Sabtu, 12 September 2020

30 Days Writing Challenge: Day 3 - A Memory

Ada beberapa hal yang tidak kumengerti; sebagian isi kepalaku terpenuhi dengan berbagai macam ingatan tanpa aku harus berusaha keras mengingatnya, sementara bagian lainnya ada di sana, namun kabur. Meskipun aku banyak mengingat hal-hal detail yang sudah terlampaui cukup jauh. Kenangan yang terekam tanpa jejak atas hasil kompromi kedua mata dan syaraf otak, terkadang mampu membawaku menapaktilasi tempat yang terus terasa utuh atau bahkan tempat yang sudah terilas.

Umur 3 tahun, di rumahku dulu, sore itu aku pakai baju renang berwarna merah, menjepit rambut dengan berantakan, dan mengenakan pelampung donat yang warnanya abstrak. Aku merengek ke mama untuk pergi berenang, pokoknya hari itu aku mau berenang. Tapi aku malah dibawa ke kamar mandi dan dimandiin masih pakai baju renang. Aku ingat keramik bak mandi di rumahku dulu, biru muda. Aku? masih nangis sambil mandi.

Umur 5 tahun, hari sabtu. Aku nggak sekolah karena lagi sakit. Tapi karena hari sabtu selalu ada makan siang bersama di kelas dan mama kebagian bawa buah hari itu, jadi aku harus ke sekolah sama mama, naik mobil. Aku pakai baju tebal warna ungu, begitu sampai di parkiran aku nggak mau turun karena malu nggak sekolah. Akhirnya aku dititipin ke tukang gorengan, aku suka beli tahunya. Nggak lama kemudian mama nyamperin dan ngebujuk aku untuk ke kelas dulu menyapa teman-teman, "Di dalam ada anggur, masuk aja dulu buat makan anggur." Aku mengiyakan dan saat masuk kelas, aku merasa keren karena nggak pakai seragam sendiri. Hari itu ada anak baru namanya Afi, rambutnya bondol, hidungnya mancung. Aku baru tau dia perempuan setelah SMP, selama itu aku kira Afi seorang laki-laki. Maaf, ya, Afi, namanya juga anak TK.

Umur 5 tahun, tapi udah SD. Hari pertama masuk sekolah entah kenapa pakai baju pramuka. Aku diantar mama ke kelas, tapi aku nggak pakai dasi pramuka. Saat masuk kelas, mama minta tolong seorang Ibu untuk memasangkan dasi pramukaku karena mama lupa cara pasang dasi pramuka. Ibu itu adalah Ibu seorang anak yang menjadi sahabatku sampai sekarang.

Umur 6 tahun, masih kelas 1 SD tapi udah ulang tahun. Hari itu ada temanku yang rambutnya dikuncir kecil-kecil tapi banyak. Besoknya aku minta dikuncir persis kayak temanku, tapi karena penjelasan dari ku kurang, alhasil aku ke sekolah kayak orang gila yang rambutnya berdiri kayak air mancur.

Masih banyak ingatan-ingatan yang ada di kepalaku. Jangan kau tanya, masih teringat jelas dalam ingatan kali pertama kau menatapku dan bagaimana senyum terbingkai di sana. Ketika sudah tidak ada lagi yang bisa disaksikan oleh kedua mata, aku berharap ingatan akan terus ada di sana. Memutar roll film yang tidak ada wujud nyatanya. Tidak akan pernah cukup, namun kita cukupkan roll film yang belum terbakar, berani?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...