Minggu, 16 Oktober 2016

[MONOLOG] Bicara Tentang Luka

Sorot mata itu tidak berubah, masih sama seperti kali pertama sepasang mata itu membuat jantungku turun ke perut. Warnanya masih sama, cokelat tua, tapi, sedikit cerah. Sepasang mata itu kini menatap sepasang manik mata milikku, aku hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Apakah sepasang mata itu menyadari sorot mataku yang tidak lagi sama? 

Aku baru mengetahuinya setelah diam lama didepan cermin. Satu jam, dua jam, atau lebih. Sepasang mataku masih menatap bayangan diriku dalam cermin yang bertabur bedak. Akhir-akhir ini aku memang sibuk bermain dengan bedak-bedak yang sengaja kubeli untuk menyamarkan wajahku yang -sejak sepasang mata itu berkedip lalu pergi- terlihat menyedihkan. Aku sampai hafal dengan harga-harga bedak diluar sana, aku mendadak jadi kolektor bedak. Tapi rasanya, semua bedak itu tidak membuat wajahku terlihat membaik, entahlah, raut wajahku masih sama bahkan makin buruk. 

Aku bahkan bisa melihat luka dari sorot mataku, sekalipun cermin itu dipenuhi taburan bedak. Jika akulah cermin itu, mungkin aku sudah meremukkan kaca karena bosan melihat orang yang sama bercermin hanya untuk memastikan bahwa ia sedang baik-baik saja, yang kenyataannya, tidak.

"Cermin, Cermin, apakah wajahku masih cantik seperti dulu?"

Aku mulai merasa gila, bicara tentang luka memang tidak ada habisnya. Baiklah, mari kita sudahi percakapan tentang luka milikku ini. 

Minggu, 02 Oktober 2016

Si Tukang Ngintip

Cangkir kopi milikmu telah kosong,
aku mengintip lewat kisi

Kau mengikat rambutmu yang helainya jatuh
pas ditengkuk,
aku mengintip lewat kisi

Kau melamun

Kau menghela napas berat
dua kali dalam lima menit terakhir,
aku mengintip lewat kisi

Kau membuka sedikit bibirmu,
Arghhh! aku menelan ludah dibuatnya

Oh, kau menoleh, setelahnya
"Hey! Si Tukang Ngintip!"

Aku melarikan diri bersama bayang dirimu
yang kubawa separuh


(2016)



Kamis, 29 September 2016

Cerita Bohong

Kau namai dirimu dengan hujan
Sedang aku, senja yang berharap tak pernah selesai
Seperti cerita-cerita misteri dibelakang sekolah
Atau siluman buaya putih di kolam ikan milik sekolah
Sama bodohnya? Itu mengalir begitu saja, kau tahu
Ssst, diam!
Aku menikmati ceritanya


(2016)

Sabtu, 24 September 2016

Cerita Tentang Tuan dan Gadis Gincu

Tuan
Tuan
Tuan

Aku datang
Hendak meminta uang
Untuk membeli gincu

Gadis
Gadis
Gadis

Kemari, tuan beri uang
Tuan meminta itu
Untuk harga kau beli gincu


(2016)

Rabu, 21 September 2016

Cerita Tentang Cookies

Mari datang, sayang, kemari
Mari datang, sayang
Mari datang
Mari

Sudah aku bersihkan beranda
Secangkir teh hangat di teras depan
Manis, bukan tebu, aku pakai stevia

Dengan empat butir cookies kesukaanmu
Cokelat, cokelat, cokelat, cokelat
Pas empat butir

Delapan kali suap kalau satu cookies dua kali suap
Duabelas kali suap kalau satu cookies tiga kali suap
Kau menyuap sepuluh kali,

Dua cookies dengan cara pertama
Dua cookies dengan cara kedua
Biar adil kau bilang



(2016)

Selasa, 20 September 2016

Kisah Hujan dan Kaki

Hujan turun lagi
Deras,
Memang tidak sederas kemarin
Tapi aku kehujanan sampai kuyup

*

Ada pecahan beling, juga
Darah, menuntunmu kepadaku di pojok ruangan
Sedang meringkuk
"Darah, beling, awas!" Kau berseru.
Aku memelas, "Aku tak sengaja menginjaknya."
Kau cemas lalu datang
Membersihkan luka dengan tatap iba
"Itu beling yang kau pecahkan semalam." Kataku.



(2016)

Selasa, 16 Agustus 2016

Pamit

Aku mencari waktu yang tepat untuk pergi

Tentu tidak dengan waktu yang ramai

Juga jendela-jendela kamar yang
Terbuka lebar

Aku pun benci perpisahan, pamitan

Juga air mata yang mengalir
Dari ringkih tatap matamu


(2016)

Sabtu, 13 Agustus 2016

Teruntuk Kamu yang Masih Diam pada Satu Masa

Ketika takdir menamainya cinta
Sedang luka yang kau rasa kian duka

Sampai-sampai,


Kau menangis, tapi tidak menangis

Matamu tak sembab, sebab
Tidak menangis, tapi kau menangis

Ah, air matamu hilang, atau


Habis?


Kemudian kau menari ditengah dukamu

Dengan sesak yang membelenggu
Terguyur kepingan masa lalu yang
Menikam jantungmu, kau,

Hatimu mati, namun tengah menari

Kau mati, baru ia mencari


(2016)


Jumat, 12 Agustus 2016

Pada Sebuah Peron

Pada sebuah peron yang memeluk sepi, ia menunggu 
Tanpa peduli gelap malam kian kelam
Tanpa peduli dingin telah menusuk kalbunya
Siapa yang ia tunggu?
Dengan tanpa gamang mengorbankan waktu demi ketidakpastian, meski
Tampak gelisah dan menunggu penuh debar
Juga harap yang terus memagut pendar

Tak ada lagi kopi panas pada cangkir di tangan kirinya
Meski penuh, tak lagi uapnya menyambut, terhirup
Hidung bangirnya yang terlihat memerah
Juga disambut kantung mata yang kian menghitam

Peron masih mengantar sepi, meski ramai mulai 
Menyerakkan cerita-cerita sambil lalu
Juga dinding lapuk yang terbiasa bisu
Ia sendiri menanti, ah!
Siapa?
Ia terus bertanya pada hatinya

Ia pulang dengan senyum pilu di bibirnya, tapi
Kembali di kemudian hari, lalu kemudian hari,
Lalu kemudian hari
Ia masih menunggu rupa sosok yang sama hadir
Dengan secangkir kopi yang tak pernah sempat disesapnya
Juga pada peron yang mengantar sepi

(2016)

Jumat, 29 Juli 2016

[MONOLOG] Tidurlah, Sayang

Hai, Sayang, hari sudah malam, tidakkah kau ingin tidur? Atau terjaga barangkali. Seperti yang biasanya kau lakukan. Bercerita tentang harimu yang panjang kepada dinding bisu yang rapuh dan mengelupas, yang sesekali mengeluarkan bunyi yang terdengar dari derap langkah cecak diantara sunyi. Atau, bagaimana dengan derak yang terdengar dari tiang-tiang yang mulai rapuh dan menggigil ketika angin berbisik sampai telingamu. Juga lampu-lampu remang yang memantulkan jingga dari binar matamu yang sayu. Tentu aku tidak lupa dengan gemercik air keran yang sengaja kau buka sedikit agar air yang keluar tidak terlalu banyak. Lalu bagaimana dengan daun yang berguguran dari pohon ceri depan rumahmu, apakah sudah kau sapu?

Apa yang kau lakukan, Sayang? Apakah kau masih terjaga untuk itu? Apakah kau sudah mendapatkan jawaban dari angin yang selalu mampir hanya untuk mengatakan kalau ia belum menerima pesan untuk kemudian disampaikan kepadamu? Tidakkah kau ingin tidur saja dan terbangun esok hari untuk menyiapkan sarapan? Kau terlihat kurus dan ringkih, tidak mau makan dan yang kau lakukan hanyalah terjaga sampai malam terasa panjang dan dentingan tongkat satpam terdengar memukul tiang listrik. Tidakkah kau ingin ke pasar untuk membeli cermin dan melihat betapa menyedihkannya dirimu, Sayang? Kau terlihat lebih gila dari perempuan tua yang kutemui di lampu merah. Dan tahukah kau bahwa cerita tentang harimu yang panjang yang kau ceritakan kepada dinding bisu itu adalah cerita yang sama setiap harinya?

Sayang, ini bukanlah salahmu, bukan juga salah dinding tua, angin, pohon ceri, tiang-tiang, lampu remang, dan semuanya. Yang kau lakukan tidaklah salah dan katakan pada angin untuk berhenti mampir hanya untuk basa-basi demi menikmati secangkir teh yang kau buat. Kau membiarkannya pergi, itu benar, Sayang, kau tidak perlu menyesal. Kau tidak bisa memaksa orang yang ingin pergi untuk tetap tinggal. Tentu kau tidak ingin berdampingan dengan seseorang yang mencintaimu seperlunya ketika kau mencintainya sepenuhnya, bukan? Maka, tidurlah, Sayang.

Rabu, 15 Juni 2016

Tidak Bisa Pulang

Yang ku takutkan

Dari sebuah perjalanan

Dan kembara jauh adalah

Disaat aku merindukan rumah

Tapi aku tidak bisa pulang

Selasa, 14 Juni 2016

Perihal Rindu

Tak ada yang kutahu perihal menahan rindu
Yang kupaham benar,
Rindu ini telah sampai padanya puncak yang merembang
Dan siap luruh begitu kau menjeremba
Lalu aku telak rebah dalam dekap

Rabu, 08 Juni 2016

Waktu

Aku tak tahu apa yang dikatakan waktu
Ketika ruang tak memberi kita jarak dan
Semesta menghadirkanmu jelma rindu yang tak pernah usai
Dan waktu,
Apakah ia mendengar detak jantungku yang berantakan?
Ataukah malah waktu,
Yang mengunuskan pedang jelma tatap matamu?

