Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu mengetahui bahwa kamu tidak bisa melakukan apa-apa untuk orang yang kamu sayangi saat tahu bahwa 'selamanya’ tidak bisa dipeluk waktu? Apa yang akan kamu lakukan ketika kamu mengetahui bahwa kamu tidak akan selamanya bisa bersama dia yang kamu sayang? Dan apa yang akan kamu lakukan ketika kamu mengetahui bahwa kamu hanyalah seorang manusia yangtidak bisa melakukan apa-apa ketika semua itu terjadi?
Dan ketika memori bercerita tentang pertemuan yang singkat, tentang memori yang terkenang setiap kaliaroma cokelat panas menguar bersama aroma butter atau bahkan memori yang terkenang setiap kali suapanpertama kue tiramisu masuk ke dalam mulut dan lumer seketika, atau mungkin tentang singkatnya sapaan ‘hai’ yang menjadi terasa panjang jika diiringi senyum manisnya?
Ahh, itu semua terasa menyakitkan jika aku harus mengingat semuanya. Selalu saja menyisakan bulir bening di ujung mataku dan tidak jarang bulir bening itu meluncur deras di pipiku. Namanya, Raina. Nama itu menempati peringkat nomor satu dalam memoriku. Dia bukan yang pertama, tapi aku selalu berharap dialah yang terakhir.
֍
Siang itu cuaca kurang bersahabat, hujan terus-menerus mengguyur bumi. Bunyi klakson dimana-mana. Dan jalan pun tertutupi banyak orang yang memakai payung untuk sekadar mengurangi basah tubuhnya. Mungkin mereka sedang terburu-buru. Tidak sedikit orang-orang mengomel ketika ada pengendara motor menyipratkan genangan air. Banyaknya tatapan sinis dari tempat perteduhan, siapalagi targetnya selain orang yang membuat kekacauan mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Mungkin orang itu sedang terburu-buru, tapi siapa yang peduli? Mereka semua punya urusan masing-masing.
Seorang pria paruh baya mengenakan setelan jas terlihat duduk disebuah kedai kopi bernuansa kuno terus-terusan melirik jam ditangan kirinya, sepertinya ia sedang menunggu seseorang. Dan benar saja, tidak lama kemudian seorang gadis berumur 20an datang ke meja pria itu, ternyata ia menunggu anaknya. Tapi, tidak mungkin seorang anak berlaku layaknya sepasang kekasih bersama ayahnya, gadis itu lebih terlihat seperti simpanan.
Terlihat seorang wanita berpenampilan elegan ditambah kacamata minus sedang serius menatap layar laptopnya, sepertinya ia seorang wanita karir. Terlihat beberapa orang berseragam berlalu lalang untuk memberikan pesanan kepada si pemesan, pria muda dibalik meja kasir yang hobinya menggoda seorang pelayan cantik, dan seorang pelayan yang memiliki trik-trik sulap untuk mengelabui anak kecil dengan banyak cokelat ditangannya yang sepertinya sudah ia sediakan dibalik saku seragamnya. Ah, ya, terlihat dua orang pemuda pemudi berseragam SMA dengan asyiknya bersenda gurau menunggu hujan. Dan seorang pria yang terbiasa duduk dipojokkan menatap luas ke luar jendela, tanpa ekspresi.
֍
Tiba-tiba seorang wanita sedikit kuyup terlihat berlari menyusuri hujan menuju kedai ini. Gadis itu terlihat cantik dengan baju berwarna merah muda yang melekat indah ditubuhnya. Gadis itu tersenyum gembira begitu ia berhasil menyusuri hujan deras dan sampai dikedai langganannya dengan selamat.
“Kayak biasa, Mbak.” ia tersenyum kepada pelayan wanita itu. Sepertinya ia sering mengunjungi kedai ini. Bukan sepertinya, tapi memang hampir setiap hari ia pergi ke kedai ini. Semua orang berseragam pun sepertinya sudah mengenal gadis itu karena semua orang berseragam itu tersenyum melihat gadis itu.
Matanya menyusuri setiap sudut kedai sederhana ini, mencari meja dan bangku yang belum dihuni pengunjung lainnya. Namun sayang, siang itu kedai sangat ramai karena banyak orang yang singgah dan memesan sesuatu agar bisa berteduh. Matanya terus mencari sampai matanya berhenti disatu titik, satu sudut, dengan satu orang. Gadis itu berjalan pelan, dan berhenti, “Hai, boleh duduk? Penuh banget, gak ada lagi yang kosong.” tanpa dipersilakan, gadis itu sudah duduk manis dan tersenyum. Akhirnya.
“Sering kesini, Ya?” Pria itu mulai membuka percakapan.
“Hmm, lumayan. Kalau kamu yang punya kedai ini, Ya?” Canda gadis itu sembari memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapih.
Pria itu ikut tersenyum, “Aku sering lihat kamu disini.”
“Oh, Ya? Memperhatikan juga, Ya.”
“Engga juga sih sebenernya. Ya cukup tau lah apa hobby kamu. Kamu terlalu sibuk sih sama buku yang sering kamu baca.”
“Ohh.. Buku?” Gadis itu seperti teringat sesuatu, dengan segera ia membuka tasnya dan mencari-cari sesuatu, “Syukurlah, bukunya gak basah. Untung udah dipakein baju.” Gadis itu terkekeh geli. Pria itu hanya tersenyum melihatnya.
“Aku, Mario.”
Seorang wanita berseragam berhenti dan meletakkan sebuah cangkir porselen berisi cokelat panas yang asapnya mengepul indah diudara. “Silakan, mbak Raina.”
“Makasih, Ya.” Gadis itu tersenyum.
“Jadi, nama kamu, Raina? Keren keren, pelayan disini sampe kenal kamu saking seringnya kamu kesini.”
Raina menyesap cokelat hangatnya perlahan, udara yang dingin membuat suhu cokelat panas itu turun dengan cepat. Mario melahap habis seluruh sisa kue tiramisu miliknya. Mengelap sedikit bibirnya dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada. Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan dengan saksama, Mario pun membuka suara.
“Raina, Ya. Kenapa dinamain Raina?” Pria itu menyesap kopinya perlahan.
“Gatau, mungkin karena aku suka hujan. Rain artinya hujan kan?”
“Terdengar agak maksa, Ya.” Mario terkekeh geli. Mereka berbincang cukup lama, riuh tawa mereka sesekali mampu membuat orang disekitarnya menoleh. Pengunjung sudah tidak seramai tadi karena hujan mulai berhenti, mungkin hanya meninggalkan beberapa rintik dan genangan air dijalan berlubang. Jalananpun sudah tidak seramai tadi, orang-orang yang berteduh pun mulai kembali melanjutkan perjalanannya. Sudah tidak ada pengendara motor yang ugal-ugalan dijalan. Mungkin ia sudah berada ditempat tujuannya, atau mungkin ia sudah mati akibat ulahnya yang ugal-ugalan.
Seperti apapun keadaan di luar sana, tetap saja seorang Mario tidak bisa melewatkan sedetik pun pemandangan didepannya itu. Gadis bertubuh cukup ideal dengan mata bulat berbola mata cokelat sangat serasi dipadu hidung bangirnya. Bibir ranumnya memancarkan pesona tersendiri. Rambut panjangnya tergerai indah menyentuh pinggang rampingnya. Semenjak perkenalan yang tak disengaja itu, diam-diam rasa cinta mulai terselip diantara sela tawa yang enggan diakhiri.
֍
Mario mencoba merebahkan tubuhnya, berharap rasa lelah segera luruh darinya. Ia melihat jam dinding dikamarnya, waktu baru menunjukkan pukul 9 malam, tapi ingin sekali rasanya ia terpejam dan segera berlari ke hari esok. Betapa ia sangat mengutuk dirinya sendiri hanya karena memorinya yang terlalu kuat menyimpan kenangan. Rasa manis yang dulu dikecap, menguar bersama aroma butter, cokelat hangat dan aroma manis lainnya, kini berubah menjadi kopi hitam. Apa sih yang salah dengan dirinya?
“Harusnya gue gak pergi ke kedai itu lagi.” Nada penyesalan terdengar kental di ucapannya.
Mario masih memejamkan matanya, tetapi ia tidak teridur. Bahkan ia tidak bisa tertidur meskipun ia sangat ingin terlelap. Wajah gadis itu, Ya, Raina. Wajahnya lah yang selalu mampir disela pejaman matanya. Hanya satu kata yang dapat menyimpulkan perasaannya kali ini, Rindu. Betapa ia sangat merindukan gadis itu. Perkenalan yang dipertemukan semesta, singkatnya sapaan “Hai.” yang berujung berjuta rasa dan diakhiri dengan sebuah senyum miris untuk menutupi luka. Jika kau bertanya kepadanya tentang ingatan apa saja yang masih ia simpan, mungkin ia akan menjelaskan detailnya satu persatu tanpa lelah, tanpa satupun ingatan yang tertinggal.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi, langit pun bertambah pekat tanpa cahaya. Suara gemuruh terdengar dimana-mana, hujan pun kini sudah benar-benar menerjunkan dirinya dari atas sana. Bau tanah tersiram hujan mulai memenuhi hidung hingga ke rongga dada. Bau inilah yang disukai gadis pecinta hujan bernama Raina. Hujan pun dengan sukses mampu menyeret Mario kepada kenangan yang paling dalam. Kenangan yang membuat luka dihatinya--yang tak bisa mengering--semakin perih. Lubang dihatinya kini menganga dengan lebar. Hatinya kosong, bagai ruang hampa yang tidak pernah disinggahi, pengap.
Bukan salah Mario jika lubang dihatinya terus-terusan menganga lebar, ia hanya membiarkan lubang itu menganga lebar agar gadis itu dapat dengan mudah kembali tinggal tidak hanya sekadar singgah. Dan bukan salah Mario jika hatinya terus menutup untuk hati lain, ingin ia mempersilahkan masuk. Tapi apa mau dikata, satu-satunya gembok hati yang ia miliki telah raib dibawa gadis itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar