Selasa, 15 September 2020
30 Days Writing Challenge: Day 6 - Single and Happy
Senin, 14 September 2020
30 Days Writing Challenge: Day 5 - Your Parents
- It's not easy for me to tell a story, but it's not that hard either. I just need some time and a good mood to write about it. I don't wanna feel any worse after this morning's screams fed me up. See you tomorrow? or maybe the next two days, or more. -
Minggu, 13 September 2020
30 Days Writing Challenge: Day 4 - Places You Want to Visit
Sabtu, 12 September 2020
30 Days Writing Challenge: Day 3 - A Memory
Ada beberapa hal yang tidak kumengerti; sebagian isi kepalaku terpenuhi dengan berbagai macam ingatan tanpa aku harus berusaha keras mengingatnya, sementara bagian lainnya ada di sana, namun kabur. Meskipun aku banyak mengingat hal-hal detail yang sudah terlampaui cukup jauh. Kenangan yang terekam tanpa jejak atas hasil kompromi kedua mata dan syaraf otak, terkadang mampu membawaku menapaktilasi tempat yang terus terasa utuh atau bahkan tempat yang sudah terilas.
Umur 3 tahun, di rumahku dulu, sore itu aku pakai baju renang berwarna merah, menjepit rambut dengan berantakan, dan mengenakan pelampung donat yang warnanya abstrak. Aku merengek ke mama untuk pergi berenang, pokoknya hari itu aku mau berenang. Tapi aku malah dibawa ke kamar mandi dan dimandiin masih pakai baju renang. Aku ingat keramik bak mandi di rumahku dulu, biru muda. Aku? masih nangis sambil mandi.
Umur 5 tahun, hari sabtu. Aku nggak sekolah karena lagi sakit. Tapi karena hari sabtu selalu ada makan siang bersama di kelas dan mama kebagian bawa buah hari itu, jadi aku harus ke sekolah sama mama, naik mobil. Aku pakai baju tebal warna ungu, begitu sampai di parkiran aku nggak mau turun karena malu nggak sekolah. Akhirnya aku dititipin ke tukang gorengan, aku suka beli tahunya. Nggak lama kemudian mama nyamperin dan ngebujuk aku untuk ke kelas dulu menyapa teman-teman, "Di dalam ada anggur, masuk aja dulu buat makan anggur." Aku mengiyakan dan saat masuk kelas, aku merasa keren karena nggak pakai seragam sendiri. Hari itu ada anak baru namanya Afi, rambutnya bondol, hidungnya mancung. Aku baru tau dia perempuan setelah SMP, selama itu aku kira Afi seorang laki-laki. Maaf, ya, Afi, namanya juga anak TK.
Umur 5 tahun, tapi udah SD. Hari pertama masuk sekolah entah kenapa pakai baju pramuka. Aku diantar mama ke kelas, tapi aku nggak pakai dasi pramuka. Saat masuk kelas, mama minta tolong seorang Ibu untuk memasangkan dasi pramukaku karena mama lupa cara pasang dasi pramuka. Ibu itu adalah Ibu seorang anak yang menjadi sahabatku sampai sekarang.
Umur 6 tahun, masih kelas 1 SD tapi udah ulang tahun. Hari itu ada temanku yang rambutnya dikuncir kecil-kecil tapi banyak. Besoknya aku minta dikuncir persis kayak temanku, tapi karena penjelasan dari ku kurang, alhasil aku ke sekolah kayak orang gila yang rambutnya berdiri kayak air mancur.
Masih banyak ingatan-ingatan yang ada di kepalaku. Jangan kau tanya, masih teringat jelas dalam ingatan kali pertama kau menatapku dan bagaimana senyum terbingkai di sana. Ketika sudah tidak ada lagi yang bisa disaksikan oleh kedua mata, aku berharap ingatan akan terus ada di sana. Memutar roll film yang tidak ada wujud nyatanya. Tidak akan pernah cukup, namun kita cukupkan roll film yang belum terbakar, berani?
Jumat, 11 September 2020
30 Days Writing Challenge: Day 2 - Things That Makes You Happy
Kamis, 10 September 2020
30 Days Writing Challenge: Day 1 - Describe Your Personality
.......
I spent 30 minutes over here to think about what should I write on this blank page. I'm not good at describing my personalities because I think I.. wait, my current favorite song just played, Till There Was You by The Beatles, if you wanna know.
Okay, aku memilih untuk mendeskripsikannya dalam bentuk cerita. Ibarat, anggaplah, dan lain sebagainya. Cukup sulit untuk aku mendeskripsikan kepribadian, karena... ya, susah gitu..
