aku pernah bertanya-tanya tanpa kesungguhan namun benar bersungguh-sungguh,
perihal bentuk keserasian yang menaungi ego dua manusia yang saling menaklukan diri dengan embel-embel, "Ada pelangi pada cemas di raut wajahmu." atau saling bertanya perihal keberanian di antara rasa takut yang tak pernah mengada-ada.
seperti apa, bentuk yakin dari ego kedua manusia yang saling menautkan gelisah pada setiap jalan yang pernah mereka lalui dengan punggung berbeda, yang kini terlerai di persimpangan,
apakah keduanya benar-benar berjalan atas takdir yang menyerasikan mereka, atau mereka hanya menenggelamkan dirinya masing-masing dalam keserasian yang mereka tata pada satu bidang datar.
memaksa, menyulap rangkaian jigsaw yang tak bisa rapi mengisi teka-teki pada papan yang berantakkan, memaksa oranye pada bidang merah darah yang ikut merasakan resah atas kenaifan sepasang cucu Adam.
aku menarik benang merah tanpa mempedulikan teori dua kutub magnet,
di mana utara memang sepatutnya bersanding dengan selatan
lalu bagaimana dengan faktor ego yang menyelimuti tiap bidang organ dan seluk-beluk jaringan hati, serta sulur-sulur otak manusia?
adakah yang harus mengalah dari dua ego yang terus berseteru dan sibuk memilih helai demi helai kain untuk menyingkap seluruh permukaan yang telanjang? atau bersedia kalah untuk isi kepala dan isi hati yang tak sempat disentuh meski dalam temaram? terus bersahutan tanpa mengerti sepatut apa yang diperdebatkan.
lagi-lagi sepasang cucu Adam naif,
tidak ada benar, tidak ada salah
tidak ada menang, tidak ada kalah
lalu perjalanan seperti apa yang diharapkan dari deru-redam dan sedu-sedan,
yang dimonopoli sesisi, wahai kekasih?
(2020)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar