aku takut kamu pergi
melepas segalanya, termasuk aku
aku takut kamu hilang
sengaja menghilang agar tak kutemukan
aku takut kamu jemu
dengan segala hal yang ku lakukan
atau,
kamu memang sudah jemu?
Sabtu, 06 Juni 2015
Kamis, 21 Mei 2015
Boleh?
waktu itu kamu hanya bisa diam
saat suara dan isak tangisku berlomba untuk
mempertanyakan, "apa yang salah dengan kita?"
kamu diam dan sesekali menjawab,
"tidak ada yang salah, aku hanya ingin pergi, boleh?"
lalu kamu pergi tanpa mendengar jawaban dariku
saat kamu pergi pun, aku masih berteriak bahwa kamu tidak boleh pergi
aku berharap agar angin berbisik di telingamu
setelah kamu pergi dan membiarkanku hampir mati
dan memaksaku untuk membuang hatimu
tiba-tiba kamu kembali
dan berkata "aku kangen, aku ingin kembali, boleh?"
saat ini aku hanya bisa diam
diamku bukan karena kasihan
aku tidak peduli
melihatmu menangis seperti yang aku lakukan waktu itu
"kamu boleh kembali, sayang. tapi, sekarang aku ingin pergi. boleh?"
saat suara dan isak tangisku berlomba untuk
mempertanyakan, "apa yang salah dengan kita?"
kamu diam dan sesekali menjawab,
"tidak ada yang salah, aku hanya ingin pergi, boleh?"
lalu kamu pergi tanpa mendengar jawaban dariku
saat kamu pergi pun, aku masih berteriak bahwa kamu tidak boleh pergi
aku berharap agar angin berbisik di telingamu
setelah kamu pergi dan membiarkanku hampir mati
dan memaksaku untuk membuang hatimu
tiba-tiba kamu kembali
dan berkata "aku kangen, aku ingin kembali, boleh?"
saat ini aku hanya bisa diam
diamku bukan karena kasihan
aku tidak peduli
melihatmu menangis seperti yang aku lakukan waktu itu
"kamu boleh kembali, sayang. tapi, sekarang aku ingin pergi. boleh?"
Selasa, 30 Desember 2014
-
kita adalah dua orang berbeda
yang tak saling mengenal untuk perlahan memiliki debar yang sama
debar yang berpacu karena cinta
cinta yang perlahan menghadirkan rindu
rindu yang kadang menghadirkan kamu dalam,
bentuk bayang nyata padahal
itu hanya imajinasiku saja?
apakah memang begitu cara rindu menggila?
yang tak saling mengenal untuk perlahan memiliki debar yang sama
debar yang berpacu karena cinta
cinta yang perlahan menghadirkan rindu
rindu yang kadang menghadirkan kamu dalam,
bentuk bayang nyata padahal
itu hanya imajinasiku saja?
apakah memang begitu cara rindu menggila?
Selasa, 04 November 2014
Aku
Aku mengada debu pada sebuah barangkali
Diantara angan dan asa yang diharap nyata
Menyeka linang pada segelintir yang tumpah
Mencerca setiap kata yang terucap tanpa celah
Membinasakan detik demi waktu yang tersisa
Aku mengadu pada setiap yang mengganggu
Tertawa atas segala yang menduri kelabu
Menyipit dengan sendu mengelabui tawa
Menjadikan asa sebagai nyata
Dan mematikan nyata untuk sebuah angan
Menyeka linang pada segelintir yang tumpah
Mencerca setiap kata yang terucap tanpa celah
Membinasakan detik demi waktu yang tersisa
Aku mengadu pada setiap yang mengganggu
Tertawa atas segala yang menduri kelabu
Menyipit dengan sendu mengelabui tawa
Menjadikan asa sebagai nyata
Dan mematikan nyata untuk sebuah angan
Awan Hitam & Cahaya
Awan hitam menggelayuti pagi
Menenggelamkan niat mentari untuk menyapa,
Embun pagi yang sedang bercerita tentang malam panjangnya
Sinarnya mulai menyeruak, jatuh mengangin pada tanah tak bertuan
Diantara beberapa puing batu dikerubungi lumut
Meronta menjelajahi lebih dalam ke bawah sana
Meminta untuk menerobos,
Menapaktilasi tempat yang sudah terilas
Mencari lorong waktu untuk enyah ke masa lalu
Demi menembus jutaan tahun cahaya
Awan hitam mewajah cemburu
