Senin, 08 Oktober 2018

[Monolog] Rupa Getir

Kau tahu, bagiku waktu terus berjalan mundur. Seperti memastikan kesempatan-kesempatan yang menggugat ketepatan. Entah untuk memastikan bahwa kita adalah orang yang tepat diwaktu yang salah ataukah kita adalah orang yang salah diwaktu yang tepat?

Kau juga tahu, bagiku waktu terus melambat. Ia bercerita sekaligus memutar roll film yang tak pernah ada wujud nyatanya. Itu tentang kita dan sementara kita hanya bisa terdiam ikut menyaksikan waktu yang tak pernah sampai ke tujuan, meskipun sesekali kita ikut menari dalam gerak yang sulit terbaca. Waktu seperti menentang kebersamaan kita dan membenarkan bahwa kita adalah bagian dari ketepatan di waktu yang salah.

Sedetik, dua detik, tiga detik.
Aku masih saja terpaku pada matamu. Masih saja aku dibuatnya terenyuh walaupun mendung sudah bergelayut cukup lama disana. Sedang angin terus meniup matamu hingga memerah. Tatapmu masih saja menyisir tepian rapuh yang kuyakini melebur selepas jejakmu menghilang dari pendarnya. Perpisahan mulai bekerja sebagaimana mestinya, membangun benteng dan mengurung pelukan pada satu hal yang tidak lagi dalam jangkauan.

Mendungmu masih saja bergelayut, menyentak ruang terdalam hatiku yang sudah terlanjur kau isi. Sedikit demi sedikit gerimis turun memberi sentuhan pada yang tak tersentuh, sebelum akhirnya deras dengan sebagian diriku yang lebur. Lalu ada apa dengan perpisahan? Mengapa ia berdiri lama disana? Ia masih saja menulis cerita tentang kau dan aku yang entah kepada siapa akan ia ceritakan rupa getirnya. 

Kau tidak tahu, bagiku entah sejak kapan satuan waktu berubah menjadi lama, sangat lama. Tapi mungkin sejak perpisahan tergambar jelas dalam manik matamu yang hitamnya melebihi arang. Selepasnya peristiwa dalam jengkal, sejak keningmu hanya menyisakan tempat terakhir bagi kecupanku yang kuyakini tak akan pernah cukup. Sesaat, aku ingin waktu menjadi jauh dan detik menjadi lebih lama dari biasanya dan pelukanku, aku ingin pelukanku masih berada pada rengkuh seluk ternyamanmu. Juga jemariku yang menyusuri helai demi helai rambutmu yang tertiup angin bulan rindu. 

Aku dipermainkan waktu, ia malah lari terburu-buru.

Kau, rindu, ia akan terus mencumbu setiap waktu yang tertinggal pada ruang yang kau sapu. Juga mendung yang akan menemaniku menikmati gemuruh terakhir, pada hujan yang meluruhkan bayang dirimu seluruhnya. Perpisahan mengingatkan betapa tidak ada yang amerta di dunia ini. Betapa waktu benar-benar berjalan tanpa bisa berhenti. Entah bagaimana bisa satu dekapan tergantikan dengan kaku yang memaksa untuk takluk. Lalu siluet tubuhmu menghilang seiring petang yang terus berganti mendekati malam. Memori bertaruh, ia hanya menjadi pengingat bahwa meskipun kita menembus jutaan tahun cahaya untuk kembali menapaktilasi tempat yang sudah terilas, kita tetaplah dua orang yang menyanding kata 'pernah'.

Sekarang aku tak suka pagi, pada senin yang membuai mendung pada langit sendunya. Seperti kau, pagi hanya menitip basah embun untuk kemudian tidak dijaga. Sedang kau, tak pernah sadar bahwa aku selalu terjaga untuk memastikan hatimu terjaga.



(2018)

Senin, 08 Januari 2018

[Monolog] Selamat Datang Perpisahan

Bandara merupakan tempat terakhir yang mengantarkan kita pada sunyi. Menjadi tempat terakhir bagi pelukan erat yang melepas derai air mata dan isakan yang tak terlupakan. Menjadi tempat terakhir, dimana kesendirian menjadi satu-satunya hal yang kita ingat selepasnya. Aku ingat dengan jelas air wajahmu yang sendu meski gelap malam menutup wajahmu separuh. Aku ingat dengan jelas lembut helai rambutmu yang tertiup angin bulan Mei dan sendu-sendu yang mewakili desiran seluruh tubuhmu.

Kita berdua kaku, kau tak berani menatap wajahku meskipun aku berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Mungkin kita terlalu kuat, hingga kau paham betul bahwa tidak ada satupun bagian dari tubuhku yang merasa baik. Kau tahu malam itu, angin bertiup dengan kencang. Mencairkan eskrim cokelat kesukaanmu dengan mudah dan membuat sedikit genangan pada genggaman tanganmu. Kau masih diam saat aku mengusap jemarimu. Jari-jarimu dingin dan kaku, entah karena es krim yang menetes di jemarimu atau karena suasana malam itu.

Aku tak melihat jam ditanganku dan bodohnya, aku juga tak melontarkan kalimat kepadamu. Yang kusadari saat ini, aku telah membuang detik yang kita miliki saat itu. Aku yang selalu mematuhi waktu menjadi pengecut kala melihat dirimu yang terus menunduk. Aku seakan lupa bahwa waktu masih mengiringi kita hingga sampai ke tepian. Detik demi detik yang terlewati begitu saja hanya bertemankan suara napas kita. Aku tahu betapa kau berusaha menahan napasmu agar terdengar beraturan. Kau tak menyadari bahwa suara detak jantungmu lebih keras dari hela napasmu. 

Maaf, pada malam terakhir yang terbingkai sunyi. Pada isakan tangis yang keluar dari bibirmu yang sesungguhnya sangat kubenci, kau tahu aku tak suka melihatmu menangis. Pada pelukan erat yang menjadi saksi terakhir yang mengantarkan dirimu pada sebuah perpisahan. Maaf, karena kata yang tersusun rapi dalam kepala menjadi beku setelah menyadari waktu dan kesendirian yang akan datang. 

Maaf, kepada dirimu seseorang yang sungguh kucintai. 
Selamat tinggal dan selamat datang perpisahan.


(2018)

Kamis, 29 Juni 2017

Batas Kelabu

kau tak tahu apa yang dibicarakan hitam kepada putih 
          ketika abu-abu menjadi warna terakhir                
                 yang tersemat dalam bayangmu

kau tak tahu apa yang diagungkan hitam atas putih
          ketika semesta mengantarkan gelap malam
                 yang menikam punggungmu di batas kelabu


(2017)

Sabtu, 11 Maret 2017

[Aksara Pagi] Aku Terlambat

Pagi ini dingin
Seperti sorot mataku yang melepas punggungmu
Menjauh dari keningku
Tak ada apa-apa disana selain hitam dan putih
Tak lagi kutemui warna jingga dari bibirmu yang terbingkai cemas
Kala pamit untuk berhenti
Aku mematung,
Derak tiang yang sejak awal membisu kini jengang
Aku terlambat menghitung jejak yang kau tinggal dan
Lagi-lagi aku terlambat,
Kau sudah hilang dan kusadar kau hanya bayangan


(2017)


Jumat, 10 Maret 2017

[Rangkaian Rindu] Tempat Pulang dari Segala Jelajah

Kau adalah rumah
Dengan kisi rapuh pada teras
Kemarin, sengaja kutitip daun kering pada tanah
Juga pohon akasia yang meneduhkan
Kesana aku akan pulang, mengecup jejak-jejak yang kutinggalkan
Basah, hujan belum juga reda
Bisiknya pada udara tentang kau yang kusebut rumah
Tempat pulang dari segala jelajah untukku melepas lelah


(2017)

[Rangkaian Rindu] Tilik Rindu

Malam, malam sendu
Air wajahmu luka dalam malamku
Tilik-tilik rindu dari kenangan malam
Titah sebelum fajar mengecup gelisah
"Mengapa?"
Jawaban yang sedang kucari,
Tanya yang sedang kusiasati
Tentang rindu yang bersarang dalam jeda,
Ataukah kau,
Yang tak pernah jera meniduri setiap bait yang kupuja?


(2017)

[Rangkaian Rindu] Sebentar

Sebentar,
Kuderai dedaunan dipohon tua
Aku tak pernah singgah untuk jalan setapak
Dengan ranting tak beraturan
Dalam kecemasan yang kau ragu sebagai aku
Sebentar,
Tidak lama siapa yang tahu?


(2017)


Jumat, 10 Februari 2017

Tunggu Aku

Sayang, sayang, sayang
Kapan kiranya kita akan berjumpa?
Angin sudah kelelahan membawa rindu yang kutitipkan
Langit ingin menyerah,
Karena aku terus mendesak malam agar segera pagi
Sayang, sayang, sayang
Tunggu aku


(2017)

Minggu, 16 Oktober 2016

[MONOLOG] Bicara Tentang Luka

Sorot mata itu tidak berubah, masih sama seperti kali pertama sepasang mata itu membuat jantungku turun ke perut. Warnanya masih sama, cokelat tua, tapi, sedikit cerah. Sepasang mata itu kini menatap sepasang manik mata milikku, aku hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Apakah sepasang mata itu menyadari sorot mataku yang tidak lagi sama? 

Aku baru mengetahuinya setelah diam lama didepan cermin. Satu jam, dua jam, atau lebih. Sepasang mataku masih menatap bayangan diriku dalam cermin yang bertabur bedak. Akhir-akhir ini aku memang sibuk bermain dengan bedak-bedak yang sengaja kubeli untuk menyamarkan wajahku yang -sejak sepasang mata itu berkedip lalu pergi- terlihat menyedihkan. Aku sampai hafal dengan harga-harga bedak diluar sana, aku mendadak jadi kolektor bedak. Tapi rasanya, semua bedak itu tidak membuat wajahku terlihat membaik, entahlah, raut wajahku masih sama bahkan makin buruk. 

Aku bahkan bisa melihat luka dari sorot mataku, sekalipun cermin itu dipenuhi taburan bedak. Jika akulah cermin itu, mungkin aku sudah meremukkan kaca karena bosan melihat orang yang sama bercermin hanya untuk memastikan bahwa ia sedang baik-baik saja, yang kenyataannya, tidak.

"Cermin, Cermin, apakah wajahku masih cantik seperti dulu?"

Aku mulai merasa gila, bicara tentang luka memang tidak ada habisnya. Baiklah, mari kita sudahi percakapan tentang luka milikku ini. 

Minggu, 02 Oktober 2016

Si Tukang Ngintip

Cangkir kopi milikmu telah kosong,
aku mengintip lewat kisi

Kau mengikat rambutmu yang helainya jatuh
pas ditengkuk,
aku mengintip lewat kisi

Kau melamun

Kau menghela napas berat
dua kali dalam lima menit terakhir,
aku mengintip lewat kisi

Kau membuka sedikit bibirmu,
Arghhh! aku menelan ludah dibuatnya

Oh, kau menoleh, setelahnya
"Hey! Si Tukang Ngintip!"

Aku melarikan diri bersama bayang dirimu
yang kubawa separuh


(2016)



Kamis, 29 September 2016

Cerita Bohong

Kau namai dirimu dengan hujan
Sedang aku, senja yang berharap tak pernah selesai
Seperti cerita-cerita misteri dibelakang sekolah
Atau siluman buaya putih di kolam ikan milik sekolah
Sama bodohnya? Itu mengalir begitu saja, kau tahu
Ssst, diam!
Aku menikmati ceritanya


(2016)

Are Bulan November

“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati.  Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...