aku ingin bercerita tentang jarak
tentang bagaimana jarak mengasingkan kita
tentang betapa banyak rindu yang dipisahkan oleh jarak
dan bertanya,
bagaimana bisa jarak yang tidak begitu jauh,
tidak mampu meluluhkan sedikit saja rindu?
jarak, entah sudah berapa banyak rasa rindu terpisah oleh jarak
entah sudah berapa banyak rasa rindu yang meluap melalui air mata
apakah jarak segitunya membenci kita?
seakan-akan jarak ingin mengenyahkan kita bersama rindu
entah sudah berapa banyak kalimat 'aku rindu kamu'
tertahan di dada,
entah sudah berapa banyak kalimat 'aku rindu kamu'
mencoba menguatkan hati,
aku rindu bukan karena jarak,
aku rindu karena aku berharap kamu selalu ada disini
tapi, bisakah jarak sedikit saja mengerti?
untuk tidak mengasingkan kita lebih lama lagi
Rabu, 09 April 2014
Selasa, 18 Maret 2014
[MONOLOG] Wanita
Hai, aku wanita. Apa kabar? Sepertinya kamu terlihat kurang baik, atau ini hanya penglihatanku saja? Maaf, pandanganku kabur setelah air mata yang jatuh berhasil mengaburkannya. Aku baik-baik saja, mungkin. Oh ya, adakah pesan yang ingin kamu ucapkan? Aku? Ah, tidak. Sampai saat ini aku masih merasa baik. Kamu bertanya mengapa air mataku jatuh? Itu hanya perkara kecil sebenarnya, tapi, hatiku terlalu kalut.
Hatiku terlalu kalut, karena dalam masalah ini aku harus berhadapan dengan orang yang aku sayang. Siapa? Ah, kamu sendiri pasti mengetahuinya. Siapa lagi orang di dunia ini yang berhasil mencuri hatiku? Bahkan sebenarnya, dia tidak perlu mencurinya, memintapun akan langsung ku beri. Atau, tanpa dia memintapun, akan kuberikan hatiku dengan senang hati.
Dia orang yang membuatku bahagia. Mengapa harus bahagia? Ahh, kamu kurang paham ya? Ceria saja tidak cukup, bukan? Dia yang membuatmu bahagia sudah pasti bisa membuatmu ceria, membuatmu senang, dan mampu mengukir seulas senyum tulus dibibirmu. Lalu, apakah orang yang membuatmu ceria bisa membuatmu bahagia? Belum tentu. Dia yang membuatmu ceria, mungkin tidak akan bertahan lama, atau hanya mampu membuatmu melupakan sejenak masalah yang terjadi di hidupmu.
Apakah yang membuatmu bahagia pasti tidak akan pernah membuat sedih? Ya, tidak juga. Sedih, senang, tawa bahagia, tawa terpaksa, tangis bahagia, tangis derita, dsb, sampai kapanpun akan terus mengiringi kehidupan, bukan? Dia yang tulus membuatmu bahagia bukan tidak mungkin mampu membuatmu menangis. Tapi bukan berarti, orang yang membuatmu menangis akan lega setelah membuatmu menangis. Jika dia tulus, diam-diam hatinya pun ikut teriris.
Masalah itu pasti akan selalu datang. Yang harus kita lakukan adalah mencari jalan keluar, bukan mencari jalan pintas. Tapi bagaimana kalau yang ditemukan hanya jalan buntu? Putarlah sampai kamu menemukan jalan keluar. Yang buntu itu hanya takdir. Dewasalah walaupun untuk sesaat. Coba singkirkan ego, mulailah berbicara tanpa menggunakan ego masing-masing. Kalau untuk mencapai akhir yang bahagia, kenapa harus malas berjalan terus ke depan yang penuh hambatan? Jalanan pun tidak selalu mulus, pasti ada kerikil.
Tapi jangan marah, mungkin kamu hanya belum bisa menerima keadaan. Kamu tidak bisa? Pasti kamu bisa, Pelan-pelan, kamu pasti bisa menerima keadaan.
Hatiku terlalu kalut, karena dalam masalah ini aku harus berhadapan dengan orang yang aku sayang. Siapa? Ah, kamu sendiri pasti mengetahuinya. Siapa lagi orang di dunia ini yang berhasil mencuri hatiku? Bahkan sebenarnya, dia tidak perlu mencurinya, memintapun akan langsung ku beri. Atau, tanpa dia memintapun, akan kuberikan hatiku dengan senang hati.
Dia orang yang membuatku bahagia. Mengapa harus bahagia? Ahh, kamu kurang paham ya? Ceria saja tidak cukup, bukan? Dia yang membuatmu bahagia sudah pasti bisa membuatmu ceria, membuatmu senang, dan mampu mengukir seulas senyum tulus dibibirmu. Lalu, apakah orang yang membuatmu ceria bisa membuatmu bahagia? Belum tentu. Dia yang membuatmu ceria, mungkin tidak akan bertahan lama, atau hanya mampu membuatmu melupakan sejenak masalah yang terjadi di hidupmu.
