Pagi ini dingin
Seperti sorot mataku yang melepas punggungmu
Menjauh dari keningku
Tak ada apa-apa disana selain hitam dan putih
Tak lagi kutemui warna jingga dari bibirmu yang terbingkai cemas
Kala pamit untuk berhenti
Aku mematung,
Derak tiang yang sejak awal membisu kini jengang
Aku terlambat menghitung jejak yang kau tinggal dan
Lagi-lagi aku terlambat,
Kau sudah hilang dan kusadar kau hanya bayangan
(2017)
Sabtu, 11 Maret 2017
Jumat, 10 Maret 2017
[Rangkaian Rindu] Tempat Pulang dari Segala Jelajah
Kau adalah rumah
Dengan kisi rapuh pada teras
Kemarin, sengaja kutitip daun kering pada tanah
Juga pohon akasia yang meneduhkan
Kesana aku akan pulang, mengecup jejak-jejak yang kutinggalkan
Basah, hujan belum juga reda
Bisiknya pada udara tentang kau yang kusebut rumah
Tempat pulang dari segala jelajah untukku melepas lelah
(2017)
[Rangkaian Rindu] Tilik Rindu
Malam, malam sendu
Air wajahmu luka dalam malamku
Tilik-tilik rindu dari kenangan malam
Titah sebelum fajar mengecup gelisah
"Mengapa?"
Jawaban yang sedang kucari,
Tanya yang sedang kusiasati
Tentang rindu yang bersarang dalam jeda,
Ataukah kau,
Yang tak pernah jera meniduri setiap bait yang kupuja?
(2017)
Air wajahmu luka dalam malamku
Tilik-tilik rindu dari kenangan malam
Titah sebelum fajar mengecup gelisah
"Mengapa?"
Jawaban yang sedang kucari,
Tanya yang sedang kusiasati
Tentang rindu yang bersarang dalam jeda,
Ataukah kau,
Yang tak pernah jera meniduri setiap bait yang kupuja?
(2017)
[Rangkaian Rindu] Sebentar
Sebentar,
Kuderai dedaunan dipohon tua
Aku tak pernah singgah untuk jalan setapak
Dengan ranting tak beraturan
Dalam kecemasan yang kau ragu sebagai aku
Sebentar,
Tidak lama siapa yang tahu?
(2017)
Kuderai dedaunan dipohon tua
Aku tak pernah singgah untuk jalan setapak
Dengan ranting tak beraturan
Dalam kecemasan yang kau ragu sebagai aku
Sebentar,
Tidak lama siapa yang tahu?
(2017)
Jumat, 10 Februari 2017
Tunggu Aku
Sayang, sayang, sayang
Kapan kiranya kita akan berjumpa?
Angin sudah kelelahan membawa rindu yang kutitipkan
Langit ingin menyerah,
Karena aku terus mendesak malam agar segera pagi
Sayang, sayang, sayang
Tunggu aku
(2017)
Kapan kiranya kita akan berjumpa?
Angin sudah kelelahan membawa rindu yang kutitipkan
Langit ingin menyerah,
Karena aku terus mendesak malam agar segera pagi
Sayang, sayang, sayang
Tunggu aku
(2017)
Minggu, 16 Oktober 2016
[MONOLOG] Bicara Tentang Luka
Sorot mata itu tidak berubah, masih sama seperti kali pertama sepasang mata itu membuat jantungku turun ke perut. Warnanya masih sama, cokelat tua, tapi, sedikit cerah. Sepasang mata itu kini menatap sepasang manik mata milikku, aku hanya memandangnya dengan tatapan kosong. Apakah sepasang mata itu menyadari sorot mataku yang tidak lagi sama?
Aku baru mengetahuinya setelah diam lama didepan cermin. Satu jam, dua jam, atau lebih. Sepasang mataku masih menatap bayangan diriku dalam cermin yang bertabur bedak. Akhir-akhir ini aku memang sibuk bermain dengan bedak-bedak yang sengaja kubeli untuk menyamarkan wajahku yang -sejak sepasang mata itu berkedip lalu pergi- terlihat menyedihkan. Aku sampai hafal dengan harga-harga bedak diluar sana, aku mendadak jadi kolektor bedak. Tapi rasanya, semua bedak itu tidak membuat wajahku terlihat membaik, entahlah, raut wajahku masih sama bahkan makin buruk.
Aku bahkan bisa melihat luka dari sorot mataku, sekalipun cermin itu dipenuhi taburan bedak. Jika akulah cermin itu, mungkin aku sudah meremukkan kaca karena bosan melihat orang yang sama bercermin hanya untuk memastikan bahwa ia sedang baik-baik saja, yang kenyataannya, tidak.
"Cermin, Cermin, apakah wajahku masih cantik seperti dulu?"
Aku mulai merasa gila, bicara tentang luka memang tidak ada habisnya. Baiklah, mari kita sudahi percakapan tentang luka milikku ini.
Minggu, 02 Oktober 2016
Si Tukang Ngintip
Cangkir kopi milikmu telah kosong,
aku mengintip lewat kisi
Kau mengikat rambutmu yang helainya jatuh
pas ditengkuk,
aku mengintip lewat kisi
Kau melamun
Kau menghela napas berat
dua kali dalam lima menit terakhir,
aku mengintip lewat kisi
Kau membuka sedikit bibirmu,
Arghhh! aku menelan ludah dibuatnya
Oh, kau menoleh, setelahnya
"Hey! Si Tukang Ngintip!"
Aku melarikan diri bersama bayang dirimu
yang kubawa separuh
(2016)
aku mengintip lewat kisi
Kau mengikat rambutmu yang helainya jatuh
pas ditengkuk,
aku mengintip lewat kisi
Kau melamun
Kau menghela napas berat
dua kali dalam lima menit terakhir,
aku mengintip lewat kisi
Kau membuka sedikit bibirmu,
Arghhh! aku menelan ludah dibuatnya
Oh, kau menoleh, setelahnya
"Hey! Si Tukang Ngintip!"
Aku melarikan diri bersama bayang dirimu
yang kubawa separuh
(2016)
Kamis, 29 September 2016
Cerita Bohong
Kau namai dirimu dengan hujan
Sedang aku, senja yang berharap tak pernah selesai
Seperti cerita-cerita misteri dibelakang sekolah
Atau siluman buaya putih di kolam ikan milik sekolah
Sama bodohnya? Itu mengalir begitu saja, kau tahu
Ssst, diam!
Aku menikmati ceritanya
(2016)
Sedang aku, senja yang berharap tak pernah selesai
Seperti cerita-cerita misteri dibelakang sekolah
Atau siluman buaya putih di kolam ikan milik sekolah
Sama bodohnya? Itu mengalir begitu saja, kau tahu
Ssst, diam!
Aku menikmati ceritanya
(2016)
Sabtu, 24 September 2016
Cerita Tentang Tuan dan Gadis Gincu
Tuan
Tuan
Tuan
Aku datang
Hendak meminta uang
Untuk membeli gincu
Gadis
Gadis
Gadis
Kemari, tuan beri uang
Tuan meminta itu
Untuk harga kau beli gincu
(2016)
Tuan
Tuan
Aku datang
Hendak meminta uang
Untuk membeli gincu
Gadis
Gadis
Gadis
Kemari, tuan beri uang
Tuan meminta itu
Untuk harga kau beli gincu
(2016)
Rabu, 21 September 2016
Cerita Tentang Cookies
Mari datang, sayang, kemari
Mari datang, sayang
Mari datang
Mari
Sudah aku bersihkan beranda
Secangkir teh hangat di teras depan
Manis, bukan tebu, aku pakai stevia
Dengan empat butir cookies kesukaanmu
Cokelat, cokelat, cokelat, cokelat
Pas empat butir
Delapan kali suap kalau satu cookies dua kali suap
Duabelas kali suap kalau satu cookies tiga kali suap
Kau menyuap sepuluh kali,
Dua cookies dengan cara pertama
Dua cookies dengan cara kedua
Biar adil kau bilang
(2016)
Mari datang, sayang
Mari datang
Mari
Sudah aku bersihkan beranda
Secangkir teh hangat di teras depan
Manis, bukan tebu, aku pakai stevia
Dengan empat butir cookies kesukaanmu
Cokelat, cokelat, cokelat, cokelat
Pas empat butir
Delapan kali suap kalau satu cookies dua kali suap
Duabelas kali suap kalau satu cookies tiga kali suap
Kau menyuap sepuluh kali,
Dua cookies dengan cara pertama
Dua cookies dengan cara kedua
Biar adil kau bilang
(2016)
Selasa, 20 September 2016
Kisah Hujan dan Kaki
Hujan turun lagi
Deras,
Memang tidak sederas kemarin
Tapi aku kehujanan sampai kuyup
*
Ada pecahan beling, juga
Darah, menuntunmu kepadaku di pojok ruangan
Sedang meringkuk
"Darah, beling, awas!" Kau berseru.
Aku memelas, "Aku tak sengaja menginjaknya."
Kau cemas lalu datang
Membersihkan luka dengan tatap iba
"Itu beling yang kau pecahkan semalam." Kataku.
(2016)
Deras,
Memang tidak sederas kemarin
Tapi aku kehujanan sampai kuyup
*
Ada pecahan beling, juga
Darah, menuntunmu kepadaku di pojok ruangan
Sedang meringkuk
"Darah, beling, awas!" Kau berseru.
Aku memelas, "Aku tak sengaja menginjaknya."
Kau cemas lalu datang
Membersihkan luka dengan tatap iba
"Itu beling yang kau pecahkan semalam." Kataku.
(2016)
Langganan:
Postingan (Atom)
Are Bulan November
“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati. Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...