juga lampu-lampu remang yang memantulkan jingga dari binar matamu yang sayu. Tentu aku tidak lupa dengan gemercik air keran yang sengaja kau buka sedikit agar air yang keluar tidak terlalu banyak. Lalu bagaimana dengan daun yang berguguran dari pohon ceri depan rumahmu, apakah sudah kau sapu?
Apa yang kau lakukan, Sayang? Apakah kau masih terjaga untuk itu? Apakah kau sudah mendapatkan jawaban dari angin yang selalu mampir hanya untuk mengatakan kalau ia belum menerima pesan untuk kemudian disampaikan kepadamu? Tidakkah kau ingin tidur saja dan terbangun esok hari untuk menyiapkan sarapan? Kau terlihat kurus dan ringkih, tidak mau makan dan yang kau lakukan hanyalah terjaga sampai malam terasa panjang dan dentingan tongkat satpam terdengar memukul tiang listrik. Tidakkah kau ingin ke pasar untuk membeli cermin dan melihat betapa menyedihkannya dirimu, Sayang? Kau terlihat lebih gila dari perempuan tua yang kutemui di lampu merah. Dan tahukah kau bahwa cerita tentang harimu yang panjang yang kau ceritakan kepada dinding bisu itu adalah cerita yang sama setiap harinya?
Sayang, ini bukanlah salahmu, bukan juga salah dinding tua, angin, pohon ceri, tiang-tiang, lampu remang, dan semuanya. Yang kau lakukan tidaklah salah dan katakan pada angin untuk berhenti mampir hanya untuk basa-basi demi menikmati secangkir teh yang kau buat. Kau membiarkannya pergi, itu benar, Sayang, kau tidak perlu menyesal. Kau tidak bisa memaksa orang yang ingin pergi untuk tetap tinggal. Tentu kau tidak ingin berdampingan dengan seseorang yang mencintaimu seperlunya ketika kau mencintainya sepenuhnya, bukan? Maka, tidurlah, Sayang.
Apa yang kau lakukan, Sayang? Apakah kau masih terjaga untuk itu? Apakah kau sudah mendapatkan jawaban dari angin yang selalu mampir hanya untuk mengatakan kalau ia belum menerima pesan untuk kemudian disampaikan kepadamu? Tidakkah kau ingin tidur saja dan terbangun esok hari untuk menyiapkan sarapan? Kau terlihat kurus dan ringkih, tidak mau makan dan yang kau lakukan hanyalah terjaga sampai malam terasa panjang dan dentingan tongkat satpam terdengar memukul tiang listrik. Tidakkah kau ingin ke pasar untuk membeli cermin dan melihat betapa menyedihkannya dirimu, Sayang? Kau terlihat lebih gila dari perempuan tua yang kutemui di lampu merah. Dan tahukah kau bahwa cerita tentang harimu yang panjang yang kau ceritakan kepada dinding bisu itu adalah cerita yang sama setiap harinya?
Sayang, ini bukanlah salahmu, bukan juga salah dinding tua, angin, pohon ceri, tiang-tiang, lampu remang, dan semuanya. Yang kau lakukan tidaklah salah dan katakan pada angin untuk berhenti mampir hanya untuk basa-basi demi menikmati secangkir teh yang kau buat. Kau membiarkannya pergi, itu benar, Sayang, kau tidak perlu menyesal. Kau tidak bisa memaksa orang yang ingin pergi untuk tetap tinggal. Tentu kau tidak ingin berdampingan dengan seseorang yang mencintaimu seperlunya ketika kau mencintainya sepenuhnya, bukan? Maka, tidurlah, Sayang.