Apakah yang membuatmu bahagia pasti tidak akan pernah membuat sedih? Ya, tidak juga. Sedih, senang, tawa bahagia, tawa terpaksa, tangis bahagia, tangis derita, dsb, sampai kapanpun akan terus mengiringi kehidupan, bukan? Dia yang tulus membuatmu bahagia bukan tidak mungkin mampu membuatmu menangis. Tapi bukan berarti, orang yang membuatmu menangis akan lega setelah membuatmu menangis. Jika dia tulus, diam-diam hatinya pun ikut teriris.
Masalah itu pasti akan selalu datang. Yang harus kita lakukan adalah mencari jalan keluar, bukan mencari jalan pintas. Tapi bagaimana kalau yang ditemukan hanya jalan buntu? Putarlah sampai kamu menemukan jalan keluar. Yang buntu itu hanya takdir. Dewasalah walaupun untuk sesaat. Coba singkirkan ego, mulailah berbicara tanpa menggunakan ego masing-masing. Kalau untuk mencapai akhir yang bahagia, kenapa harus malas berjalan terus ke depan yang penuh hambatan? Jalanan pun tidak selalu mulus, pasti ada kerikil.
Tapi jangan marah, mungkin kamu hanya belum bisa menerima keadaan. Kamu tidak bisa? Pasti kamu bisa, Pelan-pelan, kamu pasti bisa menerima keadaan.
Minggu, 17 November 2013
Kesetiaan
aku tidak pernah benar-benar mengerti apa arti kesetiaan itu.
yang aku tahu, aku hanya bertahan untuk satu orang.
padahal, belum tentu aku mendapat perlakuan yang sama.
adakah orang yg bertahan hanya untukku?
yang aku tahu, aku hanya bertahan untuk satu orang.
padahal, belum tentu aku mendapat perlakuan yang sama.
adakah orang yg bertahan hanya untukku?
Minggu, 29 September 2013
Gadis kecil
Ia berlari ditengah guyuran hujan
Dan sesekali tertawa
Ia membawa payung ditangan kanannya
Tapi payung itu tak ia gunakan
Masukklah, nak! begitu perintah ibunya
Sebentar bu, hujan masih ingin bermain denganku, ia kesepian. begitu.
Dan sesekali tertawa
Ia membawa payung ditangan kanannya
Tapi payung itu tak ia gunakan
Masukklah, nak! begitu perintah ibunya
Sebentar bu, hujan masih ingin bermain denganku, ia kesepian. begitu.
segores luka
segores luka dihatimu tak terlihat jelas
namun kuyakin itu meringis dengan sinis
seperti hujan membuat katak menangis
oh, kau kesakitan
debar jantungmu terdengar kencang
sebelum kau mati tertabrak derita
namun kuyakin itu meringis dengan sinis
seperti hujan membuat katak menangis
oh, kau kesakitan
debar jantungmu terdengar kencang
sebelum kau mati tertabrak derita
Love-
Loving someone is easy, like a piece of cake.
But forget someone that we love is like brownies without chocolate.
Sometimes, love is boring.
But if we interpret it sincerely then love it like a rainbow.
Love could make everyone forget about everything, and feel like an idiots.
And love is like heaven.
But it can hurt like hell.
But forget someone that we love is like brownies without chocolate.
Sometimes, love is boring.
But if we interpret it sincerely then love it like a rainbow.
Love could make everyone forget about everything, and feel like an idiots.
And love is like heaven.
But it can hurt like hell.
Senja di pelabuhan kecil
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut
Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.
Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap
Chairil Anwar
Doa
Tuhan
Bila boleh aku meminta
Aku ingin hati
Yang setia dalam merajut
Suka dan duka bersama
Bila boleh aku memberi
Ingin kuberi padanya
Sebuah jiwa dan cinta
Agar setia
Dan bersatu selamanya
*This poet made by my mom when she was young
Minggu, 10 Maret 2013
membunuh raga
sepi... sepi aku rasa
dibelenggu pekat malam
angin menyusupi raga
raga penuh kehancuran
raga penuh khianat
raga tanpa jiwa
aku diam mematung
selagi sadar
malam bertambah pekat
aku tetap mematung
tapi tidak sepenuhnya
memastikan ragaku yang mati
atau aku yang membunuh raga
dibelenggu pekat malam
angin menyusupi raga
raga penuh kehancuran
raga penuh khianat
raga tanpa jiwa
aku diam mematung
selagi sadar
malam bertambah pekat
aku tetap mematung
tapi tidak sepenuhnya
memastikan ragaku yang mati
atau aku yang membunuh raga
Kamis, 28 Februari 2013
disaat
saat mata tak lagi dapat memandang
saat air mata tak lagi dapat berhenti
dan saat tak lagi ada tangan yang mampu mengusapnya
disaat itulah aku benar-benar menginginkannya
pergi selamanya untuk bersamamu kembali
saat air mata tak lagi dapat berhenti
dan saat tak lagi ada tangan yang mampu mengusapnya
disaat itulah aku benar-benar menginginkannya
pergi selamanya untuk bersamamu kembali
Rabu, 27 Februari 2013
sang dara rapuh
menyanjung cinta dalam ucapan
memuja jiwa dalam emosi
sang dara rapuh karena cinta
menderu derasnya air mata
bertekuk pada yang dicinta
oh.. pujangga
haruskah kutaklukan samudera?
agar kau tetap tinggal
kau pujangga tetap pergi
sang dara rapuh
tak layu bunga setaman
mati dalam genggaman
Langganan:
Postingan (Atom)
Are Bulan November
“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati. Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...