Sorot mata itu tidak berubah, masih sama seperti kali pertama sepasang mata itu membuat jantungku turun ke perut. Warnanya masih sama, cokelat tua, tapi, sedikit cerah. Sepasang mata itu kini menatap sepasang manik mata milikku, aku hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Apakah sepasang mata itu menyadari sorot mataku yang tidak lagi sama?
Aku baru mengetahuinya setelah diam lama didepan cermin. Satu jam, dua jam, atau lebih. Sepasang mataku masih menatap bayangan diriku dalam cermin yang bertabur bedak. Akhir-akhir ini aku memang sibuk bermain dengan bedak-bedak yang sengaja kubeli untuk menyamarkan wajahku yang -sejak sepasang mata itu berkedip lalu pergi- terlihat menyedihkan. Aku sampai hafal dengan harga-harga bedak diluar sana, aku mendadak jadi kolektor bedak. Tapi rasanya, semua bedak itu tidak membuat wajahku terlihat membaik, entahlah, raut wajahku masih sama bahkan makin buruk.
Aku bahkan bisa melihat luka dari sorot mataku, sekalipun cermin itu dipenuhi taburan bedak. Jika akulah cermin itu, mungkin aku sudah meremukkan kaca karena bosan melihat orang yang sama bercermin hanya untuk memastikan bahwa ia sedang baik-baik saja, yang kenyataannya, tidak.
"Cermin, Cermin, apakah wajahku masih cantik seperti dulu?"
Aku mulai merasa gila, bicara tentang luka memang tidak ada habisnya. Baiklah, mari kita sudahi percakapan tentang luka milikku ini.