Selasa, 31 Mei 2016

Salah Sangka

Aku takut salah prasangka

Ketika dugaku tersambar celoteh lalu

Bak angin meniup

Terbang lalu entah kemana

Hilang,

Takut dugaku tak kembali

Melayang,

Ternyata aku salah sangka

Jumat, 27 Mei 2016

Masih Abu-abu

Kau begitu abu-abu dan
Menghadirkan tanya melulu

Tidak bisa pasti mengadakan aku
Tapi menarikku hingga jauh dan terjatuh

Rumah

Gelap,
Aku mulai menyusuri setapak demi setapak,
Jalan yang sudah digerogoti masa
Mencari jalan untuk pulang,
Untuk kembali pada masa dimana ada kita
Ingin rasanya pulang ke rumah
Rumah yang benar-benar rumah
Tanpa tuan penjerat duri

Aku hanya ingin kembali ke rumah
Bertemu kamu yang menderma hati

Hanya rumah,
Dengan tiang-tiang yang sama
Yang kau ciptakan
Dengan alasan kita

(2014)

Rabu, 25 Mei 2016

Bulan Rindu

Bulan pun bisa merindu
Rindu pada cahaya pagi yang tak pernah ia nikmati
Bahkan mungkin lebih merindu
Daripada sosok Adam kepada Hawa
Juga Majnun kepada Laila

Selasa, 24 Mei 2016

Bandara

Aku duduk

Kau juga

Kita, dengan dua gelas kopi
Lalu dipertemukan agar mengerti apa itu kehilangan

Pada bandara yang sunyi, pukul 5 pagi

Kau memilih yang pergi
Belajar agar tak lagi menyiakan

Aku yang ditinggal
Belajar untuk mencari jalan pulang yang tepat

Minggu, 22 Mei 2016

Tak Lagi Teduh

Hujan tak lagi mengantar teduh
Ketika aku ada namun kau memilih
Meniadakanku

Gerimis tak lagi mengadakan rindu
Ketika aku berupaya mendekapmu
Dan kau malar-malar menapisku

Sabtu, 07 Mei 2016

Sebab Ia

Aku suka senja sebab ia bagian dari
malam
Aku suka teduh sebab ia direngkuh
hujan
Aku suka embun sebab ia milik
pagi

Tapi aku hanya suka
Kalau kamu,

Aku sangat suka,

Kemudian sayang,

Sampai cinta benar-benar

Kamis, 05 Mei 2016

Jejak Cinta

Di dekatmu aku tak lagi dapat membuat frasa
Yang dapat kulakukan hanya diam
Mengimbangi tatap matamu yang meninggalkan jejak
Cinta, juga jemari tanganmu yang menjalarkan
Hangat dari sela-selanya
Aah..

Jemarimu

Kau biarkanku terjatuh dengan sekali tatap
matamu,
Lalu kau membunuhku dengan sentuh
jemarimu

Jelak

Kita tak sempat bersua
Ketika aku tiba-tiba terjaga dan
Mulai linglung dengan sekitar
Juga jelak,
Dengan jarak yang tak begitu jauh
Namun mengambil alih sisa langkah yang kita punya
Dan menjadikannya repih ketika 
Rindu ingin bermain disana

Kamis, 07 April 2016

Mengapa Abu?

Aku mencoba berdamai dengan hatiku
Ketika luka yang kau cipta mulai menyusun
Cerita

Aku mencoba berdamai dengan hampa
Ketika ruang diantara kita mulai membentuk
Dimensi berbeda

Kau bilang tak sengaja,
Setelah aku terjatuh kemudian lumpuh, lalu
Mengembara masih dengan tanya pada benak

Mengapa kau begitu abu-abu?

Jumat, 22 Januari 2016

Jangan

Jangan berjanji kepadaku
Karena aku tidak butuh rayu

Apabila memang diharuskan berjanji,
Maka, berjanjilah,
Dengan kadar yang wajar dan
Biarlah janji menjadi pengingat, 

Bahwa ada hati yang selalu terjaga 
Untuk kemudian siap dijaga

Senin, 11 Januari 2016

Janji Teduh

Aku bercerita kepada langit kelabu
Tentang teduh yang dibawanya saat mampir

Aku bercerita kepada hujan
Tentang teduh yang merapal janjinya di penghujung sepi

Teduh yang ku ceritakan,

Akan memelukku dalam setiap rintikmu,
Menemani riak yang menggenang dan
Bau tanah mengharum

Akan mendekapku tatkala sepi
Meninabobokan rindu yang tak pernah sampai
Dan sunyi, diantara deru-deru yang memutar sunyata

Janji teduh kepadaku


Rabu, 06 Januari 2016

Titik [.]

Kau tahu aku membenci titik
Karena tugasnya adalah mengakhiri
Dengan sengaja, kau mengubah
Dirimu jelma sebuah titik

Kau bilang aku adalah tanda tanya
Karena aku menyimpan seluruh,
Tanya yang bernaung di benakmu yang
Tak jua kau temukan jawabnya

Hingga kau memilih titik untuk mengakhiri segalanya

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...