Hai, aku wanita. Apa kabar? Sepertinya kamu terlihat kurang baik, atau ini hanya penglihatanku saja? Maaf, pandanganku kabur setelah air mata yang jatuh berhasil mengaburkannya. Aku baik-baik saja, mungkin. Oh ya, adakah pesan yang ingin kamu ucapkan? Aku? Ah, tidak. Sampai saat ini aku masih merasa baik. Kamu bertanya mengapa air mataku jatuh? Itu hanya perkara kecil sebenarnya, tapi, hatiku terlalu kalut.
Hatiku terlalu kalut, karena dalam masalah ini aku harus berhadapan dengan orang yang aku sayang. Siapa? Ah, kamu sendiri pasti mengetahuinya. Siapa lagi orang di dunia ini yang berhasil mencuri hatiku? Bahkan sebenarnya, dia tidak perlu mencurinya, memintapun akan langsung ku beri. Atau, tanpa dia memintapun, akan kuberikan hatiku dengan senang hati.
Dia orang yang membuatku bahagia. Mengapa harus bahagia? Ahh, kamu kurang paham ya? Ceria saja tidak cukup, bukan? Dia yang membuatmu bahagia sudah pasti bisa membuatmu ceria, membuatmu senang, dan mampu mengukir seulas senyum tulus dibibirmu. Lalu, apakah orang yang membuatmu ceria bisa membuatmu bahagia? Belum tentu. Dia yang membuatmu ceria, mungkin tidak akan bertahan lama, atau hanya mampu membuatmu melupakan sejenak masalah yang terjadi di hidupmu.
Apakah yang membuatmu bahagia pasti tidak akan pernah membuat sedih? Ya, tidak juga. Sedih, senang, tawa bahagia, tawa terpaksa, tangis bahagia, tangis derita, dsb, sampai kapanpun akan terus mengiringi kehidupan, bukan? Dia yang tulus membuatmu bahagia bukan tidak mungkin mampu membuatmu menangis. Tapi bukan berarti, orang yang membuatmu menangis akan lega setelah membuatmu menangis. Jika dia tulus, diam-diam hatinya pun ikut teriris.
Masalah itu pasti akan selalu datang. Yang harus kita lakukan adalah mencari jalan keluar, bukan mencari jalan pintas. Tapi bagaimana kalau yang ditemukan hanya jalan buntu? Putarlah sampai kamu menemukan jalan keluar. Yang buntu itu hanya takdir. Dewasalah walaupun untuk sesaat. Coba singkirkan ego, mulailah berbicara tanpa menggunakan ego masing-masing. Kalau untuk mencapai akhir yang bahagia, kenapa harus malas berjalan terus ke depan yang penuh hambatan? Jalanan pun tidak selalu mulus, pasti ada kerikil.
Tapi jangan marah, mungkin kamu hanya belum bisa menerima keadaan. Kamu tidak bisa? Pasti kamu bisa, Pelan-pelan, kamu pasti bisa menerima keadaan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar