Selasa, 20 November 2018

Selamat Pergi

aku ucapkan selamat
kepada matahari yang memilih pergi
meninggalkan embun bersarang
pada daun di tepi kolam

juga debu yang melekat pada jendela
kau, selamat yang telah pergi
dan meninggalkan bayangan
pada air tenang



(2018)

Begitu?

hujan jatuh
tepat di atas bahumu
yang tak tersentuh

kau bilang pada hujan
jangan cepat pergi,
nanti kau rindu

begitu?



(2018)

Mengungkit Sunyi

tidak ada percakapan malam ini
dalam rentang waktu
hingga jutaan tahun cahaya
sepi,
seperti pantai yang mengungkit sunyi
tanpa ada debur ombak ditiap gelungnya



(2018)

Nebula

terciptalah nebula
dari ledakan supernova
sang bintang mati,
yang cahayanya lebih terang dari siang

terbentuklah nebula
yang berjarak 6.500 tahun cahaya
dari planet bumi
dan menghuni rasi taurus

ia jatuh cinta,
lalu, jatuhlah ia sejatuh-jatuhnya
kepada salah satu galaksi dan
menabur terang ke seluruh penjuru
dekat andromeda



(2018)

Tak Ada Yang Terjaga

tak ada yang terjaga
sesaat pekat menyinggahi malam

ia memunggungi temaram

dibalik sirat-sirat ranting berderak yang gelap
sekalipun purnama memaheratkan jelaga



(2018)

Sisa-Sisa Gelisah

ialah mendung,
yang menjadikannya kelabu dengan cemas
yang mengaku sebagai ragu

tetiba,
rindu hanyalah sisa-sisa gelisah
yang pertemuan sekalipun
dibuatnya menyerah



(2018)

Apakah Ada yang Lebih Meneduhkan?

apakah ada yang lebih meneduhkan?
dari sejuk yang ditawarkan buaian angin pagi
selain daripada dialog diujung malam sunyi

kita dengan rindu, remang lentera,
juga gerimis di balik jendela?



(2018)

Apakah Ada yang Lebih Memabukkan?

apakah ada yang lebih memabukkan?
dari merlot yang kau teguk 330 ml
setiap malamnya,

selain daripada tatap matamu
yang menyisipkan teduh?



(2018)

Kau Sudah Rindu?

kemarin hanya diperuntukkan untuk ia
yang mencintai masa lalu, kau tahu?

tidak, saya suka kemarin.

kenapa?

tanpa kemarin saya tidak bisa 
merindukanmu hari ini.

bagaimana dengan besok? hari ini akan menjadi kemarin,
kau sudah rindu?

saya tetap rindu kamu. kau tahu, saya seorang
pecandu rindu
kau, tempat saya merebah rindu
rin-du, ya, rin-du



(2018)

Secangkir Rindu

aku menuangkan rindu
dalam secangkir kopi yang kusuguhkan pagi tadi

"ada teh tawar hangat?" katamu selepasnya

aku lupa kau membenci kopi
maaf, rindu, kau gagal berlabuh kali ini



(2018)

Tentang Kau yang Kuberi Nama Malam

kuceritakan pada purnama
yang menggantung di langit kelabu
pada malam ke empat belas

tentang kau yang kuberi nama malam

aku terbaring pada helai ilalang
dan tergelitik angin malam

"masuklah, dingin."

bisik daun kering yang kian remuk

nanti dulu,
aku masih rindu malam milikku



(2018)

Senin, 08 Oktober 2018

[Monolog] Rupa Getir

Kau tahu, bagiku waktu terus berjalan mundur. Seperti memastikan kesempatan-kesempatan yang menggugat ketepatan. Entah untuk memastikan bahwa kita adalah orang yang tepat diwaktu yang salah ataukah kita adalah orang yang salah diwaktu yang tepat?

Kau juga tahu, bagiku waktu terus melambat. Ia bercerita sekaligus memutar roll film yang tak pernah ada wujud nyatanya. Itu tentang kita dan sementara kita hanya bisa terdiam ikut menyaksikan waktu yang tak pernah sampai ke tujuan, meskipun sesekali kita ikut menari dalam gerak yang sulit terbaca. Waktu seperti menentang kebersamaan kita dan membenarkan bahwa kita adalah bagian dari ketepatan di waktu yang salah.

Sedetik, dua detik, tiga detik.
Aku masih saja terpaku pada matamu. Masih saja aku dibuatnya terenyuh walaupun mendung sudah bergelayut cukup lama disana. Sedang angin terus meniup matamu hingga memerah. Tatapmu masih saja menyisir tepian rapuh yang kuyakini melebur selepas jejakmu menghilang dari pendarnya. Perpisahan mulai bekerja sebagaimana mestinya, membangun benteng dan mengurung pelukan pada satu hal yang tidak lagi dalam jangkauan.

