Jumat, 12 Agustus 2016

Pada Sebuah Peron

Pada sebuah peron yang memeluk sepi, ia menunggu 
Tanpa peduli gelap malam kian kelam
Tanpa peduli dingin telah menusuk kalbunya
Siapa yang ia tunggu?
Dengan tanpa gamang mengorbankan waktu demi ketidakpastian, meski
Tampak gelisah dan menunggu penuh debar
Juga harap yang terus memagut pendar

Tak ada lagi kopi panas pada cangkir di tangan kirinya
Meski penuh, tak lagi uapnya menyambut, terhirup
Hidung bangirnya yang terlihat memerah
Juga disambut kantung mata yang kian menghitam

Peron masih mengantar sepi, meski ramai mulai 
Menyerakkan cerita-cerita sambil lalu
Juga dinding lapuk yang terbiasa bisu
Ia sendiri menanti, ah!
Siapa?
Ia terus bertanya pada hatinya

Ia pulang dengan senyum pilu di bibirnya, tapi
Kembali di kemudian hari, lalu kemudian hari,
Lalu kemudian hari
Ia masih menunggu rupa sosok yang sama hadir
Dengan secangkir kopi yang tak pernah sempat disesapnya
Juga pada peron yang mengantar sepi

(2016)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...