Selasa, 09 Maret 2021

Surat Untuk Kalandre #SuratTiga

Selasa, setelah hari senin minggu kedua.

Surat ketiga yang kutulis siang tadi, dengan kedua mata yang sibuk melahap angin yang terus berhembus dari barat. Aku berangkat jauh lebih awal meskipun aku tidak tidur semalaman karena sibuk memandangi wajahmu dalam bentuk lembaran berwarna.

Aku teringat bagaimana kau mengatakan bahwa hidup memang soal pilihan. Seperti cita-cita masa kecilmu atau teman-temanmu, bahkan Ayah Ibumu yang mungkin cita-citanya kini hanya bertemu di Surga. Kau mengatakan soal pilihan-pilihan dalam hidup yang bisa kuambil karena aku berhak memilih atas hidupku. Aku tidak setuju sampai pada aku memilih untuk terus bersedih atas dirimu. Aku bisa saja memilih untuk menanggalkan segala rasa gundah gulana yang terus terbayangi olehmu, Tuhan pun tidak ingin melihat aku, hambanya, bersedih karena manusia lainnya.

"Mengapa kau selalu menangisi sesuatu yang fana?" Kau bertanya sesekali, tentu saja saat itu.

Aku tidak pernah bisa menjawabnya. Aku bahkan tidak tahu apa yang abadi selain kematian. Aku tak sempat bertanya padamu, jika aku adalah bagian dari kehilangan-kehilangan yang mungkin kau temui, akankah kau bersedih? Atau setidaknya terbasahilah sedikit matamu yang tak pernah tersentuh air mata.

Aku memilih menikmati rasa sedihku, tidak beranjak dari perasaan yang terus membuatku mati perlahan. Tentu ditemani kepulan asap yang terbentuk dari mulutku. Asapnya menjelma wajahmu, sesekali, ketika aku sedang gila-gilanya. Tapi aku tidak mencetak tato bentuk wajahmu pada tubuhku dan inisial huruf K di dada sebelah kananku, meskipun aku ingin sekali ada tanda bahwa kaulah pemilik atas tubuh ini. Namun aku mengambil sekian persen kemungkinan terkecil, sebuah alasan: bertaubat sebelum aku mati.


(2021)


Sabtu, 27 Februari 2021

Surat Untuk Kalandre #SuratDua

Sabtu, Are,

Aku masih menatap langit-langit di kamarku. Aku belum tidur karena hujan turun sangat deras di luar sana, lagi pula ini masih pukul 9 malam. Sore bagimu, bagi kita, waktu terasa berjalan cepat saat kita berpelukan.

Aku menulis surat untukmu, lagi. Dan aku berencana terus menulis surat, sampai yang kau temukan hanya jemariku yang kaku memegang pena dan ragaku terbujur kaku di kursi sebelah ranjang aroma kenangan, di sebelah pigura berisikan potret dua manusia yang saling mencintai meskipun dunia berperang untuk ketiga kalinya. Lalu ada asbak yang dipenuhi abu rokok kesukaanmu dan bungkus roti bakar cokelat keju yang berminyak.

Aku belum berdoa untukmu sejak pukul 6 sore. Aku menghabiskan waktu dan air mataku untuk menangisi kedua orang tuaku. 

Aku selalu bersungguh-sungguh dalam berdoa. Sama seperti ketika aku mengatakan kepadamu bahwa rasa yang dimiliki manusia ini mampu mematahkan rusuknya sendiri. Tapi kau tidak pernah percaya, terlalu mustahil kau bilang. Sedangkan aku terus menenggelamkanmu dalam kemustahilan yang nyata.


(2021)

Rabu, 24 Februari 2021

Surat Untuk Kalandre #SuratSatu

Rabu, Are,

Pukul 1 malam aku terbangun dari tidurku yang baru 5 menit. Dadaku terus-menerus menaungi suara jantung yang tidak beraturan. Agaknya aku mendengar namamu pada tiap detaknya.

Entah puji kepada siapa yang kau agungkan meskipun kita bertuju pada kiblat yang sama, tapi selalu ada doa dimana namamu kutitip pada malaikat. Entah apakah Tuhan terduduk untuk membalas doa dan upayaku dalam bentuk yang nyata, atau Tuhan masih menaruh doaku pada antrian kesekian. Tapi kita sama-sama tahu Tuhan tidak tidur, aku yakin bahkan Tuhan kita tidak mengantuk.

Are, apa doamu malam ini? Apakah ada namaku terselip di dalamnya? Jika memang ada, seperti apa bentuk doa untukku? Apa kau berdoa agar kita bisa bersama, atau kau berdoa agar kita tidak lagi bisa berjumpa?


(2021)

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...