Mendungmu masih saja bergelayut, menyentak ruang terdalam hatiku yang sudah terlanjur kau isi. Sedikit demi sedikit gerimis turun memberi sentuhan pada yang tak tersentuh, sebelum akhirnya deras dengan sebagian diriku yang lebur. Lalu ada apa dengan perpisahan? Mengapa ia berdiri lama disana? Ia masih saja menulis cerita tentang kau dan aku yang entah kepada siapa akan ia ceritakan rupa getirnya. 

Kau tidak tahu, bagiku entah sejak kapan satuan waktu berubah menjadi lama, sangat lama. Tapi mungkin sejak perpisahan tergambar jelas dalam manik matamu yang hitamnya melebihi arang. Selepasnya peristiwa dalam jengkal, sejak keningmu hanya menyisakan tempat terakhir bagi kecupanku yang kuyakini tak akan pernah cukup. Sesaat, aku ingin waktu menjadi jauh dan detik menjadi lebih lama dari biasanya dan pelukanku, aku ingin pelukanku masih berada pada rengkuh seluk ternyamanmu. Juga jemariku yang menyusuri helai demi helai rambutmu yang tertiup angin bulan rindu. 

Aku dipermainkan waktu, ia malah lari terburu-buru.

Kau, rindu, ia akan terus mencumbu setiap waktu yang tertinggal pada ruang yang kau sapu. Juga mendung yang akan menemaniku menikmati gemuruh terakhir, pada hujan yang meluruhkan bayang dirimu seluruhnya. Perpisahan mengingatkan betapa tidak ada yang amerta di dunia ini. Betapa waktu benar-benar berjalan tanpa bisa berhenti. Entah bagaimana bisa satu dekapan tergantikan dengan kaku yang memaksa untuk takluk. Lalu siluet tubuhmu menghilang seiring petang yang terus berganti mendekati malam. Memori bertaruh, ia hanya menjadi pengingat bahwa meskipun kita menembus jutaan tahun cahaya untuk kembali menapaktilasi tempat yang sudah terilas, kita tetaplah dua orang yang menyanding kata 'pernah'.

Sekarang aku tak suka pagi, pada senin yang membuai mendung pada langit sendunya. Seperti kau, pagi hanya menitip basah embun untuk kemudian tidak dijaga. Sedang kau, tak pernah sadar bahwa aku selalu terjaga untuk memastikan hatimu terjaga.



(2018)

Senin, 08 Januari 2018

[Monolog] Selamat Datang Perpisahan

Bandara merupakan tempat terakhir yang mengantarkan kita pada sunyi. Menjadi tempat terakhir bagi pelukan erat yang melepas derai air mata dan isakan yang tak terlupakan. Menjadi tempat terakhir, dimana kesendirian menjadi satu-satunya hal yang kita ingat selepasnya. Aku ingat dengan jelas air wajahmu yang sendu meski gelap malam menutup wajahmu separuh. Aku ingat dengan jelas lembut helai rambutmu yang tertiup angin bulan Mei dan sendu-sendu yang mewakili desiran seluruh tubuhmu.

Kita berdua kaku, kau tak berani menatap wajahku meskipun aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Mungkin kita terlalu kuat, hingga kau paham betul bahwa tidak ada satupun bagian dari tubuhku yang merasa baik. Kau tahu malam itu, angin bertiup dengan kencang. Mencairkan eskrim cokelat kesukaanmu dengan mudah dan membuat sedikit genangan pada genggaman tanganmu. Kau masih diam saat aku mengusap jemarimu. Jari-jarimu dingin dan kaku, entah karena es krim yang menetes di jemarimu atau karena suasana malam itu.

Aku tak melihat jam ditanganku dan bodohnya, aku juga tak melontarkan kalimat kepadamu. Yang kusadari saat ini, aku telah membuang detik yang kita miliki saat itu. Aku yang selalu mematuhi waktu menjadi pengecut kala melihat dirimu yang terus menunduk. Aku seakan lupa bahwa waktu masih mengiringi kita hingga sampai ke tepian. Detik demi detik yang terlewati begitu saja hanya bertemankan suara napas kita. Aku tahu betapa kau berusaha menahan napasmu agar terdengar beraturan. Kau tak menyadari bahwa suara detak jantungmu lebih keras dari hela napasmu. 

Maaf, pada malam terakhir yang terbingkai sunyi. Pada isakan tangis yang keluar dari bibirmu yang sesungguhnya sangat kubenci, kau tahu aku tak suka melihatmu menangis. Pada pelukan erat yang menjadi saksi terakhir yang mengantarkan dirimu pada sebuah perpisahan. Maaf, karena kata yang tersusun rapi dalam kepala menjadi beku setelah menyadari waktu dan kesendirian yang akan datang. 

Maaf, kepada dirimu seseorang yang sungguh kucintai. 
Selamat tinggal dan selamat datang perpisahan.


(2018)

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...