Kau tahu, bagiku waktu terus berjalan mundur. Seperti memastikan kesempatan-kesempatan yang menggugat ketepatan. Entah untuk memastikan bahwa kita adalah orang yang tepat diwaktu yang salah ataukah kita adalah orang yang salah diwaktu yang tepat?
Kau juga tahu, bagiku waktu terus melambat. Ia bercerita sekaligus memutar roll film yang tak pernah ada wujud nyatanya. Itu tentang kita dan sementara kita hanya bisa terdiam ikut menyaksikan waktu yang tak pernah sampai ke tujuan, meskipun sesekali kita ikut menari dalam gerak yang sulit terbaca. Waktu seperti menentang kebersamaan kita dan membenarkan bahwa kita adalah bagian dari ketepatan di waktu yang salah.
Sedetik, dua detik, tiga detik.
Aku masih saja terpaku pada matamu. Masih saja aku dibuatnya terenyuh walaupun mendung sudah bergelayut cukup lama disana. Sedang angin terus meniup matamu hingga memerah. Tatapmu masih saja menyisir tepian rapuh yang kuyakini melebur selepas jejakmu menghilang dari pendarnya. Perpisahan mulai bekerja sebagaimana mestinya, membangun benteng dan mengurung pelukan pada satu hal yang tidak lagi dalam jangkauan.
Mendungmu masih saja bergelayut, menyentak ruang terdalam hatiku yang sudah terlanjur kau isi. Sedikit demi sedikit gerimis turun memberi sentuhan pada yang tak tersentuh, sebelum akhirnya deras dengan sebagian diriku yang lebur. Lalu ada apa dengan perpisahan? Mengapa ia berdiri lama disana? Ia masih saja menulis cerita tentang kau dan aku yang entah kepada siapa akan ia ceritakan rupa getirnya.
Kau tidak tahu, bagiku entah sejak kapan satuan waktu berubah menjadi lama, sangat lama. Tapi mungkin sejak perpisahan tergambar jelas dalam manik matamu yang hitamnya melebihi arang. Selepasnya peristiwa dalam jengkal, sejak keningmu hanya menyisakan tempat terakhir bagi kecupanku yang kuyakini tak akan pernah cukup. Sesaat, aku ingin waktu menjadi jauh dan detik menjadi lebih lama dari biasanya dan pelukanku, aku ingin pelukanku masih berada pada rengkuh seluk ternyamanmu. Juga jemariku yang menyusuri helai demi helai rambutmu yang tertiup angin bulan rindu.
Aku dipermainkan waktu, ia malah lari terburu-buru.
Kau, rindu, ia akan terus mencumbu setiap waktu yang tertinggal pada ruang yang kau sapu. Juga mendung yang akan menemaniku menikmati gemuruh terakhir, pada hujan yang meluruhkan bayang dirimu seluruhnya. Perpisahan mengingatkan betapa tidak ada yang amerta di dunia ini. Betapa waktu benar-benar berjalan tanpa bisa berhenti. Entah bagaimana bisa satu dekapan tergantikan dengan kaku yang memaksa untuk takluk. Lalu siluet tubuhmu menghilang seiring petang yang terus berganti mendekati malam. Memori bertaruh, ia hanya menjadi pengingat bahwa meskipun kita menembus jutaan tahun cahaya untuk kembali menapaktilasi tempat yang sudah terilas, kita tetaplah dua orang yang menyanding kata 'pernah'.
Sekarang aku tak suka pagi, pada senin yang membuai mendung pada langit sendunya. Seperti kau, pagi hanya menitip basah embun untuk kemudian tidak dijaga. Sedang kau, tak pernah sadar bahwa aku selalu terjaga untuk memastikan hatimu terjaga.
(2018)