Kamis, 21 Mei 2015

Boleh?

waktu itu kamu hanya bisa diam
saat suara dan isak tangisku berlomba untuk
mempertanyakan, "apa yang salah dengan kita?"
kamu diam dan sesekali menjawab,
"tidak ada yang salah, aku hanya ingin pergi, boleh?"

lalu kamu pergi tanpa mendengar jawaban dariku
saat kamu pergi pun, aku masih berteriak bahwa kamu tidak boleh pergi
aku berharap agar angin berbisik di telingamu

setelah kamu pergi dan membiarkanku hampir mati
dan memaksaku untuk membuang hatimu
tiba-tiba kamu kembali
dan berkata "aku kangen, aku ingin kembali, boleh?"
saat ini aku hanya bisa diam
diamku bukan karena kasihan
aku tidak peduli
melihatmu menangis seperti yang aku lakukan waktu itu

"kamu boleh kembali, sayang. tapi, sekarang aku ingin pergi. boleh?"


Selasa, 30 Desember 2014

-

kita adalah dua orang berbeda
yang tak saling mengenal untuk perlahan memiliki debar yang sama
debar yang berpacu karena cinta
cinta yang perlahan menghadirkan rindu
rindu yang kadang menghadirkan kamu dalam,
bentuk bayang nyata padahal
itu hanya imajinasiku saja?

apakah memang begitu cara rindu menggila?

Selasa, 04 November 2014

Aku

Aku mengada debu pada sebuah barangkali
Diantara angan dan asa yang diharap nyata
Menyeka linang pada segelintir yang tumpah
Mencerca setiap kata yang terucap tanpa celah
Membinasakan detik demi waktu yang tersisa

Aku mengadu pada setiap yang mengganggu
Tertawa atas segala yang menduri kelabu
Menyipit dengan sendu mengelabui tawa
Menjadikan asa sebagai nyata
Dan mematikan nyata untuk sebuah angan

Awan Hitam & Cahaya

Awan hitam menggelayuti pagi
Menenggelamkan niat mentari untuk menyapa,
Embun pagi yang sedang bercerita tentang malam panjangnya
Sinarnya mulai menyeruak, jatuh mengangin pada tanah tak bertuan
Diantara beberapa puing batu dikerubungi lumut
Meronta menjelajahi lebih dalam ke bawah sana
Meminta untuk menerobos,
Menapaktilasi tempat yang sudah terilas
Mencari lorong waktu untuk enyah ke masa lalu
Demi menembus jutaan tahun cahaya
Awan hitam mewajah cemburu
Memeluk langit meniadakan cahaya
Agar cahaya tetap tinggal 
Dan berhenti mencari jejak masa lalu
Yang pada akhirnya hanya membuat kelu diserta pilu

Sabtu, 27 September 2014

Matamu

Aku suka menatap langit malam
Serupa gelap matamu yang menyapa sepi

Aku suka menatap rona senja
Serupa binar matamu ditengah jelaga

Kesedihan

Bibir ranumnya tersenyum dengan manis
Siapa yang tahu itu hanya sebuah pemanis
Matanya berbinar sepi
Memandang lekat pada hati yang telah mati

Derita Nestapa

Kaki lusuhnya berlumur darah
Tak sengaja menginjak duri yang terbawa angin
Meringis, menangis
Namun bukan karena perih di kakinya
Luka ini tak seberapa dari beban hidupnya
Ia tak kuat menahan derita nestapa
Dan memilih mati dirundung sepi



Gina Zahra Anjani

Bayang

Bayang itu semu menutup pilu
Menghilang setelah terguyur sepi
Kemanakah perginya bayang itu?
Bayang ringkih yang terukir di dinding yang hampir roboh
Bayang itu tak pernah lagi kembali
Setelah puas membuat retak dinding yang tak berdosa
Dinding yang hampir roboh itu semakin rapuh
Semakin berdebu
Seperti bayang yang terus berlalu
Dan mati ditengah sepi

Barangkali

Barangkali aku hanya butir diantara milyaran pasir
Menyatu bersama air hilang di samudera
Membelah laut menyeiramakan detak

Barangkali aku hanya tepian daun yang terjerat duri
Gelisah meronta mencabut diri
Meniadakan rasa menghilangkan asa

Rabu, 06 Agustus 2014

Hujan Musim Kemarau

Ada apa dengan hujan di musim kemarau?
Tiba-tiba menjelma menjadi sebuah tanya tanpa ada sahut
Serupa hati yang membeku dalam sebuah pelukan
Menusuk tiap hening yang tersisa
Hening yang sengaja kau ciptakan
Hening yang senantiasa meninabobokan rindu
Tapi tahukah engkau, bahwa rindu ini tak mudah dininabobokan
Mungkin tidak ada lagi kata dalam ucapmu
Hanya sebuah isyarat pertanda pilu
Dan aku yakin itu bukan sebuah kelu
Mengapa kau ciptakan hujan di musim kemarau?
Layak ruang yang kau ciptakan dalam sebuah peti mati yang sempit
Memaksa untuk menepi hingga lebur yang tersisa

Bagiku kamu adalah hujan
Tapi bagimu, aku hanyalah kemarau
Kemarau membutuhkan hujan
Tapi sepertinya hujan tidak menginginkan kemarau
Serupa benang tak kuat menahan layangan tinggi,
Aku mencoba membiarkanmu pergi
Membiarkan hujanmu membanjiri kemarauku
Sampai pada akhirnya,
Kau tenggelam dalam hujan yang kau buat
Aku tak bisa berbuat apa-apa
Karena pada saat itu, 
Kemarau telah pindah untuk berbagi musim dengan hujan yang lain




Kamis, 10 Juli 2014

[CERPEN] PERSINGGAHAN part 2


 “Aku masih bingung, apa yang membuatmu menyukai hujan? Hujan cuma bikin macet dimana-mana. Belum lagi, kita jadi susah kalau mau pergi.” Mario menatap gadis itu dengan tatapan menyelidik. Raina hanya menutup mulutnya seraya menahan tawa.
  
 “Hmm, kenapa, Ya? Seru aja, kalau hujan kan jadi gak panas. Kalau panas aku juga jadi malas pergi kemana-mana.” Gadis itu menenggak habis cokelat panasnya yang sudah mulai dingin, “Kapan-kapan kita harus berjalan menyusuri genangan air saat hujan, Ya.”
  
 “Ya tetep aja kalau hujan kan becek, males deh.” Mario menautkan ke sepuluh jarinya dibawah dagu.
  
 Raina tidak menjawab apapun, karena tidak ada pertanyaan yang terlontar dari mulut Mario, dan memang tidak ada alasan jelas mengenai kecintaannya terhadap hujan. Dia suka hujan, sudah.
  
 “Kamu kenapa suka tiramisu?”
  
 “Tiramisu? Kenapa, ya? Aku suka tiramisu karena dia salah satu kue yang menggambarkan kehidupan.”
  
 “Kenapa begitu?” Kali ini Raina yang menopang dagunya.
  
 “Rasa kue tiramisu itu ada manisnya, pahitnya, ada asamnya juga dari kopinya. Sama kayak kehidupan, kita gak boleh ngerasain kehidupan atau ngeliat kehidupan dari satu sisi. Kalau kita cuma ngeliat dari satu sisi, kita gak akan tahu gimana sisi-sisi yang lain. Kalau kita tahu semuanya, kalau digabungin pasti kita jadi bisa ngerti dan peduli dengan keadaan disekitar kita.”
  
 Raina hanya mengangguk dan ber-oh panjang mendengar pria dihadapannya tersebut.
  
 “Kalau kamu, kenapa suka cokelat panas?”
  
 “Cokelat panas, Ya?”
  
 “Iya.”
  
֍

 “Na, aku kangen. Apa kamu ngerasa hal yang sama?” 
  
 Mario menghela nafas berat, ia berusaha kuat meskipun hatinya ringkih dan rapuh, meskipun hatinya hanya ditembokki dengan kaca yang mudah pecah bila terdesak terus-menerus. 
  
 Seandainya waktu dapat diputar kembali, itu adalah pengandaian bodoh dari orang-orang yang hanya ingin diam di tempat. Tapi bukan salah Mario jika kakinya tertahan di satu tempat karena ia memang tidak berencana untuk singgah. Lalu, apa ini salah Raina? Ataukah ini salah jarak dan waktu? Mengapa waktu dan jarak sampai hati memisahkan kedua sejoli itu, dengan sudi ia membangun benteng tinggi diantara mereka. 
  