Memeluk langit meniadakan cahaya
Agar cahaya tetap tinggal
Dan berhenti mencari jejak masa lalu
Yang pada akhirnya hanya membuat kelu diserta pilu
Sabtu, 27 September 2014
Matamu
Aku suka menatap langit malam
Serupa gelap matamu yang menyapa sepi
Aku suka menatap rona senja
Serupa binar matamu ditengah jelaga
Serupa gelap matamu yang menyapa sepi
Aku suka menatap rona senja
Serupa binar matamu ditengah jelaga
Kesedihan
Bibir ranumnya tersenyum dengan manis
Siapa yang tahu itu hanya sebuah pemanis
Matanya berbinar sepi
Memandang lekat pada hati yang telah mati
Siapa yang tahu itu hanya sebuah pemanis
Matanya berbinar sepi
Memandang lekat pada hati yang telah mati
Derita Nestapa
Kaki lusuhnya berlumur darah
Tak sengaja menginjak duri yang terbawa angin
Meringis, menangis
Namun bukan karena perih di kakinya
Luka ini tak seberapa dari beban hidupnya
Ia tak kuat menahan derita nestapa
Dan memilih mati dirundung sepi
Tak sengaja menginjak duri yang terbawa angin
Meringis, menangis
Namun bukan karena perih di kakinya
Luka ini tak seberapa dari beban hidupnya
Ia tak kuat menahan derita nestapa
Dan memilih mati dirundung sepi
Gina Zahra Anjani
Bayang
Bayang itu semu menutup pilu
Menghilang setelah terguyur sepi
Kemanakah perginya bayang itu?
Bayang ringkih yang terukir di dinding yang hampir roboh
Bayang itu tak pernah lagi kembali
Setelah puas membuat retak dinding yang tak berdosa
Dinding yang hampir roboh itu semakin rapuh
Semakin berdebu
Seperti bayang yang terus berlalu
Dan mati ditengah sepi
Menghilang setelah terguyur sepi
Kemanakah perginya bayang itu?
Bayang ringkih yang terukir di dinding yang hampir roboh
Bayang itu tak pernah lagi kembali
Setelah puas membuat retak dinding yang tak berdosa
Dinding yang hampir roboh itu semakin rapuh
Semakin berdebu
Seperti bayang yang terus berlalu
Dan mati ditengah sepi
Barangkali
Barangkali aku hanya butir diantara milyaran pasir
Menyatu bersama air hilang di samudera
Membelah laut menyeiramakan detak
Barangkali aku hanya tepian daun yang terjerat duri
Gelisah meronta mencabut diri
Meniadakan rasa menghilangkan asa
Menyatu bersama air hilang di samudera
Membelah laut menyeiramakan detak
Barangkali aku hanya tepian daun yang terjerat duri
Gelisah meronta mencabut diri
Meniadakan rasa menghilangkan asa
Rabu, 06 Agustus 2014
Hujan Musim Kemarau
Ada apa dengan hujan di musim kemarau?
Tiba-tiba menjelma menjadi sebuah tanya tanpa ada sahut
Serupa hati yang membeku dalam sebuah pelukan
Menusuk tiap hening yang tersisa
Hening yang sengaja kau ciptakan
Hening yang senantiasa meninabobokan rindu
Tapi tahukah engkau, bahwa rindu ini tak mudah dininabobokan
Mungkin tidak ada lagi kata dalam ucapmu
Hanya sebuah isyarat pertanda pilu
Dan aku yakin itu bukan sebuah kelu
Mengapa kau ciptakan hujan di musim kemarau?
Layak ruang yang kau ciptakan dalam sebuah peti mati yang sempit
Memaksa untuk menepi hingga lebur yang tersisa
Bagiku kamu adalah hujan
Tapi bagimu, aku hanyalah kemarau
Kemarau membutuhkan hujan
Tapi sepertinya hujan tidak menginginkan kemarau
Serupa benang tak kuat menahan layangan tinggi,
Aku mencoba membiarkanmu pergi
Membiarkan hujanmu membanjiri kemarauku
Sampai pada akhirnya,
Kau tenggelam dalam hujan yang kau buat
Aku tak bisa berbuat apa-apa
Karena pada saat itu,
Kemarau telah pindah untuk berbagi musim dengan hujan yang lain
Langganan:
Postingan (Atom)
Are Bulan November
“Lalu, apa yang kau ketahui tentang Kelana?” “Tidak ada.” Kau mengembuskan asap rokok dengan hati-hati. Dengan senyum tipis di bibirmu, kau...