Tiba-tiba rollercoaster ada di pikiranku. Setelah menghabiskan waktu puluhan menit untuk mencari kata yang bisa menggambarkan kepribadianku secara tidak langsung. Tau, kan? Rollercoaster. Bisa pelan, bisa tiba-tiba kencang ngejar kecepatan cahaya yang nggak bisa dilihat mata. Bisa naik, bisa turun. Aku nggak statis, kita bisa teriak sama-sama tapi pasti selamat sampai tempat berhenti.
Aku pergi naik kereta selama 14 jam, sendiri, aku memilih untuk bertegur sapa dengan orang asing, mendengarkan cerita yang entah berasal dari mana kemudian bisa sampai di kedua telingaku. Entah perasaan apa selanjutnya yang akan menguak, entah ikut merasa senang, merasa sedih, merasa terharu, atau ikut merasa muak. Entah siapa yang turun terlebih dahulu pada stasiun selanjutnya, entah apakah cerita akan selesai begitu salah satu sudah harus melangkah ke peron, tetapi kita sudah bertemu. Kita tetap harus berjabat tangan dan tersenyum meskipun kita bercerita panjang tanpa menyebut identitas masing-masing. Rasa penasaran akan dibiarkan menggantung di sisi tirai jendela kereta dan terhapuskan oleh rasa kantuk.
Aku selalu mengutarakan apa yang aku pikirkan kepada orang lain, dibanding aku harus menerka-nerka dan terus-menerus merasa bingung. Aku nggak suka bingung, aku ekspresif. Iya dan tidak menjadi dua kata berseberangan yang berada pada posisinya masing-masing. Aku tidak mengatakan iya untuk hal yang seharusnya berada pada ruang tidak.
Sekarang kita lagi ada di taman kanak-kanak. Bayangin, ada balon warna-warni di sana. Ada jungkat-jungkit, ada ayunan, ada perosotan, ada permen cokelat, ada confetti, ada anak kecil, dan ada seorang Ibu. Ini yang masih belum aku mengerti, aku bisa tiba-tiba seperti anak-anak yang permennya diambil anak lain, terus nangis, ngerengek, manja, kemudian aku bisa menjadi seorang Ibu di sebelah anak kecil tersebut.
Aku nggak suka sedih, tapi kalau kamu sedih, kamu bisa entah bagaimana datang untuk kita menangis bersama. Atau kamu cukup berhenti dan bilang ada di mana, aku akan lari meskipun naik motor terdengar lebih praktis. Begitu sampai, aku yang menangis duluan karena habis lari-lari. Begitu pun kalau kamu marah, jangan marah sendiri dan menyakiti hati sendiri. Gimana kalau kita duduk terus berunding mau dibuang kemana amarah yang ada? Kalau tabungan amarahku masih banyak sisa, kamu boleh buang ke sana, tapi kalau udah penuh, kita cari cara lain, gimana?
Kita ada dalam lingkaran yang sama. Take your phone and put me on your emergency call. Aku mengerjakan sesuatu semalam suntuk, aku melakukan hobiku berjam-jam, atau aku tertidur lama, but I'll come whenever you need me to come. I'll annoy you most of the time, but I'll stop if you ask. I would do anything that you want me to do. I can be anything that you want me to be. I'm a chaser, but I also know my worth.
Udah ya, kamu aja yang menyimpulkan sendiri, aku bingung. Aku kan nggak suka bingung..
Rabu, 19 Agustus 2020
[Monolog] Dua Manusia
Sabtu, 14 Desember 2019
[Rapal 2] Tuhan yang Tahu
atau benar-benar mundur
[Rapal 1] Memohon Kepada Tuhan
agar selepasnya kita hidup
atau,
aku lebih tepatnya
hari ini aku menangis
aku merapal doa dalam hati
dan menangis lagi
aku sungguh-sungguh ya Tuhan
jangan jadikan ia hanya singgah
lalu aku bisa apa?
(2019)
Katamu
kita adalah dua orang yang tek pernah rela ditinggalkan
aku mengiyakan,
sembari menyemogakan apa-apa yang baik
yang dirapal hati
tentang kau dan aku yang ditaklukkan
atas apa yang diberikan waktu
kepada rekah-rekah yang berjemawa dalam hati
Selasa, 20 November 2018
Selamat Pergi
kepada matahari yang memilih pergi
meninggalkan embun bersarang
pada daun di tepi kolam
juga debu yang melekat pada jendela
kau, selamat yang telah pergi
dan meninggalkan bayangan
pada air tenang
(2018)
Are Bulan November
“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati. Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...