 Mengapa jarak tidak bisa berkompromi sedikit? Mengapa waktu juga segan berkompromi barang sedikit saja agar luka dihati mario bisa terobati sedikit? Barangkali waktu dan jarak memang tidak bisa berkompromi, waktu akan terus berjalan dan jarak tidaklah mudah ditempuh. Menggapai surga terlalu tinggi untuk seorang yang masih hidup. Kini bukan hanya waktu dan jaraklah yang mengasingkan mereka. Namun dimensi turut andil menyimpan duka.
  
 Mario bangkit dari tempat tidurnya, ia memeluk kakinya dan menenggelamkan wajahnya. Ia tidak menangis, ia hanya terbawa suasana. Memorinya terus-menerus menguak habis ingatannya, kenangan yang ingin sekali ia simpan rapat dan menguncinya. Namun, Mario belum siap melakukan semua itu. Barangkali takdir atau memang nasibnya begitu. Ia bukan pecundang, namun saat ini kata itu hampir tepat menggambarkan keadaannya. 
  
 Mario mengambil sebuah foto berfigura dari atas mejanya. Di figura itu terlihat ia dan Raina sedang tersenyum lebar. Mata gadis itu begitu teduh, mata itu adalah salah satu hal yang sangat ia rindukan dari gadis itu. 
  
 “Apa yang salah dari kita? Kenapa kamu ke surga duluan, Na?”
  
 Mario kembali berbaring di tempat tidurnya, dibawanya figura itu dan didekapnya dengan erat. Ia mencoba memejamkan matanya yang terlihat lelah, sampai akhirnya semesta membiarkannya terlelap.
  
 Waktu seperti berjalan mundur, Mario merasa tubuhnya terhempas sangat jauh hingga ia mencapai lubang hitam. Ia bangkit mencari-cari penyebab keberadaannya disini. Rupanya, cahaya sedikit memberi petunjuk. Ia mengikuti secercah cahaya itu hingga ia sampai diujung lorong pertama, lalu ia meneruskan perjalanannya kali ini tanpa mengikuti cahaya. Cahaya itu sudah hilang entah kemana saat ia memasukki lorong kedua.
  
 Tiba-tiba ia berada ditempat yang sudah tidak asing baginya. Sebuah kedai kopi bernuansa kuno, aneh. Matanya menelusuri setiap sudut rungan itu. Matanya terhenti pada satu sosok gadis bermata teduh, gadis itu tersenyum kepadanya. Mario menghampiri gadis itu.
  
 “Raina.” 
  
 “Mau tiramisu, Sayang?” Raina menyodorkan sepotong kue tiramisu yang belum tersentuh sedikitpun, “Ini kue favoritmu, bukan?”
  
 “Tidak. Aku terlalu naif untuk mengartikan sebuah tiramisu sampai aku tahu aku sama sekali tidak ingin merasakan pahitnya hidup, selepas kepergian kamu. Bisakah kamu kembali? Apa kamu gak kangen aku, Na?” bulir bening menetes di pipi Mario, ia menggenggam tangan Raina tak ingin melepasnya.
  
 “Mario,”
  
 “Na, aku suka hujan, aku suka cokelat panas. Kembalilah dan kita akan menyusuri jalan penuh genangan saat hujan bersama-sama. Kamu terlalu egois untuk meninggalkanku begitu saja. Bukankan kita sama-sama tidak berniat untuk saling menyinggahi?”
  
 “Aku tidak pernah berniat singgah. Aku ingin tinggal, dan itu terbukti. Hatimu masih dipenuhi olehku, bukan? Aku masih bersamamu, Mario.” Raina pun ikut menangis.
  
 “Bukan tinggal seperti itu yang ku maksud. Kembalilah, Na. Aku akan melakukan apa saja agar kita bisa bersama. Hidupku kini layaknya kopi hitam tanpamu.”
  
 “Dewasalah, makanlah kue tiramisu ini seperti biasa kamu selalu menikmatinya. Kamu akan mengerti arti sebuah kehidupan. Semesta tidak mengizinkan raga kita untuk bersama. Tapi kita berhasil mengelabui semesta dengan hati kita yang selalu terikat. Pergilah, jangan sesali hidupmu. Kau bisa bahagia dengan orang lain tanpa harus membuang aku.”
  
 Mario tertegun, sejujurnya ia enggan menyadari hal itu.
  
