Kamis, 10 Juli 2014

[CERPEN] PERSINGGAHAN part 2


 “Aku masih bingung, apa yang membuatmu menyukai hujan? Hujan cuma bikin macet dimana-mana. Belum lagi, kita jadi susah kalau mau pergi.” Mario menatap gadis itu dengan tatapan menyelidik. Raina hanya menutup mulutnya seraya menahan tawa.
  
 “Hmm, kenapa, Ya? Seru aja, kalau hujan kan jadi gak panas. Kalau panas aku juga jadi malas pergi kemana-mana.” Gadis itu menenggak habis cokelat panasnya yang sudah mulai dingin, “Kapan-kapan kita harus berjalan menyusuri genangan air saat hujan, Ya.”
  
 “Ya tetep aja kalau hujan kan becek, males deh.” Mario menautkan ke sepuluh jarinya dibawah dagu.
  
 Raina tidak menjawab apapun, karena tidak ada pertanyaan yang terlontar dari mulut Mario, dan memang tidak ada alasan jelas mengenai kecintaannya terhadap hujan. Dia suka hujan, sudah.
  
 “Kamu kenapa suka tiramisu?”
  
 “Tiramisu? Kenapa, ya? Aku suka tiramisu karena dia salah satu kue yang menggambarkan kehidupan.”
  
 “Kenapa begitu?” Kali ini Raina yang menopang dagunya.
  
 “Rasa kue tiramisu itu ada manisnya, pahitnya, ada asamnya juga dari kopinya. Sama kayak kehidupan, kita gak boleh ngerasain kehidupan atau ngeliat kehidupan dari satu sisi. Kalau kita cuma ngeliat dari satu sisi, kita gak akan tahu gimana sisi-sisi yang lain. Kalau kita tahu semuanya, kalau digabungin pasti kita jadi bisa ngerti dan peduli dengan keadaan disekitar kita.”
  
 Raina hanya mengangguk dan ber-oh panjang mendengar pria dihadapannya tersebut.
  
 “Kalau kamu, kenapa suka cokelat panas?”
  
 “Cokelat panas, Ya?”
  
 “Iya.”
  
֍

 “Na, aku kangen. Apa kamu ngerasa hal yang sama?” 
  
 Mario menghela nafas berat, ia berusaha kuat meskipun hatinya ringkih dan rapuh, meskipun hatinya hanya ditembokki dengan kaca yang mudah pecah bila terdesak terus-menerus. 
  
 Seandainya waktu dapat diputar kembali, itu adalah pengandaian bodoh dari orang-orang yang hanya ingin diam di tempat. Tapi bukan salah Mario jika kakinya tertahan di satu tempat karena ia memang tidak berencana untuk singgah. Lalu, apa ini salah Raina? Ataukah ini salah jarak dan waktu? Mengapa waktu dan jarak sampai hati memisahkan kedua sejoli itu, dengan sudi ia membangun benteng tinggi diantara mereka. 
  
 Mengapa jarak tidak bisa berkompromi sedikit? Mengapa waktu juga segan berkompromi barang sedikit saja agar luka dihati mario bisa terobati sedikit? Barangkali waktu dan jarak memang tidak bisa berkompromi, waktu akan terus berjalan dan jarak tidaklah mudah ditempuh. Menggapai surga terlalu tinggi untuk seorang yang masih hidup. Kini bukan hanya waktu dan jaraklah yang mengasingkan mereka. Namun dimensi turut andil menyimpan duka.
  
 Mario bangkit dari tempat tidurnya, ia memeluk kakinya dan menenggelamkan wajahnya. Ia tidak menangis, ia hanya terbawa suasana. Memorinya terus-menerus menguak habis ingatannya, kenangan yang ingin sekali ia simpan rapat dan menguncinya. Namun, Mario belum siap melakukan semua itu. Barangkali takdir atau memang nasibnya begitu. Ia bukan pecundang, namun saat ini kata itu hampir tepat menggambarkan keadaannya. 
  
 Mario mengambil sebuah foto berfigura dari atas mejanya. Di figura itu terlihat ia dan Raina sedang tersenyum lebar. Mata gadis itu begitu teduh, mata itu adalah salah satu hal yang sangat ia rindukan dari gadis itu. 
  
 “Apa yang salah dari kita? Kenapa kamu ke surga duluan, Na?”
  
 Mario kembali berbaring di tempat tidurnya, dibawanya figura itu dan didekapnya dengan erat. Ia mencoba memejamkan matanya yang terlihat lelah, sampai akhirnya semesta membiarkannya terlelap.
  
 Waktu seperti berjalan mundur, Mario merasa tubuhnya terhempas sangat jauh hingga ia mencapai lubang hitam. Ia bangkit mencari-cari penyebab keberadaannya disini. Rupanya, cahaya sedikit memberi petunjuk. Ia mengikuti secercah cahaya itu hingga ia sampai diujung lorong pertama, lalu ia meneruskan perjalanannya kali ini tanpa mengikuti cahaya. Cahaya itu sudah hilang entah kemana saat ia memasukki lorong kedua.
  
 Tiba-tiba ia berada ditempat yang sudah tidak asing baginya. Sebuah kedai kopi bernuansa kuno, aneh. Matanya menelusuri setiap sudut rungan itu. Matanya terhenti pada satu sosok gadis bermata teduh, gadis itu tersenyum kepadanya. Mario menghampiri gadis itu.
  
 “Raina.” 
  
 “Mau tiramisu, Sayang?” Raina menyodorkan sepotong kue tiramisu yang belum tersentuh sedikitpun, “Ini kue favoritmu, bukan?”
  
