Senin, 28 Januari 2013

sesal

sayup aku menatap langit
kelabu, pekat
bagai raga tanpa nyawa
jiwaku seperti mati
terbawa pekat malam
pecut terus berkecamuk
dalam raga penuh sesal
dan tangis tiada arti
jiwaku lumpuh




Gina Zahra Anjani

bunuh saja

dalam ketidaksempurnaan
mereka semua mengejek
mereka semua memaksa
seketika aku merasa bukan aku
pecahkan kaca yang ada didepanmu
dan gorok leher mereka
sampai mati





Minggu, 27 Januari 2013

mengaduh

biar saja mengaduh
toh tetap merintih
biar saja mengaduh
tetap sendiri derita dirasa
biar saja mengaduh
tetap tidak memberhentikan pecut
biar saja mengaduh
tetap akan mati juga




Gina Zahra Anjani











Sabtu, 26 Januari 2013

aku mati


aku bernafas
mengatakan ribuan kata
aku merasa
detak jantungku yang berdetak 
tidak pada detiknya
dalam rona jingga aku bersua
dalam rona jingga aku melepas asa
aku mencinta
tapi aku tersakiti jua

oh... CINTA...
yang terdalam aku rasa
menyeret derita nestapa
dalam gaung sang cinta
menetap sepi berkepanjangan
lonceng itu aku bunyikan
tapi tak juga temani sepi
dalam ramai aku menyepi
dalam sepi,
aku mati




Gina Zahra Anjani 

Kamis, 17 Januari 2013

Rindu Dalam Hujan

Hujan itu turun lagi. Jendela kamarku terhujani lagi. Aku selalu menyukai saat-saat dimana hujan turun menghujam bumi, melihat saat rintik-rintik air hujan turun, mendengar saat hujan bergantian menampar tanah. Menatap sendu, tatapan kosong namun penuh arti. Menyelipkan sedikit ruang yang terpenuhi rindu dalam hujan. Rindu yang sampai kapanpun tetap diam merindu. Tidak ada ucapan, tidak ada tatapan, dan tidak ada sentuhan. Rindu yang sampai kapanpun tetap membungkam dalam hening. Hening di keramaian hujan. Merasa kosong dalam hati. Rindu yang sampai kapanpun tidak pernah kamu rasakan, karena rindu ini berjatuhan mengikuti air hujan dan terkumpul menjadi genangan. Genangan air mata.

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...