 “Ketahuilah, Mario, aku sangat mencintai kamu seumur hidupku, kamulah orang pertama yang mengisi kekosongan hatiku dengan berjuta balon-balon indah, dengan bibit-bibit bunga yang mekar dengan sempurna. Dan kamu sekaligus orang terakhir itu.” Raina memeluk Mario erat. Hatinya menghangat, rasa hangat itu menjalar ke seluruh tubuhnya.

 “Apa kamu tahu, aku sangat mencintaimu?” Mario membuka suara.
  
 “Sangat. Begitupun aku.”
  
 Mario pun terbangun dari mimpinya, matanya basah memerah.

֍


“Kamu coba aja, kamu pasti tahu kenapa aku suka cokelat panas.” Raina tersenyum menyodorkan cokelat panas miliknya.
  
Mario menyesap cokelat panas itu perlahan, lalu ia meletakkan kembali cangkir porselen itu dan tersenyum.

“Terkadang, kita tidak bisa menjelaskan mengapa kita menyukai suatu hal, kita hanya bisa merasakannya tanpa berucap dan menjelaskan panjang lebar tentang sebuah rasa.” Senyum di wajah Raina mengembang.


֍
  Mendung bergelayut dilangit, tampaknya pagi ini akan kembali di guyur hujan. Mario memakai jaket kulit kesayangannya dan bergegas pergi menaiki motornya. Ia tiba di kedai langganannya dengan sedikit basah akibat gerimis dijalan.

Ia segera memasukki kedai itu dan menghuni bangku pojok tempat favoritnya bersama Raina. Ia belum memesan apapun, hujan diluarpun bertambah deras. Orang-orang mulai sibuk berdatangan untuk berteduh

֍

Dear, Mario!
Terimakasih untuk semua hal yang kamu lakukan untukku. Terimakasih sudah mengisi hati yang kosong ini dan memperbolehkanku mengecap rasa manis kehidupan, rasa manis cinta, dan tentu saja kamu. Kamu adalah orang pertama sekaligus terakhir yang mempu mengisi kosongnya hati ini.
Maaf jika aku tidak pernah mengatakan keadaanku yang sebenarnya. Aku akan melakukan cangkok sumsum tulang belakang esok hari, dan jika surat ini sampai ke tanganmu, maka disaat itulah kita sudah tidak bisa bersama.
Aku minta maaf atas segala hal yang pernah menyakitimu. Untuk segala hal termanis dan terindah, singkatnya perkenalan kita yang berujung rasa cinta, aku sangat berterimakasih kepada tuhan. Dan jika kita tidak dapat bersama hingga kelak, maafkanlah semesta dan berjanjilan untuk tidak membencinya. Kamu harus tau, aku sangat menyayangimu.
Untuk kamu yang selalu ada di hati

Raina.

֍

Mario tersenyum.

Ia memesan sepotong kue tiramisu lengkap dengan cokelat panas. Tak lama kemudian, seorang pria berseragam mengantar pesanan Mario, “Ini mas, Mario.”

“Terimakasih.” Mario tersenyum dan mulai menikmati potongan kue pertamanya. 

Tiba-tiba seorang gadis duduk manis dihadapannya sambil tersenyum ke arahnya. Mario menatapnya dengan tatapan seteduh mungkin, “Berteduh dari hujan, Ya?”
  
“Iya, tapi aku sering kesini.” ucap gadis itu.
  
“Oh, Ya?” Mario mengernyitkan dahinya mencoba mengingat-ingat.
  
“Kamu gak pernah melihat aku, kamu lebih sering melihat ke luar jendela.” Gadis itu tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang indah.
  
“Memperhatikan juga, Ya.” Mario tersenyum sembari melipat tangannya.
  
“Gak juga, sih. Aku Ovyta.” gadis itu mengulurkan tangan kanannya.
  
“Aku, Mario.” Mario pun menyambut uluran tangan Ovyta.
  
“Wah, tiramisu! Aku juga suka kue itu.”
  
Gadis itu berseru riang. Mereka pun terhanyut dalam obrolan ringan dipenuhi tawa. Akankah kali ini cinta terselip lagi diantara sela tawa mereka?

֍֍֍



Cinta adalah bagian dari kehidupan,
tapi hidup hanyalah persinggahan.
-GZA-

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...