Sabtu, Are,
Aku masih menatap langit-langit di kamarku. Aku belum tidur karena hujan turun sangat deras di luar sana, lagi pula ini masih pukul 9 malam. Sore bagimu, bagi kita, waktu terasa berjalan cepat saat kita berpelukan.
Aku menulis surat untukmu, lagi. Dan aku berencana terus menulis surat, sampai yang kau temukan hanya jemariku yang kaku memegang pena dan ragaku terbujur kaku di kursi sebelah ranjang aroma kenangan, di sebelah pigura berisikan potret dua manusia yang saling mencintai meskipun dunia berperang untuk ketiga kalinya. Lalu ada asbak yang dipenuhi abu rokok kesukaanmu dan bungkus roti bakar cokelat keju yang berminyak.
Aku belum berdoa untukmu sejak pukul 6 sore. Aku menghabiskan waktu dan air mataku untuk menangisi kedua orang tuaku.
Aku selalu bersungguh-sungguh dalam berdoa. Sama seperti ketika aku mengatakan kepadamu bahwa rasa yang dimiliki manusia ini mampu mematahkan rusuknya sendiri. Tapi kau tidak pernah percaya, terlalu mustahil kau bilang. Sedangkan aku terus menenggelamkanmu dalam kemustahilan yang nyata.
(2021)