Selasa, setelah hari senin minggu kedua.
Surat ketiga yang kutulis siang tadi, dengan kedua mata yang sibuk melahap angin yang terus berhembus dari barat. Aku berangkat jauh lebih awal meskipun aku tidak tidur semalaman karena sibuk memandangi wajahmu dalam bentuk lembaran berwarna.
Aku teringat bagaimana kau mengatakan bahwa hidup memang soal pilihan. Seperti cita-cita masa kecilmu atau teman-temanmu, bahkan Ayah Ibumu yang mungkin cita-citanya kini hanya bertemu di Surga. Kau mengatakan soal pilihan-pilihan dalam hidup yang bisa kuambil karena aku berhak memilih atas hidupku. Aku tidak setuju sampai pada aku memilih untuk terus bersedih atas dirimu. Aku bisa saja memilih untuk menanggalkan segala rasa gundah gulana yang terus terbayangi olehmu, Tuhan pun tidak ingin melihat aku, hambanya, bersedih karena manusia lainnya.
"Mengapa kau selalu menangisi sesuatu yang fana?" Kau bertanya sesekali, tentu saja saat itu.
Aku tidak pernah bisa menjawabnya. Aku bahkan tidak tahu apa yang abadi selain kematian. Aku tak sempat bertanya padamu, jika aku adalah bagian dari kehilangan-kehilangan yang mungkin kau temui, akankah kau bersedih? Atau setidaknya terbasahilah sedikit matamu yang tak pernah tersentuh air mata.
Aku memilih menikmati rasa sedihku, tidak beranjak dari perasaan yang terus membuatku mati perlahan. Tentu ditemani kepulan asap yang terbentuk dari mulutku. Asapnya menjelma wajahmu, sesekali, ketika aku sedang gila-gilanya. Tapi aku tidak mencetak tato bentuk wajahmu pada tubuhku dan inisial huruf K di dada sebelah kananku, meskipun aku ingin sekali ada tanda bahwa kaulah pemilik atas tubuh ini. Namun aku mengambil sekian persen kemungkinan terkecil, sebuah alasan: bertaubat sebelum aku mati.
(2021)