 “Tidak. Aku terlalu naif untuk mengartikan sebuah tiramisu sampai aku tahu aku sama sekali tidak ingin merasakan pahitnya hidup, selepas kepergian kamu. Bisakah kamu kembali? Apa kamu gak kangen aku, Na?” bulir bening menetes di pipi Mario, ia menggenggam tangan Raina tak ingin melepasnya.
  
 “Mario,”
  
 “Na, aku suka hujan, aku suka cokelat panas. Kembalilah dan kita akan menyusuri jalan penuh genangan saat hujan bersama-sama. Kamu terlalu egois untuk meninggalkanku begitu saja. Bukankan kita sama-sama tidak berniat untuk saling menyinggahi?”
  
 “Aku tidak pernah berniat singgah. Aku ingin tinggal, dan itu terbukti. Hatimu masih dipenuhi olehku, bukan? Aku masih bersamamu, Mario.” Raina pun ikut menangis.
  
 “Bukan tinggal seperti itu yang ku maksud. Kembalilah, Na. Aku akan melakukan apa saja agar kita bisa bersama. Hidupku kini layaknya kopi hitam tanpamu.”
  
 “Dewasalah, makanlah kue tiramisu ini seperti biasa kamu selalu menikmatinya. Kamu akan mengerti arti sebuah kehidupan. Semesta tidak mengizinkan raga kita untuk bersama. Tapi kita berhasil mengelabui semesta dengan hati kita yang selalu terikat. Pergilah, jangan sesali hidupmu. Kau bisa bahagia dengan orang lain tanpa harus membuang aku.”
  
 Mario tertegun, sejujurnya ia enggan menyadari hal itu.
  
 “Ketahuilah, Mario, aku sangat mencintai kamu seumur hidupku, kamulah orang pertama yang mengisi kekosongan hatiku dengan berjuta balon-balon indah, dengan bibit-bibit bunga yang mekar dengan sempurna. Dan kamu sekaligus orang terakhir itu.” Raina memeluk Mario erat. Hatinya menghangat, rasa hangat itu menjalar ke seluruh tubuhnya.

 “Apa kamu tahu, aku sangat mencintaimu?” Mario membuka suara.
  
 “Sangat. Begitupun aku.”
  
 Mario pun terbangun dari mimpinya, matanya basah memerah.

֍


“Kamu coba aja, kamu pasti tahu kenapa aku suka cokelat panas.” Raina tersenyum menyodorkan cokelat panas miliknya.
  
Mario menyesap cokelat panas itu perlahan, lalu ia meletakkan kembali cangkir porselen itu dan tersenyum.

“Terkadang, kita tidak bisa menjelaskan mengapa kita menyukai suatu hal, kita hanya bisa merasakannya tanpa berucap dan menjelaskan panjang lebar tentang sebuah rasa.” Senyum di wajah Raina mengembang.


֍
  Mendung bergelayut dilangit, tampaknya pagi ini akan kembali di guyur hujan. Mario memakai jaket kulit kesayangannya dan bergegas pergi menaiki motornya. Ia tiba di kedai langganannya dengan sedikit basah akibat gerimis dijalan.

Ia segera memasukki kedai itu dan menghuni bangku pojok tempat favoritnya bersama Raina. Ia belum memesan apapun, hujan diluarpun bertambah deras. Orang-orang mulai sibuk berdatangan untuk berteduh

֍

Dear, Mario!
Terimakasih untuk semua hal yang kamu lakukan untukku. Terimakasih sudah mengisi hati yang kosong ini dan memperbolehkanku mengecap rasa manis kehidupan, rasa manis cinta, dan tentu saja kamu. Kamu adalah orang pertama sekaligus terakhir yang mempu mengisi kosongnya hati ini.
Maaf jika aku tidak pernah mengatakan keadaanku yang sebenarnya. Aku akan melakukan cangkok sumsum tulang belakang esok hari, dan jika surat ini sampai ke tanganmu, maka disaat itulah kita sudah tidak bisa bersama.
Aku minta maaf atas segala hal yang pernah menyakitimu. Untuk segala hal termanis dan terindah, singkatnya perkenalan kita yang berujung rasa cinta, aku sangat berterimakasih kepada tuhan. Dan jika kita tidak dapat bersama hingga kelak, maafkanlah semesta dan berjanjilan untuk tidak membencinya. Kamu harus tau, aku sangat menyayangimu.
Untuk kamu yang selalu ada di hati

Raina.

֍

Mario tersenyum.

Ia memesan sepotong kue tiramisu lengkap dengan cokelat panas. Tak lama kemudian, seorang pria berseragam mengantar pesanan Mario, “Ini mas, Mario.”

“Terimakasih.” Mario tersenyum dan mulai menikmati potongan kue pertamanya. 

Tiba-tiba seorang gadis duduk manis dihadapannya sambil tersenyum ke arahnya. Mario menatapnya dengan tatapan seteduh mungkin, “Berteduh dari hujan, Ya?”
  
“Iya, tapi aku sering kesini.” ucap gadis itu.
  
“Oh, Ya?” Mario mengernyitkan dahinya mencoba mengingat-ingat.
  
“Kamu gak pernah melihat aku, kamu lebih sering melihat ke luar jendela.” Gadis itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang indah.
  
“Memperhatikan juga, Ya.” Mario tersenyum sembari melipat tangannya.
  
“Gak juga, sih. Aku Ovyta.” gadis itu mengulurkan tangan kanannya.
  
“Aku, Mario.” Mario pun menyambut uluran tangan Ovyta.
  
“Wah, tiramisu! Aku juga suka kue itu.”
  
Gadis itu berseru riang. Mereka pun terhanyut dalam obrolan ringan dipenuhi tawa. Akankah kali ini cinta terselip lagi diantara sela tawa mereka?

֍֍֍



Cinta adalah bagian dari kehidupan,
tapi hidup hanyalah persinggahan.
-GZA-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...