Jumat, 10 Februari 2017

Tunggu Aku

Sayang, sayang, sayang
Kapan kiranya kita akan berjumpa?
Angin sudah kelelahan membawa rindu yang kutitipkan
Langit ingin menyerah,
Karena aku terus mendesak malam agar segera pagi
Sayang, sayang, sayang
Tunggu aku


(2017)

Minggu, 16 Oktober 2016

[MONOLOG] Bicara Tentang Luka

Sorot mata itu tidak berubah, masih sama seperti kali pertama sepasang mata itu membuat jantungku turun ke perut. Warnanya masih sama, cokelat tua, tapi, sedikit cerah. Sepasang mata itu kini menatap sepasang manik mata milikku, aku hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Apakah sepasang mata itu menyadari sorot mataku yang tidak lagi sama? 

Aku baru mengetahuinya setelah diam lama didepan cermin. Satu jam, dua jam, atau lebih. Sepasang mataku masih menatap bayangan diriku dalam cermin yang bertabur bedak. Akhir-akhir ini aku memang sibuk bermain dengan bedak-bedak yang sengaja kubeli untuk menyamarkan wajahku yang -sejak sepasang mata itu berkedip lalu pergi- terlihat menyedihkan. Aku sampai hafal dengan harga-harga bedak diluar sana, aku mendadak jadi kolektor bedak. Tapi rasanya, semua bedak itu tidak membuat wajahku terlihat membaik, entahlah, raut wajahku masih sama bahkan makin buruk. 

Aku bahkan bisa melihat luka dari sorot mataku, sekalipun cermin itu dipenuhi taburan bedak. Jika akulah cermin itu, mungkin aku sudah meremukkan kaca karena bosan melihat orang yang sama bercermin hanya untuk memastikan bahwa ia sedang baik-baik saja, yang kenyataannya, tidak.

"Cermin, Cermin, apakah wajahku masih cantik seperti dulu?"

Aku mulai merasa gila, bicara tentang luka memang tidak ada habisnya. Baiklah, mari kita sudahi percakapan tentang luka milikku ini. 

Minggu, 02 Oktober 2016

Si Tukang Ngintip

Cangkir kopi milikmu telah kosong,
aku mengintip lewat kisi

Kau mengikat rambutmu yang helainya jatuh
pas ditengkuk,
aku mengintip lewat kisi

Kau melamun

Kau menghela napas berat
dua kali dalam lima menit terakhir,
aku mengintip lewat kisi

Kau membuka sedikit bibirmu,
Arghhh! aku menelan ludah dibuatnya

Oh, kau menoleh, setelahnya
"Hey! Si Tukang Ngintip!"

Aku melarikan diri bersama bayang dirimu
yang kubawa separuh


(2016)



Kamis, 29 September 2016

Cerita Bohong

Kau namai dirimu dengan hujan
Sedang aku, senja yang berharap tak pernah selesai
Seperti cerita-cerita misteri dibelakang sekolah
Atau siluman buaya putih di kolam ikan milik sekolah
Sama bodohnya? Itu mengalir begitu saja, kau tahu
Ssst, diam!
Aku menikmati ceritanya


(2016)

Sabtu, 24 September 2016

Cerita Tentang Tuan dan Gadis Gincu

Tuan
Tuan
Tuan

Aku datang
Hendak meminta uang
Untuk membeli gincu

Gadis
Gadis
Gadis

Kemari, tuan beri uang
Tuan meminta itu
Untuk harga kau beli gincu


(2016)

Rabu, 21 September 2016

Cerita Tentang Cookies

Mari datang, sayang, kemari
Mari datang, sayang
Mari datang
Mari

Sudah aku bersihkan beranda
Secangkir teh hangat di teras depan
Manis, bukan tebu, aku pakai stevia

Dengan empat butir cookies kesukaanmu
Cokelat, cokelat, cokelat, cokelat
Pas empat butir

Delapan kali suap kalau satu cookies dua kali suap
Duabelas kali suap kalau satu cookies tiga kali suap
Kau menyuap sepuluh kali,

Dua cookies dengan cara pertama
Dua cookies dengan cara kedua
Biar adil kau bilang



(2016)

Selasa, 20 September 2016

Kisah Hujan dan Kaki

Hujan turun lagi
Deras,
Memang tidak sederas kemarin
Tapi aku kehujanan sampai kuyup

*

Ada pecahan beling, juga
Darah, menuntunmu kepadaku di pojok ruangan
Sedang meringkuk
"Darah, beling, awas!" Kau berseru.
Aku memelas, "Aku tak sengaja menginjaknya."
Kau cemas lalu datang
Membersihkan luka dengan tatap iba
"Itu beling yang kau pecahkan semalam." Kataku.



(2016)

Selasa, 16 Agustus 2016

Pamit

Aku mencari waktu yang tepat untuk pergi

Tentu tidak dengan waktu yang ramai

Juga jendela-jendela kamar yang
Terbuka lebar

Aku pun benci perpisahan, pamitan

Juga air mata yang mengalir
Dari ringkih tatap matamu


(2016)

Sabtu, 13 Agustus 2016

Teruntuk Kamu yang Masih Diam pada Satu Masa

Ketika takdir menamainya cinta
Sedang luka yang kau rasa kian duka

Sampai-sampai,


Kau menangis, tapi tidak menangis

Matamu tak sembab, sebab
Tidak menangis, tapi kau menangis

Ah, air matamu hilang, atau


Habis?


Kemudian kau menari ditengah dukamu

Dengan sesak yang membelenggu
Terguyur kepingan masa lalu yang
Menikam jantungmu, kau,

Hatimu mati, namun tengah menari

Kau mati, baru ia mencari


(2016)


Jumat, 12 Agustus 2016

Pada Sebuah Peron

Pada sebuah peron yang memeluk sepi, ia menunggu 
Tanpa peduli gelap malam kian kelam
Tanpa peduli dingin telah menusuk kalbunya
Siapa yang ia tunggu?
Dengan tanpa gamang mengorbankan waktu demi ketidakpastian, meski
Tampak gelisah dan menunggu penuh debar
Juga harap yang terus memagut pendar

Tak ada lagi kopi panas pada cangkir di tangan kirinya
Meski penuh, tak lagi uapnya menyambut, terhirup
Hidung bangirnya yang terlihat memerah
Juga disambut kantung mata yang kian menghitam

Peron masih mengantar sepi, meski ramai mulai 
Menyerakkan cerita-cerita sambil lalu
Juga dinding lapuk yang terbiasa bisu
Ia sendiri menanti, ah!
Siapa?
Ia terus bertanya pada hatinya

Ia pulang dengan senyum pilu di bibirnya, tapi
Kembali di kemudian hari, lalu kemudian hari,
Lalu kemudian hari
Ia masih menunggu rupa sosok yang sama hadir
Dengan secangkir kopi yang tak pernah sempat disesapnya
Juga pada peron yang mengantar sepi

(2016)

Jumat, 29 Juli 2016

[MONOLOG] Tidurlah, Sayang

Hai, Sayang, hari sudah malam, tidakkah kau ingin tidur? Atau terjaga barangkali. Seperti yang biasanya kau lakukan. Bercerita tentang harimu yang panjang kepada dinding bisu yang rapuh dan mengelupas, yang sesekali mengeluarkan bunyi yang terdengar dari derap langkah cecak diantara sunyi. Atau, bagaimana dengan derak yang terdengar dari tiang-tiang yang mulai rapuh dan menggigil ketika angin berbisik sampai telingamu. Juga lampu-lampu remang yang memantulkan jingga dari binar matamu yang sayu. Tentu aku tidak lupa dengan gemercik air keran yang sengaja kau buka sedikit agar air yang keluar tidak terlalu banyak. Lalu bagaimana dengan daun yang berguguran dari pohon ceri depan rumahmu, apakah sudah kau sapu?

Apa yang kau lakukan, Sayang? Apakah kau masih terjaga untuk itu? Apakah kau sudah mendapatkan jawaban dari angin yang selalu mampir hanya untuk mengatakan kalau ia belum menerima pesan untuk kemudian disampaikan kepadamu? Tidakkah kau ingin tidur saja dan terbangun esok hari untuk menyiapkan sarapan? Kau terlihat kurus dan ringkih, tidak mau makan dan yang kau lakukan hanyalah terjaga sampai malam terasa panjang dan dentingan tongkat satpam terdengar memukul tiang listrik. Tidakkah kau ingin ke pasar untuk membeli cermin dan melihat betapa menyedihkannya dirimu, Sayang? Kau terlihat lebih gila dari perempuan tua yang kutemui di lampu merah. Dan tahukah kau bahwa cerita tentang harimu yang panjang yang kau ceritakan kepada dinding bisu itu adalah cerita yang sama setiap harinya?

Sayang, ini bukanlah salahmu, bukan juga salah dinding tua, angin, pohon ceri, tiang-tiang, lampu remang, dan semuanya. Yang kau lakukan tidaklah salah dan katakan pada angin untuk berhenti mampir hanya untuk basa-basi demi menikmati secangkir teh yang kau buat. Kau membiarkannya pergi, itu benar, Sayang, kau tidak perlu menyesal. Kau tidak bisa memaksa orang yang ingin pergi untuk tetap tinggal. Tentu kau tidak ingin berdampingan dengan seseorang yang mencintaimu seperlunya ketika kau mencintainya sepenuhnya, bukan? Maka, tidurlah, Sayang.

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...